Prevalensi Diabetes di Jakarta Capai 2,5 Persen

Editor: Mahadeva WS

221
Kepala Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta Drs. Khafifah Any – Foro Ranny Supusepa

JAKARTA – Prevalensi diabetes melitus di DKI Jakarta mencapai 2,5 persen. Angka tersebut berdasarkan, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, kasusnya sudah memapar penduduk berusia di bawah 20 tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta, Khafifah Any menyatakan, angka tersebut lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata nasional, yaitu 1,5 persen yang didapatkan dari hasil wawancara. Kalau dari hasil pengecekkan laboratorium, angka ini jauh lebih tinggi yaitu 6,9%.

“Menurut data pada semester pertama 2018, penduduk Jakarta yang usianya diatas 15 tahun ada sekitar 7,7 juta orang, jadi ada sekitar 542.000 orang yang berpotensi mengidap diabetes, jika dilakukan tes lab. Menurut angka ini terlihat, potensi diabetes di Jakarta sudah tinggi,” kata Khafifah, Sabtu (25/8/2018).

Khafifah menyatakan, Pemprov DKI jakarta akan melakukan pemetaan dengan lembaga Novo Nordisk. Dari pemetaan tersebut, akan ditentukan langkah dan evaluasi, untuk menentukan kebijakan yang tepat. Dinas Kesehatan DKI Jakarta sudah melakukan tindakan pencegahan dini, melalui puskesmas, melalui Pos PTM dan posbindu.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta tidak menetapkan target tapi kegiatan tersebut. Namun demikian, upaya sosialisasinya dilakukan secara terus-menerus, untuk menekan tingkat penderita diabetes. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta adalah mengupayakan sarana dan prasarana kota yang mendukung kegiatan hidup sehat.

“Misalnya yang dilakukan Pemprov adalah menjalankan jarak antara hotel dan membuat trotoar yang lebar ini adalah upaya agar masyarakat mau bergerak. Begitu juga dengan program germas yang membuat masyarakat lebih konsen kepada kesehatannya,” pungkas Khafifah.

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta melakukan penandatangan naskah kerjasama kampanye Cities Changing Diabetes (CCD) dengan Novo Nordisk. Upaya tersebut, didorong fakta lingkungan perkotaan, setiap rumah memiliki dua atau tiga orang yang hidup dengan diabetes. Sebagian besar kasus diabetesnya, dipicu gaya hidup kurang sehat.

Berdasarkan data Diabetes Atlas Edisi 8, dari Federasi Diabetes Internasional, diperkirakan ada 10,3 juta orang menderita diabetes melitus di Indonesia. Dan di 2045, angka ini akan meningkat menjadi 16,7 juta orang.

Senior Vice President AAMEO Novo Nordisk, Frederik Kier menyatakan, gaya hidup masyarakat perkotaan, yang didukung oleh lingkungannya, menjadi salah satu penyebab diabetes berkembang dengan cukup cepat. “Semua negara memiliki masalah yang sama, yaitu banyak orang yang berpindah ke kota dan tidak melakukan olahraga, dan juga ada perubahan pola makan. Inilah yang mendorong pertumbuhan diabetes,” kata Frederik, usai penandatanganan kerjasama di Balaikota Pemprov DKI Jakarta, Jumat (24/8/2018).

Baca Juga
Lihat juga...