Rumbabe, Kreasi Ban Bekas, Membekas di Hati

Editor: Satmoko Budi Santoso

760

MAUMERE – Sebuah kreasi dan inovasi bisa datang dari sebuah ide melihat banyaknya barang bekas yang tidak terpakai. Padahal bisa dijadikan produk kerajinan tangan yang memikat dan memiliki nilai jual yang bisa menghasilkan uang.

Berangkat dari hal ini, Rumbabe atau Rumah Ban Bekas yang beralamat di Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kota Maumere, hadir memberikan sebuah terobosan dan mencoba menggaet minat konsumen akan sebuah perabotan kursi dan meja yang unik serta menarik dipandang mata.

“Awalnya, saya membutuhkan perabot untuk kantor dan saya melihat banyak ban bekas yang tidak terpakai. Lalu saya berpikir bagaimana caranya untuk membuat kursi dan meja dari ban bekas ini,” tutur Petrick S.M. Nurak, Selasa (7/8/2018).

Membatasi Pesanan
Kepada Cendana News, Petrick mengatakan, setelah mempelajari dari internet selama sekitar 2 hari, bulan Januari 2018 lalu dirinya pun mengajak kedua saudaranya untuk mulai merancang meja dan kursi dari ban bekas tersebut.

Setelah dibuat sendiri, sebutnya, ternyata hasilnya bagus sehingga dirinya pun membagi hasil karya tersebut kepada teman dan saudara lewat media sosial WhatsApp. Saudaranya pun ikut membagikan lewat media sosial Facebook sehingga banyak orang yang tertarik dan memesan.

“Setelah itu mulai banyak yang pesan baik dari Kota Maumere, beberapa daerah di Kabupaten Sikka maupun hingga ke Kabupaten Manggarai dan Nagekeo di Flores Barat. Bahkan ada juga teman yang dari Jawa hendak membeli dan memasarkan,” terangnya.

Produk kursi dan meja dari ban bekas yang diproduksi Rumbeba
di Kota Maumere. Foto : Ebed de Rosary

Untuk sementara, beber Petrick, Rumbeba hanya membatasi pesanan dari NTT saja terlebih dahulu. Sebab kalau pesanan dari luar NTT tentunya harus menghitung harga jualnya lagi karena ada biaya pengiriman.

Pihaknya khawatir, harga jual terlalu tinggi dan produknya tidak mampu bersaing di pasaran. Ini yang membuat dirinya masih belum melayani pesanan dari luar daerah dan memilih fokus melayani permintaan dari NTT terlebih dahulu.

“Selain ban bekas, kami juga sedang melayani pesanan meja yang dibuat dari drum bekas bahan bakar. Ada juga kursi tetapi sementara masih membuat meja saja untuk melayani pesanan dari konsumen,” bebernya.

Kendala dalam berusaha, terang Petrick, terkadang pihaknya kesulitan untuk mencari ban bekas, baik itu ban bekas dari mobil maupun sepeda motor. Hal ini disebabkan oleh ban yang dibutuhkan pun harus yang masih layak dimana kawatnya tidak menonjol ke luar.

Harga Terjangkau

Untuk harga, Rumbabe menjualnya sesuai dengan permintaan konsumen. Untuk satu set perabotan yang terdiri dari satu kursi panjang dimana terdapat 3 kursi, ditambah 2 kursi terpisah, dan satu meja dibanderol dengan harga Rp.1,5 juta, sementara satu set yang terdiri dari 2 kursi dan satu meja dihargai Rp650 ribu.

Juga ada satu set yang terdiri dari 3 kursi tempel (dua ban) dan sebuah meja seharga Rp1,2 juta, sementara untuk satu sofa yang terdiri dari satu kursi panjang dan dua kursi terpisah serta satu meja dihargai Rp1,5 juta. Untuk produk yang dilapisi dengan kain tenun ikat,
satu set harganya Rp2,5 juta.

Martinus Moan menambahkan, paling lama proses mengecatnya saja. Sebab proses pengeringannya mengandalkan sinar matahari. Untuk pengeringan butuh waktu sekitar 2 hari sementara merakit dan memasang tali juga bisa memakan waktu 2 hari.

“Paling lama saat menunggu cat benar-benar kering dan juga menganyam tali yang dipasang pada ban sebagai tempat duduk atau sandaran. Prosesnya pun sangat teliti dan dianyam satu per satu,” bebernya.

Memang, awalnya agak susah mengerjakan, sambung Martinus, tetapi setelah belajar dan mengerjakan sendiri lama kelamaan jadi terbiasa. Namun proses belajar terus dilakukan termasuk membuat model-model yang harus sesuai dengan permintaan konsumen.

Setelah banyak yang mengenal dan tertarik produk yang mereka hasilkan, dirinya ingin membuat lebih banyak lagi produk sehingga bisa dipajang di rumah dan di beberapa tempat lainnya agar lebih dikenal lagi dan pesanan semakin banyak.

“Untuk sementara, kami masih berjalan dengan modal sendiri sebab permintaan juga belum banyak. Kalau banyak pemesanan mungkin kami mulai berpikir untuk meminta bantuan pemerintah terutama dari segi modal usaha,” ungkap Petrick.

Petrick berpesan kepada kaum muda agar jangan malu berusaha dan dirinya yakin banyak anak-anak muda di Sikka yang mempunyai potensi dan kemampuan. Tapi belum mau mencoba berkreasi menghasilkan produk yang bisa bernilai jual.

Banyak potensi yang bisa dimanfaatkan, sebut pria yang juga seorang notaris ini, asal mau berkarya dan jangan malu. Mulailah mencoba menghasilkan karya yang dimulai dari yang kecil dahulu dan bila terus ditekuni pasti akan mendatangkan hasil positif. Daripada hanya sekadar
berdiam diri, dan tidak memiliki pekerjaan.

“Pemerintah juga harus melihat potensi yang dimiliki setiap perajin dan memberikan bantuan serta pendampingan untuk pengembangan usaha. Saya yakin, banyak potensi yang ada terutama di kalangan anak muda yang bisa dikembangkan untuk mendatangkan penghasilan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...