Seribu Rumah dalam Seminggu untuk Korban Gempa

599

JAKARTA — Tempat penampungan sementara (temporary shelter) untuk korban gempa yang rumahnya mengalami kerusakan, perlu dipersiapkan dalam waktu relatif cepat dan tahan bencana. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Budi Laksono, mencetuskan Gerakan 1000 Rumah AB-6 dengan rentang waktu penyelesaian seminggu.

DR. dr. Budi Laksono, MHSc – Foto: Ist

Sekaitan penanganan pascagempa Lombok, dokter Puskesmas Teladan Jateng tahun 1996, itu menyebut saat ini kita lihat bagaimana banyak rumah di Lombok rusak dan keluarga kehilangan hunian. Mereka perlu hunian secepatnya, untuk mulai kehidupannya lagi.

“Gempa pertama saja 1000-an rumah rusak, gempa kedua lebih banyak lagi. Gerakan membuat rumah cepat ini, dimaksudkan untuk percepat disaster healing. Percepat keluarga mulai kehidupannya. Strateginya kami ajak buat pilot 50 rumah. Semoga menginspirasi orang lain untuk gerak,” harap Budi.

Budi Laksono menuturkan, gempa dan bencana lainnya bisa menimbulkan risiko rusaknya rumah hingga tidak layak ditempati kembali. Oleh karena itu, sebut Budi, dalam manajemen bencana, setelah 15 jam, orang yang huniannya terdampak, sebaiknya sudah mendapat shelter (penampungan).

“Penggantian rumah sering dibelakangkan dengan pikiran belum waktunya, tak ada dana buat rumah, dan lain-lain. Seperti di Aceh dan lainnya, rumah dibuat setelah 3 bulan atau lebih. Selama itu, korban pun tidur di tenda,” ujar Budi, saat dihubungi Cendana News, Senin malam (6/8/2018).

Budi kemudian menawarkan solusi membangun rumah penampungan sementara dengan konsep Rumah AB-6. Menurutnya setelah dicoba di sejumlah tempat lokasi bencana, Rumah AB-6 dirasakan begitu membantu korban yang rumahnya mengalami kerusakan, bahkan luluh lantak tak berwujud.

“Rumah AB-6 adalah konsep rumah sederhana, tumbuh bagi masyarakat korban bencana. Dibuat cuma oleh 6 orang pengungsi, bukan tukang, dalam waktu 6 jam, biaya tidak lebih Rp.6 juta,” jelas dokter lulusan Undip 1989, memberi makna angka 6 pada konsep rumahnya.

Dia menambahkan, Rumah AB-6 pernah dibangun di Aceh, dan di uji coba di Merapi bersama PMI Semarang. Bahkan saat itu hanya menghabiskan biaya Rp5,4 juta. Uang sisa sebesar Rp.600 ribu lalu disumbangkan pada korban pemilik rumah.

Budi melanjutkan, Rumah AB-6 ini berukuran 4×5 meter, lantai berupa semen atau plastik MMT bekas, dan atap seng. Meski rumah dibuat dari kayu, namun yang istimewa adalah Rumah AB-6 tahan gempa hingga 7,4 SR.

“Rumah AB-6 adalah solusi yang tepat guna. Karena murah dan mudah, sehingga rehabilitasi rumah bisa dimajukan agar keluarga segera memulai kehidupannya kembali,” tuturnya.

Budi Laksono, bersama rekan Bambang, Suryo, Yoyon, Toto, dan Edi di halaman hasil karya Rumah AB-6 – Foto: Ist

 

Betapa, bencana gempa atau tsunami menghancurkan banyak sekali rumah rakyat. Tentu, tidak sedikit diperlukan dana dan waktu yang panjang untuk menyediakan rumah baru bagi mereka.

Hunian sementara seperti tenda, memang sangat menolong korban. Walaupun begitu, hidup dalam tenda sangat dibatasi oleh beberapa faktor seperti ketahanan tenda, psikologi penghunian, kenyamanan, dan lain-lain.

Menciptakan rumah murah, cepat dan tumbuh, sangat diperlukan terutama pada bencana besar dimana ratusan hingga ribuan rumah rusak dan perlu pengganti. Bermula dari itulah, Budi Laksono mengusulkan pembuatan rumah cepat.

Sebuah rumah yang dbuat dalam waktu 6 jam oleh 6 orang biasa, dengan biaya murah tak lebih dari Rp.6 jutaan, dan bisa dikembangkan oleh penghuni. Rumah tersebut beratap seng, dinding kayu, lantai semen, ukuran 4×5 meter, dan beranda 2×4. Rumah model ini pernah disumbangkan masyarakat Semarang kepada pengungsi di Desa Meunasah Bak-u, Leupung, Aceh Besar.

Budi kembali menandaskan, Rumah AB-6 yang mudah, murah, cepat dan bisa tumbuh adalah opsi yang tepat bagi korban gempa. Budi menyebut, pihaknya juga siap untuk pimpin tim secara sukarela membangun Rumah AB-6 di Lombok.

“Pengerjaan Rumah AB-6 ditargetkan dalam sepekan bisa selesai. Dengan biaya perumah cukup Rp.6 juta. Dibuat oleh 6 warga per-grup, dan tiap rumah bisa selesai dalam waktu 6 jam. Setidaknya, juga dapat diestimasi, dalam sepekan 1000 rumah dapat dibangun,” sebut Budi.

Menurut Budi, Rumah AB-6 ini bisa dibuat dalam waktu 6 jam oleh kelompok 6 warga penerima yang akan membangun satu persatu rumah mereka, secara bergantian. 6 jam adalah pembuatan semua termasuk pelantaian dan pemasangan seng.

“Pembuatannya relatif mudah sehingga dengan melihat demonya saja setiap warga bisa langsung membuatnya sendiri. Untuk itu mereka akan diperlihatkan demo pembuatan 1 rumah oleh instruktur dan kemudian mereka membuat sendiri dengan supervisi saja,” jelas Budi.

Menurut Budi, Rumah AB-6 ini tahan gempa karena ringan dan pada setiap sisinya menggunakan penyilang sehingga menjadikan dinding kokoh dan rigid. Rumah ini juga tidak besar, karena sebagai hunian cepat, tetapi sangat memungkinkan dikembangkan oleh penghuni menjadi sesuai yang diperlukan.

Bahkan pembangunan ini, kata Budi, menggunakan metode community self-development sehingga menjamin 100 persen rumah dibangun tanpa korupsi. Adapun manfaat pembangunan Rumah AB-6 ini, akan bisa dirasakan bagi masyarakat langsung.

“Keberadaan rumah akan mempercepat proses rehabilitasi fisik dan moral masyarakat korban bencana. Bagi pemerintah, program ini akan sangat membantu terutama men-setting bagaimana membangun rumah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya dengan murah sehingga pemenuhan kebutuhan akan lebih cepat menjangkau seluruh masyarakat,” tandasnya.

Sekaitan itu, dalam Gerakan 1000 Rumah AB-6 dengan rentang waktu pengerjaan cukup singkat sekira seminggu, Budi pun lantas membuka kesempatan segenap stakeholders untuk turut berpartisipasi dalam gerakan tersebut dengan mengikuti pelatihan yang akan ia selenggarakan.

Bagi yang berminat dapat menghubungi praktisi Relawan Bencana Alam, DR. Budi Laksono, MHSc, di nomor: 081228017060. (Hid)

Baca Juga
Lihat juga...