Saksi Beberkan Kecurangan Pilkada Sampang

Editor: Mahadeva WS

154

JAKARTA – Praktik kecurangan di Pilkada Bupati dan Wakil Bupati Sampang, diungkap saksi dalam persidangan Perselisihan Hasil Pemilu (PHP) di Mahkamah Konsitusi (MK). Saksi yang dihadirkan pemohon, pasangan Calon Hermanto Subaidi-Suparto menyebutkan, banyak temuan DPT ganda serta orang meninggal yang ikut mencoblos.

Saksi, Abdul Muhlis mengatakan, pelanggaran terjadi di TPS 2, Desa Anasoka. Pelanggaran yang dimaksud berupa DPT ganda atas nama Mat Tasan. Ada juga DPT ganda atas nama Kete, di TPS 3 Desa Pandan. Selain itu, juga ada warga bernama Mayah ikut mencoblos padahal sudah meninggal.

Saksi Pohon Abdul Muhlis dan M Ilyas dalam PHP Kepala Daerah Sampang – Foto M Hajoran Pulungan

“Jika ada pembagian form C-6 yang tidak sesuai dengan nama pemilih, terjadi di delapan TPS Kelurahan Temoran, Kecamatan Omben. Form C-6 tersebut mencapai jumlah 200 lembar, yang berakibat banyak pemilih tidak dapat ikut memilih,” ungkao Abdul Muhlis dihadapan majelis hakim MK, Jumat (31/8/2018).

Atas peristiwa tersebut, saksi mengaku sudah melapor ke PPS dan PPK. Namun hal tersebut tidak direspon. Laporan baru mendapakan respon saat sudah sampai di Panwas Kabupaten. Form C-6 yang ada ditarik, namun tidak ada solusi lanjutan. Kejadian tersebut menyebabkan, sejumlah pemilih yang hendak menggunakan e-KTP untuk mencoblos di atas jam 12 siang.

“Mereka digolongkan sebagai Daftar Pemilih Tambahan (DPT), akan tetapi, kenyataannya, banyak pemilih yang hendak mencoblos memakai e-KTP. Namun tidak diperbolehkan. Misalnya, di TPS satu hanya diperbolehkan 12 orang yang mencoblos, padahal yang menggunakan e-KTP ada 50 orang. Total untuk delapan TPS ada 100-an pemilih yang tidak dapat mencoblos,” tuturnya.

Muhlis juga menyebut, masalah lain yang terjadi adalah, penggunaan surat suara lebih banyak untuk pemilihan Bupati Sampang dibandingkan untuk pemilihan Gubernur Jawa Timur. Menurutnya, penggunaan surat suara untuk pilgub seharusnya lebih banyak, karena penduduk Jawa Timur yang berdomisili di Sampang namun bukan sebagai warga Sampang, tetap dapat menggunakan hak suara untuk memilih gubernur di Sampang.

“Tapi kalau lebih banyak surat suara untuk pemilihan Bupati Sampang, menjadi tidak wajar, Jumlah penggunaan surat suara pemilihan bupati ada 2.437 di lima kecamatan dengan penggunaan terbanyak di Kecamatan Kedundung hingga mencapai 1.540 surat suara,” jelasnya.

Saksi lainnya, M. Ilyas juga menyinggung keberadaan DPT ganda yang terjadi di Kecamatan Ketapang.  Ilyas menyebut, dua DPT ganda terdapat di TPS 2 dan TPS 6 Kecamatan Ketapang. Selain itu, ada juga partisipasi pemilih mencapai 100 persen di Desa Ketapang Timur TPS Delapan. Sementara tercatat, ada 12 orang pemilih tidak hadir, dan ada orang yang sudah meninggal untuk pemilihan di TPS itu. “Adanya pemilih yang mencoblos di desanya padahal bukan penduduk setempat. Dan ini kejadian di TPS empat Desa Trampon,” pungkasnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk