Posdaya Tarusan Jaya Punya 7.500 Pisang Jantan

Editor: Mahadeva WS

152

PADANG PARIAMAN – Pisang jantan Pariaman, terkenal enak dan manis, sehingga disukai siapa saja. Mendapatkannya sangat mudah, banyak dijual di tempat keramaian oleh wanita tangguh, yang semuanya adalah warga Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. 

Bagi yang bepergian dari Padang ke Bukittinggi, atau sebaliknya, dipastikan dapat menyaksikan keberadaan wanita tangguh penjual pisang jantan. Mereka mudah ditemui di sepanjang perjalanan. Terbanyak berada di Lubuk Alung, Sicincin, dan jalan sampai ke Bukittinggi. Mereka sangat gigih menjojokan (menjualkan) pisang jantan kepada siapa saja.

Aneh juga. Pisang jantan yang banyak terdapat di Padang Pariaman, yang memasarkan semuanya adalah wanita tangguh. Mereka menguasai penjualan pisang jantan dari Padang sampai ke Bukittinggi. Tidak seorangpun penjual pisang jantan adalah lelaki. Namun, yang mengembangkan dan menanam pisang Jantan, semuanya adalah lelaki tangguh. Lelaki yang giat dan rajin bekerja, mengolah tanaman pisang jantan.

Pisang jantan banyak dibudidayakan di sekitar Sicicin, Lubuk Alung dan Sintuk Toboh Gadang (Sintoga). Tiap hari ribuan pisang jantan dihasilkan di daerah ini. Khusus di Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, warganya tercatat yang paling gigih mengembangkan pisang jantan. Mereka yang mengembangkan usaha tersebut tergabung sebagai anggota Posdaya Tarusan Jaya Korong Rimbo Karanggo.

Di daerah tersebut, ada 40 orang anggota Posdaya Tarusan Jaya. Mereka pada awalnya, hanya menanam 1.200 rumpun pisang. Saat ini sudah beranak pinak dan terus berkembang. Diperkirakan sudah ada sekira 7.500 batang pisang jantan yang dikelola Posdaya Tarusan Jaya.

Panen pisang bisa dilakukan setiap hari. Dengan pembeli utama adalah ibu-ibu tangguh yang akan memasarkannya di secara khusus di jalur Padang-Bukittinggi. Mereka menjajakan pisang kepada penumpang kendaraan yang ramai di jalan negara tersebut.

Posdaya Tarusan Jaya, pada dasarnya bukan menghasilkan pisang jantan saja. Masih banyak produk pertanian lain yang dihasilkan seperti, pepaya dan ubi. Namun hasil pepaya dan ubi masih begitu murah harga jualnya. Hal demikian menjadi problema tersendiri bagi mereka.

Kelompok Posdaya tersebut, baru mampu menghasilkan, tapi masih belum memiliki kemampuan untuk memasarkan produk hasil pertaniannya. Contoh konkritnya, pisang jantan yang dapa diproduksi cukup banyak, masih dijual dengan harga murah. Untuk mengatasi masalah pemasaran, anggota kelompok diharapkan mampu bergotong-royong, membangun warung sederhana di pinggir jalan negara, antara Padang hingga Bukittinggi. Di lokasi tersebutlah, hasil pertanian itu dipasarkan.

Posdaya yang dipimpin, Jusman sebagai Ketua, Bainur Bendahara dan Samsuir sebagai Sekretaris, cukup memaklumi saran tersebut. “Sebenarnya, kalau Posdaya ini mampu membuat pondok sederhana di pinggir jalan negara, seperti diusulkan, pasti problema pemasaran tidak ada lagi akan dirasakan,” kata Jusman, Sabtu (25/8/2018).

Meski secara produksi pisang jantan cukup banyak. Tapi, sejumlah petani dan juga pedagang membutuhkan bimbingan dari lembaga pemerintahan. Hal ini tidak membuat Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Provinsi Sumatera Barat lepas tangan. Upaya pembinaan dilakukan sebagai komitmen Yayasan Damandiri melalui LKKS.

Ketua Umum Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Provinsi Sumatera Barat Nevi Zuairina/Foto: M. Noli Hendra

Ketua Umum LKKS Provinsi Sumatera Barat, Nevi Zuairina mengatakan, upaya yang dilakukan oleh Posdaya Tarusan Jaya, suatu hal yang patut diapresiasi. Sistem keuntungannya dari usaha tersebut berbalik, dari petani dan dijalankan oleh pedagang. “Soal pembimbingan terkait persoalan yang dihadapi, akan kita bantu. Karena program kita dari LKKS pembinaan Posdaya rutin dilakukan setiap bulannya ke berbagai Posdaya di Sumatera Barat,” jelasnya.

Pembinaan yang dilakukan diantaranya, memberikan solusi terkait persoalan yang dihadapi oleh Posdaya. Misalnya, persoalan minimnya kesadaran masyarakat menjaga lingkungan. LKKS memberikan cara kepada Posdaya, tentang menyosialisasikan pentingnya menjaga lingkungan. Hal ini mengingat peran Posdaya di desa menjadi ujung tombaknya atau perpanjangan tangan dari pemerintah.

LKKS merupakan lembaga non pemerintah, bersifat terbuka, independen serta mandiri. Keberadaanya dibentuk ditingkat nasional, provinsi maupun kabupaten dan kota, giat melakukan koordinasi, dalam rangka pengentasan dan pengurangan dampak kemiskinan. Untuk itu, LKKS fokus melakukan pembinaan.

“Setiap daerah di Sumatera Barat ini beragam persoalan masyarakatnya. Jadi semenjak dibentuknya Posdaya di Sumatera Barat melalui kerjasama Yayasan Damandiri ini, kalau yang tinggal di kawasan pinggiran pantai, kebanyakan persoalan kebersihan, seperti tidak mempunyai jamban yang bersih. Kalau yang tinggal di kawasan daerah perbukitan, persoalannya ekonomi. Hal ini telah kita pelajari, makanya LKKS fokus melakukan pembinaan,” sebutnya.

Menurutnya, LKKS belum lagi mengumpulkan data tentang kondisi kemiskinan di Sumatera Barat, semenjak adanya peran Posdaya di seluruh daerah di Sumatera Barat. Namun, Nevi memperkirakan, sejauh ini dampak dari peran Posdaya cukup mempengaruhi berkurangnya angka kemiskinan di Sumatera Barat.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.