Prestasi Para Atlet Pencak Silat Hasil Latihan Panjang

Editor: Koko Triarko

1.925
Manajer Atlet Pencak Silat Indonesia, Edhy Prabowo. -Foto: Sri Sugiarti.
JAKARTA – Manajer Atlet Pencak Silat Indonesia, Edhy Prabowo, mengucap syukur cabang olah raga pencak silat meraih delapan medali emas pada final Asian Games 2018, yang digelar di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (27/8/2018).
Menurutnya, target empat medali emas dari pemerintah telah tercapai. Begitu juga target delapan medali emas dari Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia, Prawobo Subianto, tercapai pada final hari ini.
“Target delapan medali emas pesan Pak Prabowo, saya tidak menyangka hari ini terpenuhi. Masih ada tanding lagi Rabu (29/8/2018) besok, semoga ada tambahan lagi supaya memperkaya medali emas,” kata Edhy, ditemui usai pertandingan di area Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, Senin (27/8/2018) sore.
Menurutnya, Prabowo memberikan semangat perjuangan kepada atlet pencak silat. Apalagi, pencak silat ini merupakan budaya Indonesia, maka beliau sebagai Ketua Umum PB IPSI, berpesan agar atlet pencak silat untuk sungguh-sungguh berlatih hingga sukses berlaga di Asian Games 2018.
Ini terbuktikan, tambah dia, dari delapan pertandingan atlet pencak silat Indonesia meraih medali emas, semua tersapu habis.
Prestasi ini, menurutnya, tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena melewati proses panjang, yakni 3-4 tahun berlatih tanpa putus. Bahkan, beberapa kali ganti pelatih, di mana kesemuanya adalah mereka yang pernah berlaga di kejuaraan nasional dan dunia.
Para atlet pencak silat yang saat ini meraih medali emas juga sebelumnya berlaga di berbagai laga pencak silat kejuaraan nasional, Pekan Olahraga Nasional (PON), Sea Games di Malaysia dan kejuaraan dunia lainnya, pun telah meraih prestasi.
“Jadi ini proses panjang, dan alhamdulillah hari ini anak-anak (atlet pencak silat) bisa membuktikan. Jujur saja banyak kejutan-kejutan dari mereka,” ujarnya.
Seperti Iqbal Chandra Pratama, jelas Edhy, di luar perkiraan, tapi dia sangat luar biasa berlaga memberikan yang terbaik untuk Indonesia dengan meraih medali emas.
Iqbal, menurutnya, termasuk emas minus target sebenarnya, yakni perak atau perunggu. Karena di babak pertama dia menang, tapi di babak kedua tertinggal cukup jauh. Namun di babak ketiga menang lagi, hingga akhirnya dia sukses meraih medali emas.
“Medali emas yang diraihnya adalah bukti kepercayaan diri Iqbal dengan track record permainan silat yang mumpuni,” tandas Edhy.
Kalau Sarah Tria Monita, tambah dia, adalah atlet putri pencak silat yang memang diperhitungkan atau ditargetkan meraih medali emas. Karena dalam setiap ajang kejuaraan selalu meraih prestasi. Kini, pada Asian Games 2018, Sarah kembali meraih medali emas.
“Iqbal dan Sarah itu pengganti baru. Mereka komitmen memberikan yang terbaik untuk pencak silat Indonesia. Medali emas itu hadiah pernikahan mereka,” ujar Edhy.
Dengan meraih delapan medali emas, Edhy menegaskan, tidak ada kecurangan di pertandingan final pencak silat Asian Games 2018 yang berlangsung Senin (27/8/2018).
Menurutnya, tudingan kontingen Malaysia ketika atlet mereka memilih mundur, karena merasa dicurangi, bisa dipatahkan. Karena semua pertandingan terekam dalam CCTV dan bisa dilihat ulang secara keseluruhan, dan publik atau penonton juga bisa melihat.
Seperti diketahui, pihak Malaysia merasa penilaian juri tidak adil ketika berlangsungnya duel antara atlet Malaysia, Mohd Al Jufferi Jamari dengan atlet Indonesia, Komang Harik Adi Putra di kelas E (65-70 Kg).
Yakni, jelang berakhirnya pertandingan hanya menyisakan waktu dua detik, Jufferi memutuskan mundur, karena tidak mendapatkan nilai. Padahal, dia merasa tinju diarahkan mengenai tubuh Komang. Panitia pencak silat Asian Games menyatakan, Komang menang teknik dengan skor 4-1.
“Tidak ada kecurangan, semua terekam dalam digital CCTV. Saya pastkan atlet Indonesia bermain dengan kualitas tinggi,” tutupnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.