Sekolah Filial Totoharjo, Dari Rumah Warga Hingga Gedung Rusak

Editor: Mahadeva WS

1.202

LAMPUNG – Niat mencerdaskan generasi bangsa tidak boleh terhalang jarak dan keterbatasan. Kondisi tersebut dibuktikan Zubaidah (47), Warga Totoharjo yang telah mengajar anak anak di desa-nya sejak 1993.

Aktivitas pendidikan yang dilakukan Zubaidah berawal dari rasa prihatin dengan kondisi anak-anak di desanya yang tidak bersekolah. Hal itu dipengaruhi oleh jarak yang jauh antara rumah dengan sekolah. Akses jalan tanah berbatu, menjadi kendala bagi orangtua untuk menyekolahkan anaknya.

Sejak 1993, Zubaidah menggunakan rumah sang ayah menjadi tempat belajar mengajar. Belasan anak belajar bersamanya hingga beberapa tahun sebelum diusulkannya menjadi siswa di SDN Kelawi. Jarak ke SDN Kelawi cukup jauh dari lokasi rumah keluarga tersebut.

Selama beberapa tahun, akhirnya belasan anak-anak bisa diterima belajar di SDN Kelawi, dengan syarat Zubaidah yang mengajar. Namun, lokasi yang jauh membuat dirinya menggunakan lahan hibah milik orangtua untuk membangun tempat belajar. Tempat belajar dibangun dengan dinding geribik.

Zubaidah (kiri) dan Ni Sayu Made (kanan) guru di sekolah filial SDN 1 Totoharjo Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
“Saya belum menikah waktu itu, selanjutnya setelah menikah mendapat dukungan dari suami untuk mencerdaskan anak-anak di desa. Hingga akhirnya informasi adanya sekolah geribik didengar bupati kala itu, Zulkifli Anwar, yang  menawarkan apa keinginan saya,” ungkap Zubaidah saat ditemui Cendana News, Kamis (2/8/2018).

Tawaran Bupati Lamsel Zulkifli Anwar kala itu tidak disambutnya dengan meminta sebagai Pegawai Negeri Sipil. Zubaidah meminta bangunan sekolah. Permintaan tersebut direalisasikan oleh pemerintah daerah dengan membuatkan bangunan sekolah.

Jumlah siswa yang semula hanya belasan, mulai bertambah menjadi puluhan siswa setiap tahun ajaran baru. Semula menginduk di SDN Kelawi, akhirnya sekolah tersebut menjadi Sekolah Filial SDN 1 Totoharjo. Pemberian nama tersebut memperhitungkan peta administratif di wilayah tersebut.

Sekolah filial atau dikenal dengan kelas jauh, dibangun di luar sekolah induk. Keberadaanya diperuntukkan bagi siswa-siswi yang tidak bisa bersekolah di sekolah induk SDN 1 Totoharjo, yang jaraknya mencapai lima kilometer dari perkampungan warga. Sejak 2000, secara resmi sekolah filial memiliki enam ruang kelas, ruang guru, perpustakaan dan mushola. “Sebagian besar orangtua mendukung keberadaan sekolah kelas filial ini karena mereka tidak harus mengantar anaknya sekolah ke lokasi yang jauh,” beber Zubaidah.

Saat ini sekolah yang dipimpinnya menginduk di SDN 1 Totoharjo dengan enam tenaga pendidik, tiga diantaranya sudah berstatus PNS dan empat masih berstatus guru honorer. Perjuangannya, berbuah manis setelah diangkat sebagai PNS di 2014 dari jalur Kategori 2 (K2).

Membutuhkan waktu 21 tahun baginya untuk mengabdi sebagai guru honorer. Dari mengajar di rumah warga, membuat sekolah di lahan seluas seperempat hektar. Dan kini, usia bangunan sekolah yang sudah mencapai 18 tahun, mulai rusak. Plafon jebol dan bocor saat musim hujan.

Zubaidah menyebut, kendala yang terjadi saat ini adalah saat menghadapi ujian akhir. Pelaksanaan ujian harus dilakukan di sekolah induk, hal itu memaksa sekolah harus menyewa kendaraan untuk mengantarkan siswa kelas jauh. Diharapkannya, memperhitungkan beberapa aspek yang dimiliki, sekolah tersebut bisa menjadi sekolah mandiri.

Pada pelaksanaan sistem sekolah satu hari penuh (fullday school), kelas jauh SDN 1 Totoharjo mulai menerapkan sistem tersebut. Bersama SDN 2 Bakauheni, sekolah tersebut menjadi percontohan di Kecamatan Bakauheni. Suasana sekolah yang luas, dengan bangunan musala, pelaksanaan sistem fullday school bisa diterapkan pada tahun ajaran 2018/2019. Fullday school telah disosialisasikan, orangtua diminta memberi bekal selama sekolah. Pelaksanaan sekolah satu hari dimulai pukul 7.15 WIB dan berakhir pukul 14.45 WIB.

Salah satu pengajar di kelas jauh, Ni Sayu Made (35), menyebut, ikut merasakan perjuangan mengajar di sekolah tersebut sejak masih dalam bangunan geribik. Bangunan geribik bambu yang sudah tidak layak, akhirnya kini menjadi bangunan permanen.

Saat ini, sejumlah kelas atapnya bocor saat hujan, dengan plafon dan atap asbes yang mulai rusak. “Jika memperhitungkan kondisi fisik sekolah memang terlihat masih bagus apalagi saat musim kemarau, tapi saat hujan semua bocor,” ujar Ni Sayu Made.

Dengan jumlah siswa mencapai 68 orang, meski ruangan lengkap, namun sejumlah fasilitas seperti lemari kelas dan lemari perpustakaan masih minim. Buku yang ada di perpustakaan sebagian berserakan di meja, akibat lemari penyimpan buku yang terbatas.

Baca Juga
Lihat juga...