Remy Sylado: Pelukis Berani Berbeda Pendapat

Editor: Mahadeva WS

362
Remy Sylado (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Yapi Panda Abdiel Tambayong atau lebih dikenal dengan nama pena Remy Sylado, termasuk seniman serba bisa. Dikenal dengan karya sastranya, bermain film, teater, musik, melukis dan juga seorang pengamat kebudayaan.

Pemikiran dan pengetahuan yang dimiliki cukup luas. Pemikiran yang kritis selalu muncul, setiap kali membahas sebuah karya, terlebih karya seni rupa. “Dalam kesenian, terutama seni rupa, setiap orang harus berbeda pendapat, berbeda perasaan, berbeda pikiran, yang membuat karya setiap orang akan berbeda, “ kata Remy Sylado mengawali pemaparannya sebagai pembicara dalam acara diskusi budaya Indonesia dalam Perhelatan Dunia bertema Kebudayaan sebuah Diplomasi di Balai Budaya, Jakarta Pusat, Sabtu (25/8/2018).

Lelaki kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1945 itu melihat, perbedaan menjadi wujud dari seni rupa Barat. “Dari sejarah kesenian Barat yang membuat kita mengenal aliran-aliran seperti di antaranya realisme, abstrak, ekspresionis, dan lain-lain,” terangnya.

Menurut Remy, seni rupa sebagai wujud seni yang kasat mata, bukan seperti seni sastra yang harus berpikir karena kata-kata, atau seni musik dengan nada-nada. “Lukisan menjadi penting karena ada warna disitu,” tandasnya.

Remy menyebut para perupa harus punya pemikiran deskriptif. Dulu, Remy menyebut,  eksistensi perupa sangat dihormati para pejabat. Bahkan sampai presiden. “Kapan perupa akan kembali sama kedudukannya dengan para pejabat, bahkan sampai presiden,” ujarnya.

Remy menilai, pejabat atau presiden semua akan hilang. Namun tidak dengan perupa, Dia akan tetap abadi. “Yang membanggakan Indonesia adalah fenomena karya seni rupa, seperti di antaranya Mahakarya Candi Borobudur dan Candi Prambanan,” cetusnya.

Zaman menurut Remy sudah beda. Pelukis dalam berkarya membutuhkan modal besar, seperti beli kanvas, cat, dan bingkai. Sehingga kemunculan pelukis komersial tidak bisa dinafikan. “Tapi lukisan tidak semata-mata laku tidaknya, melainkan di balik gagasan dalam proses kreatif untuk membuat lukisan itu yang harus dihargai, “ tegasnya.

Dengan kondisi tersebut, semestinya para pelukis mau membaca, agar dapat mendiskripsikan karya lukisannya dengan baik. “Perlu juga dirangsang untuk pelukis harus berani berbeda pendapat, bukan hanya soal laku tidaknya karya lukisan, “ pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...