Rizal Ramli: Ekonomi Indonesia Makin Terpuruk

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

1.576

JAKARTA — Ekonom Rizal Ramli menilai, saat ini ekonomi Indonesia berada pada posisi yang rawan. Dengan sedikit goncangan dari negara lain, ekonomi nasional akan semakin menukik.

“Tapi kalau badan kita sehat, anti body kita kuat, apapun yang terjadi di seluruh dunia, paling kita cuma flu sedikit,” ujar Rizal dalam diskusi bertajuk “Ancaman Krisis Ekonomi” di Jakarta, Rabu (1/8/2018).

Dia menyebutkan, pada semester pertama 2018, neraca perdagangan negatif berada di posisi 1,6 miliar USD. Hal tersebut berdampak terhadap investasi asing yang menarik sahamnya dari pasar modal Indonesia. Bahkan fun manager di seluruh dunia juga tidak lagi membeli obligasi corporate Indonesia.

Kondisi inilah memaksakan Bank Indonesia (BI) menghabiskan dana lebih dari 12 triliun agar rupiah tetap berada di bawah Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Namun hal tersebut berdampak kepada defisit transaksi. Ini dibuktikan, kata Rizal, dengan pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang mengatakan bahwa 2018 ini defisit transaksi berjalan Indonesia akan minus 25 miliar USD.

“Saya salut dengan Pak Perry yang berani mengatakan penilaian yang benar. Dia telah memperhitungkan kenaikan harga oil, rue oil dan sebagainya,” sebutnya.

Rizal menyebutkan, anggaran negara terlihat memang bagus karena pengeluaran dikurangi dan bebannya sudah dipindahkan kepada PLN, Pertamina, dan rakyat, dalam bentuk harga import yang mahal.

Sehingga, tegas dia, kalau ada Menteri yang mengatakan rupiah turun seratus rupiah perdolar negara untung Rp 1,7 triliun hal tersebut tidak pada tempatnya.

“Saya mohon maaf, kasian rakyat jangan dibohongi. Kalau memang mau begitu anjlokin saja rupiah hingga Rp100.000 per dolar AS, supaya kita untung besar,” tukasnya.

Ia juga mengapresiasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mengakui bahwa ekonomi Indonesia sedang terpuruk. Indikator yang beliau sampaikan sama dengan para ekonom, bahwa defisit berjalan negatif, begitu juga dengan neraca perdagangan.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.