Sampah dan Limbah Jadi Permasalahan Serius di DAS Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

157

LAMPUNG — Perilaku dan kebiasaan membuang sampah dan limbah sembarangan ke sungai masih menjadi faktor penyebab pencemaran di Lampung Selatan. Bahkan Way Kuripan, Way Asahan, Tamiang, Tuba Mati, Pisang yang menginduk ke Way Sekampung masih menjadi lokasi favorit sebagai ‘tempat pembuangan akhir’ warga.

Hasanudin, bukan nama sebenarnya, warga Desa Gayam yang tinggal tak jauh dari sungai Tamiang pernah melakukan pemasangan plang larangan di sejumlah titik. Namun hal tersebut belum membuahkan hasil.

“Sungai Tamiang dari sumber mata airnya jernih, namun saat berada permukiman warga menjadi kawasan yang dipenuhi sampah,” terang Hasanudin saat ditemui Cendana News, Rabu (29/8/2018).

Sampah sebagian berada di tepi sungai yang persis ada pada jalan lintas provinsi. Jembatan yang berada di Jalan Lintas Sumatera bahkan pada bagian bawah kerap menjadi lokasi pembuangan favorit dan menimbulkan aroma tak sedap.

Aldo, salah satu anak dari belasan anak yang menjadikan sungai untuk bermain dan mencari ikan mengaku, sampah sudah menjadi pemandangan biasa. Ia bersama kawan sebaya saat memancing kerap mengangkat sampah plastik dari dalam air.

“Sudah terbiasa mencium aroma tak sedap di tepi sungai Tamiang,” tambahnya.

Muhammad Nurul Arifin ketua progja 194 mahasiswa KKN Universitas Islam Negeri Lampung yang membuat sejumlah papan himbauan larangan membuang sampah di sungai yang ada di desa Pasuruan kecamatan Penengahan [Foto: Henk Widi]
Keprihatinan akan kebiasaan masyarakat membuang sampah bahkan sudah dilakukan oleh sejumlah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

“Kita sudah membuat sejumlah plang imbauan di sejumlah titik yang menjadi lokasi pembuangan sampah,” terang Muhammad Nurul Arifin, ketua Program Kerja (Progja) 194 Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan.

Tidak hanya masyarakat yang tinggal di daerah setempat, pembudidaya udang putih (Vaname) juga mengeluhkan limbah rumah tangga, pertanian hingga solar yang digunakan untuk mesin penyedot pasir.

Penggunaan solar serta limbah sawit yang kerap dibuang ke sungai Way Sekampung ikut mencemari sungai. Limbah dari mesin sedot pasir bahkan membuat sungai menjadi kotor dan berwarna hitam.

“Harus diendapkan dulu agar air yang kadang tercemar solar serta sampah tidak masuk ke tambak karena membahayakan udang,” terang Susilo.

Kesadaran untuk tidak membuang ke sungai masih harus terus ditingkatkan. Pasalnya selain kotor, material yang terbawa aliran ke perairan laut timur Lampung dan terbawa arus akhirnya menjadi sampah pantai.

Lihat juga...

Isi komentar yuk