Ratusan Kura-Kura Moncong Babi Dipulangkan ke Indonesia

133
kura-kura moncong babi - dokumentasi wwf.id

JAKARTA – Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Hong Kong, melakukan repatriasi, atau pemulangan 596 individu kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) dari Hong Kong ke Indonesia.

“Kura-kura ini diberangkatkan dari Hong Kong menuju Jakarta, Jumat (24/8/2018), untuk kemudian diterbangkan ke habitat aslinya di Sungai Kao, Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, Papua, untuk proses adaptasi dan pelepasliaran ke habitat alamnya,” jelas Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Djati Witjaksono Hadi, Sabtu (25/8/2018).

Pemulangan tersebut, merupakan hasil kerjasama antara KLHK, CITES Management Authority di Hong Kong, CITES Management Authority di Indonesia, Direktorat Jenderal Bea Cukai, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Balai Karantina Pertanian, Kementerian Perdagangan serta didukung oleh The Kadoorie Farm and Botanic Garden (KFBG) Hongkong, dan Yayasan IAR Indonesia.

Pemerintah Indonesia mengapresiasi kerja sama semua pihak, dalam mengatasi kejahatan perdagangan illegal tumbuhan dan satwa liar. Dengan upaya tersebut, satwa yang telah keluar Indonesia, dapat dikembalikan.

Kura-kura endemik Papua tersebut, diselundupkan secara illegal dari Indonesia ke Hong Kong pada 12 dan 27 Januari 2018. Otoritas keamanan bandara di Hong Kong menemukan kura-kura tersebut dalam keadaan hidup, di dalam sebuah koper penumpang dalam penerbangan Jakarta-Hong Kong.

Pelaku penyelundupan adalah Warga Negara Indonesia, dan telah menjalani peradilan di Hong Kong. Tersangka menghadapi tuntutan hukuman, yang telah disampaikan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Hong Kong, denda sebesar 20.000 dolar Hong Kong.

Habitat kura-kura moncong babi adalah rawa dan sungai. Sebarannya hanya terdapat di tiga negara yaitu Papua bagian Selatan Indonesia, Papua New Guinea dan Australia bagian Utara. Di Pulau Papua Bagian Selatan, sebaran mereka meliputi Kabupaten Merauke, Asmat, Mappi, Bovendigoel, Mimika, Dogiyai, sampai ke Kaimana.

Kura-kura moncong babi terus terancam, akibat perburuan dan perdagangan ilegal. Permintaan yang tinggi juga semakin mempercepat kepunahannya. Di pasaran, kura-kura jenis ini diperjualbelikan untuk dijadikan hewan peliharaan, dan dikonsumsi karena dipercayai memiliki khasiat yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu.

Padahal selama ini belum ada bukti ilmiah mengenai hal tersebut. Hewan tersebut merupakan satwa yang dilindungi, berdasarkan Peraturan Menteri LHK RI No.P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018, tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Secara internasional, kura-kura jenis ini berstatus vulnerable atau rentan. Di dalam redlist International Union Conservation Nature (IUCN) dan masuk dalam kategori Appendix II oleh Convention International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES). Hal tersebut berarti, setiap perdagangannya dikendalikan melalui kuota. (Ant)

Lihat juga...

Isi komentar yuk