Review Film DOA, Aksi Kocak Tiga Sahabat

Editor: Mahadeva WS

420

JAKARTA – Anggy Umbara, termasuk sutradara yang tiada henti untuk membuat gebrakan baru dengan film garapannya. Setelah dengan Comic 8 yang mendapat antusias luar biasa dari masyarakat, kemudian, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! yang laris meraih 6.858.616 penonton.

Kini Anggy kembali dengan film DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh. Sebuah film yang diadaptasi dari kartun populer, yang rutin dimuat di sebuah koran ibukota. Kisahnya, tentang Doyok (Fedi Nuril), Otoy (Pandji Pragiwaksono), Ali Oncom (Dwi Sasono), tiga sosok sahabat berbeda latar belakang, tapi punya kesamaan nasib di kerasnya kehidupan Ibukota, yaitu nasib sial.

Ketiga karakter kocak, mulai dari Doyok yang begitu menohok fenomena bujang lapuk. Orang yang sudah berumur, tapi belum juga memiliki pasangan, alias hidup sendiri. Doyok identik dengan surjan-blangkon-nya, adalah seorang pemuda yang lugu, naïf, jujur, dan bokek, punya cita-cita selangit. Yaitu ingin jadi anggota legislatif,  Doyok dikenal kritis mengkritik fenomena sosial dan politik.

Kemudian, Otoy, seorang suami yang pengangguran dan mengandalkan pendapatan istrinya yang pintar cari duit. Belum lagi mertuanya sangat kaya, punya usaha kontrakan banyak. Ia memang selalu mempunyai akal untuk terus ngerjain istri dan mertuanya demi keuntungan dirinya. Tapi ujung-ujungnya ia menjadi bulan-bulanan istrinya, akibat tidak mau kerja.

Terakhir, Ali Oncom, yang dikenal sebagai playboy kampung, dengan gaya selangit, sok keren dan suka petantang-petenteng alias sok jagoan. Ketawanya khas dan lepas. Matanya sinis suka merendahkan orang lain. Profesinya menjadi seorang tukang ojek part time, dan mata keranjang.

Setiap melihat perempuan cantik seksi, Ali Oncom langsung tertarik, dan berbusa-busa mengeluarkan rayuan gombal. Apalagi pada perempuan yang sudah janda, hingga akhirnya dijuluki sebagai pemburu janda. Persamaan nasib-lah, yang membuat mereka bersahabat. Ketiga memang banyak akal, tapi selalu berujung sial, karena tingkahnya yang semau gue.

Melihat Doyok yang sudah tua, usianya kepala empat tapi masih sendiri, Otoy dan Ali Oncom mengingatkan sahabatnya agar segera mencari jodoh. Tapi Doyok tidak peduli, namun malam harinya Dia bermimpi bertemu almarhum ibunya, yang mengingatkan untuk segera menikah.

Doyok masih tetap bersikap tidak peduli, sehingga ibunya semakin sering menghantui dengan wujud diri sebagai pocong. Kemana pun Doyok lari, sang ibu selalu muncul berwujud pocong, dan selalu mengingatkannya untuk menikah. Karena didesak-desak terus ibunya untuk segera menikah, Doyok akhirnya menyambut baik tawaran Otoy dan Ali Oncom untuk mencarikan jodoh.

Kedua sahabat itu akhirnya melakukan berbagai cara, agar Doyok punya pacar. Mulai membuat semacam kencan buta melalui biro jodoh di internet, menjodohkan Doyok dengan Ayu (Laura Basuki), tapi ternyata Ayu bukan perempuan tulen alias waria. Otoy dan Ali Oncom tak putus asa, dan berusaha untuk terus mencarikan jodoh sahabatnya. Hingga suatu hari, saat mau membuat KTP elektronik, Doyok melihat Suci (Titi Kamal), seorang pegawai kelurahan yang cantik. Doyok langsung tertarik, istilahnya, cinta pada pandangan pertama.

Karena Doyok pemalu, Otoy dan Ali Oncom membantu Doyok agar bisa dekat dengan Suci, tapi usahanya tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Banyak ujian dan halangan yang harus dihadapi, terutama dari Pak Camat yang diperankan Tarsan dengan sangat kocak. Mereka bertiga sampai terbawa ke berbagai petualangan yang awalnya kocak, tapi kemudian terjebak dalam situasi sulit yang tidak pernah mereka alami.

Film DOA kocak dan menghibur. Sutradara Anggy Umbara sukses menunjukkan gebrakan baru, yang berbeda dengan film-film sebelumnya. Anggy cukup kreatif dan jeli mengangkat sosok tokoh kartun Doyok, Otoy, Ali Oncom. Sayangnya, Anggy masih belum cukup baik, dalam penggarapan ketiga pemainnya dalam adegan bernyanyi. Ketiga artisnya masih tampak kaku, sehingga adegannya menjadi garing.

Akting Fedi Nuril kurang meyakinkan saat memerankan Doyok. Fedi tampak masih kaku, dan belum sepenuhnya melebur dalam karakter yang dilakoninya. Secara fisik Fedi tampak cukup mirip dengan kartun Doyok, tapi pembawaannya kurang natural alias masih tampak dibuat-buat. Meski demikian, Fedi yang banyak pengakaman dalam seni peran, tampak berusaha keras memerankan Doyok sebaik mungkin.

Kemudian, akting Pandji Pragiwaksono bisa dibilang cukup lumayan dalam memerankan Otoy. Sayangnya keadaan fisik tampak sekali dibuat-buat. Meski demikian, Pandji mencoba untuk berimprovisasi, lagak sok dari karakter Otoy diperankan cukup baik. Pengalamannya jadi komika cukup membantu penghayatan menjadi sosok Otoy.

Sedangkan, akting Dwi Sasono tampak pas memerankan karakter Ali Oncom. Selama ini, Dwi banyak memerankan karakter kocak dalam film-film yang dibintangi. Dwi mampu melebur dalam karakter Ali Oncom. Dalam film ini, kita tidak melihat Dwi, karena benar-benar memerankan  Ali Oncom dengan sangat gemilang.

Adapun para pemeran pendukungnya, terutama Tarsan yang biasa melawak dalam grup lawak Srimulat, memperkuat tampilan film komedi tersebut. Kemudian, dapat kita catat, akting dari Nirina Zubir yang total dan komikal, Titi Kamal sebagai pegawai kelurahan nan rupawan, dan Laura Basuki berperan bagus sekali sebagai waria bernama Ayu.

Menyaksikan film ini, kita mendapati Doyok, Otoy dan Ali Oncom, yang mewakili sosok-sosok nyata dalam masyarakat kita. Masyarakat yang memiliki beragam watak dan sifat. Kehadiran mereka menjadi gambaran nyata kondisi masyarakat kita yang memang banyak mengalami nasib sial, namun tetap menjalani dengan baik.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.