Randai Arai Pinang, Pelestari Budaya di Pesisir Selatan

Editor: Mahadeva WS

376

PESISIR SELATAN – Sejak berdiri di 2011 lalu, Sanggar Randai Arai Pinang Lampanjang, Kenagarian Rawang Gunung Malelo Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, menghadapi banyak rintangan, untuk tetap bisa eksis ditengah peradaban. 

Zaman yang serba canggih, menjadi pintu masuk kebiasaan luar ke Indonesia, termasuk ke Rawang Gunung Malelo Surantih. Serangan kemajuan, menjadi tantangan terberat dalam menghidupkan kesenian.

Bermula dari kecemasan kalangan anak muda di Kenagarian Rawang Gunung Malelo Surantih, melihat generasi muda mereka dibius oleh Boy band dan Girls band Korea. Kelincahan menari dan bernyanyi Boy Band dan Girls band, menjadi bahan percontohan generasi ketika itu.

Bahkan, generasi muda di Rawang Gunung, telah membentuk grup-grup kecil untuk mengikuti tren tersebut. Menghidupkan gadged, lalu menari sembari mengikuti musik dan garakan personil boy band yang mereka sukai. Hal tersebut menjadi bagian dari keseharian mereka. Tak memikirkan baik buruk, tabu atau tidak mereka sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan.

Kebiasaan itu menimbulkan kecemasan ditengah masyarakat, termasuk sekelompok anak muda di Rawang Gunung Malelo. Mereka akhirnya membentuk Sanggar Seni yang diberi Sanggar Randai Arai Pinang. Sanggar ini berusaha membendung kebiasaan generasi muda yang mabuk akan Boy band dan Girls band.

Memang tidak mudah, hadir ditengah zaman yang canggih berbagai tantangan yang dihadapi Sanggar Randai Arai Pinang. Mulai dari kurangnya dukungan dari masyarakat, keterbatasan biaya untuk latihan, dan kecanduan generasi akan budaya baru dari tontonan. “Kami mulai kegiatan dengan modal Rp8.000, minta sumbangan kepada masyarakat, sampai memborong padi warga, dan upahnya di jadikan kas sanggar,” tutur Debi Virnando, salah seorang pendiri Sanggar Randai Arai Pinang, Sabtu (25/8/2018).

Seiring berjalannya waktu, tidak sedikit nada miring, dan sumbang muncul dari masyarakat. Hal tersebut tidak menjadi beban, justru dimanfaatkan sebagai penyemangat untuk maju, dan menghadirkan sebuah tontonan yang mendidik ditengah masyarakat.

Tiga bulan berjalan, latihan Randai semakin diminati masyarakat. Mulai dari remaja hingga anak-anak tertarik dengan kegiatan tersebut. Mulai dari anggota yang semula berjumlah belasan orang, akhirnya bertambah menjadi puluhan. Randai Arai Pinang semakin diminati, anggota pun sudah bisa memainkan Randai dengan baik.

Sanggar Randai Arai Pinang menjadi tempat yang memikat dan menarik bagi generasi muda. Mereka yang biasanya sibuk dengan boy band telah membaur dan bergabung menjadi anggota sanggar. Saat itu Randai Arai Pinang mencoba membuat sebuah perlombaan tingkat kecamatan, dan berlanjut ke tahun berikutnya menggelar Festival Randai se-Kabupaten Pesisir Selatan.

“Festival dimulai dari 18 sampai 27 Agustus, merupakan kelanjutan Festival Randai tahun-tahun sebelumnya. Selain Festival Randai, tahun lalu kami mengadakan Festival Rabab se-Kabupaten Pesisir Selatan. Kegiatan dengan mencari momen hari besar seperti 17 Agustus, tahun baru dan Ulang tahun Sanggar,” tambah Debi.

Ketua sanggar Randai Arai Pinang, Ramadhan mengatakan, Sanggar Randai Arai Pinang juga membentuk sasaran-sasaran baru di kampung tetangga, dengan membuka cabang. Selain kesenian, anggota juga dibekali dengan ilmu agama.  “Sanggar juga membentuk remaja masjid, kami juga membuat aturan bagi anggota yang tidak hadir dalam kegiatan remaja masjid tidak dibolehkan ikut latihan,” katanya.

Mawas tokoh masyarakat setempat menyebut, kehadiran Sanggar Randai Arai Pinang tidak hanya membius generasi muda akan kesenian. Keberadaanya juga merubah pandangan Nagari lain ke Nagari Rawang Gunung Malelo Surantiah. Berbagai even besar, sudah dilaksanakan dengan menghadirkan nama-nama besar di Sumbar. “Dulu kampung kami ini dipandang sebelah mata, kehadiran sanggar dan generasi muda, kini kampung ini disegani. Kami merasa bangga mereka telah jadi orang dan bisa memajukan kampung halaman,” ungkap Mawas.

Senada dengan Mawas, Walinagari Rawang Gunung Malelo Surantiah, Afrizal mengapresiasi kegiatan anak Nagari dengan menghidupkan kesenian tradisional Minangkabau. “Kini di tengah generasi muda lainnya sibuk dengan huru-hara generasi muda kami hadir dengan kegiatan yang positif,” ujarnya.

Baca Juga
Lihat juga...