Ratusan Driver Grabcar di Tulungagung Mogok

1.495
Ilustrasi -Dok: CDN
TULUNGAGUNG – Ratusan mitra kerja layanan jasa angkutan daring untuk jenis roda empat, Grabcar, di wilayah Tulungagung, Jawa Timur, melakukan aksi mogok kerja sebagai protes atas penurunan insentif sepihak oleh manajemen.
Gerakan mogok kerja sehari disuarakan komunitas driver (sopir) online mulai tersebar sejak Sabtu (11/8) sore, dan terus tersebar hingga Minggu (12/8) siang.
Dalam pesan berantai yang disebar melalui jaringan komunikasi WhatsApp, pihak yang mengatasnamakan sebagai perwakilan mitra driver online seluruh Indonesia, menyerukan ajakan kepada seluruh mitra driver online di daerah-daerah untuk mematikan aplikasi.
Pemberitahuan mogok jasa layanan angkutan daring disebut berlaku pada Minggu (12/8), mulai pukul 00.00 WIB hingga 24.00 WIB.
“Ya, mayoritas mitra driver online di Tulungagung hari ini ikut aksi mogok, sesuai gerakan yang digalang kawan-kawan ­di daerah-daerah lain, termasuk Surabaya dan Jakarta,” kata pengurus paguyuban Driver Online Tulungagung (DoTag), Afanny Rachmadiansyah.
Saat dicek di aplikasi layanan Grab untuk konsumen/pengguna jasa, memang masih ada dua hingga empat (2-4) kendaraan yang terpantau aktif beroperasi. Namun, menurut Afanny dan mitra driver online Grabcar yang beroperasi di Tulungagung, jumlah itu jauh di bawah jumlah driver grab setempat yang mencapai 300 orang lebih.
“Gerakan ini bersifat sukarela, bentuk solidaritas sekaligus protes kami bersama atas kebijakan sepihak manajemen Grab yang menurunkan insentif sepihak. Kami tentu tidak bisa memaksakan kehendak bagi yang tetap aktif, karena ini menyangkut urusan perut dan kebutuhan lainnya personal driver,” kata Fanny.
Gerakan mogok kerja ratusan mitra driver online Grab di Tulungagung ini merupakan yang kedua dalam kurun sepekan atau delapan hari terakhir.
Aksi serupa sebelumnya sudah dilakukan oleh komunitas driver Grab Tulungagung pada Minggu (5/8), mulai pukul 00.00 WIB hingga 24.00 WIB.
“Yang Minggu lalu gerakan murni lokal Tulungagung. Kalau hari ini seruan mogok bersama jejaring komunitas mitra driver online se-Indonesia,” katanya.
Mayoritas mitra driver jasa layanan daring Grab di Tulungagung, mengaku kecewa dan dirugikan oleh kebijakan manajemen Grab yang menurunkan sepihak insentif.
Jika dulu saat awal dibukanya jaringan layanan Grab di Tulungagung, satu mitra driver bisa mendapat penghasilan rata-rata Rp8 juta hingga Rp12 juta/bulan, kini untuk mencapai penghasilan Rp4 juta/bulan harus kerja ekstra dari pagi hingga malam (pukul 05.00 WIB hingga 24.00 WIB) dengan target 15 jasa tarikan.
Disebutkan, penurunan drastis pendapatan itu disebabkan kebijakan insentif dari manajemen Grab untuk mitra driver yang terus dipangkas.
“Dulu untuk minimal target tarikan (mengangkut penumpang sekali jalan) tujuh jasa layanan insentif adalah Rp110 ribu, bahkan sempat Rp140 ribu awalnya, namun kemudian terus turun bertahap dengan rentang selisih pengurangan Rp10 ribu. Sekarang insentif untuk tujuh layanan jasa angkutan tinggal Rp30 ribu,” kata Fanny.
Ada target capaian bertingkat dengan insentif berbeda diberlakukan manajemen Grab. Misalnya, setelah target tujuh tarikan tercapai, insentif tambahan akan diberikan jika dalam rentang sehari mulai pukul 05.00 WIB hingga 24.00 WIB, mitra driver online bisa melayani 11 permintaan jasa angkutan daring, 15 tarikan, 20 jasa layanan dan seterusnya.
Semakin banyak yang ditarik, semakin tinggi level target dicapai, insentif yang dijanjikan manajemen akan segera mengucur ke rekening mitra driver online.
Sayangnya, sama halnya dengan penurunan insentif pada rasio target tujuh tarikan, insentif untuk capaian 11 atau 15 jasa layanan dan seterusnya juga diturunkan oleh pihak manajemen Grab, tanpa pemberitahuan lebih dulu ke pihak mitra driver di lapangan. Akibatnya, pendapatan mitra driver grab turun drastis. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...