Rupiah Melemah, Kedelai Naik, Produsen Tahu Tempe Terpukul

Editor: Mahadeva WS

133

YOGYAKARTA – Nilai tukar Rupiah yang mencapai hampir Rp15 ribu per 1 Dolar AS, sejak beberapa waktu terakhir, memukul pelaku industri kecil seperti produsen tahu dan tempe di Sleman, DIY. 

Para perajin tahu dan tempe tersebut, mengandalkan bahan baku kedelai impor, untuk menjalankan usahanya. Naiknya harga kedelai impor, membuat keuntungan yang diperoleh semakin menipis. Seperti yang dialami produsen tahu, Sunardi, asal dusun Kepitu, Trimulyo, Sleman.

Sunardi menyebut, kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak beberapa waktu terakhir. “Harga kedelai naik menjadi Rp79ribu per kilogram. Padahal kemarin masih Rp77ribu per kilogram. Kalau normalnya kan Rp75ribu. Jelas itu merugikan, tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya, Selasa (7/8/2018).

Pekerja akan memotong tahu hasil produksi – Foto Jatmika H Kusmargana

Meski harga kedelai naik, para pelaku usaha kecil seperti Sunardi, mengaku tidak bisa menaikkan harga jual hasil produksinya. Mereka khawatir produknya tidak akan laku dijual. Sunardi mampu menghabiskan sekira 50 kilogram kedelai setiap harinya. “Kita tidak berani naikkan harga, karenan nanti tidak laku. Mengurangi takaran juga tidak bisa karena nanti pelanggan bisa pergi. Jadi kalau harga kedelai sedang naik seperti ini ya keuntungan kita yang mau tidak mau berkurang,” tambahnya.

Sunardi secara rutin memproduksi tahu dengan alat tradisional. Setiap hari Dia mampu memproduksi 1.500 potongan tahu. Satu potong tahu biasa dijual Rp400, dengan dijual ke sejumlah pasar tradisional di Sleman.

Produsen tempe, Bardani, mengaku juga melakukan hal yang sama. Dia harus membeli kedelai impor sebagai bahan baku pembuatan tempe, karena pasokan dalam negeri tidak mencukupi.  “Selama ini semua produsen tahu tempe ya hanya membeli kedelai impor asal Amerika. Karena kalau hanya mengandalkan kedelai lokal tidak akan mencukupi,” tandasnya.

Karena sangat bergantung pada kedelai impor asal Amerika, Bardani juga mengaku tidak bisa berbuat banyak, jika mendapatkan kualitas kedelai yang kurang baik. Padahal hal semacam itu kerap terjadi. “Kedelai impor belum tentu bagus. Kadang ada juga kedelai yang jelek. Kalau dibikin tempe atau tahu tidak jadi. Ya kalau seperti itu kita yang apes dan merugi,” ungkapnya.

Bardani setiap harinya mampu menghabiskan 50 kilogram kedelai impor untuk produksi tempe. Dari jumlah itu, bisa menghasilkan sekira 300 bungkus tempe, yang setiap bungkus di jual Rp5.000.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.