SOAL SATWA LIAR

Oleh: Siti Hardijanti Rukmana

721

Saya dan keluarga penyuka binatang. Binatang-binatang yang kami piara, tinggal satu rumah dan menjadi teman sepermainan anggota keluarga.

Seperti foto-foto anak saya Danny, yang sedang bermain dengan Macan.

Bahwa ketika binatang diperlakukan dengan baik dan tulus, mereka akan menjadi sahabat kita. Kalau mereka merasa terancam, tentu tidak bersahabat dengan kita.

Foto itu kira-kira anak saya Danny kelas 4 SD, tahun 1987-an. Macan itu kami namakan “Astrid”.

danny
Danny, anak saya yang ketiga, bermain ceria dengan Astrid. Macan piaraan kami. Foto ini tahun 1987.

Kami pernah punya binatang piaraan yang tinggal di rumah (secara berurutan): Gajah, Singa, Beruang Madu, lalu Macan.

Kami masih memiliki dokumentasi Beruang dan Macan. Sedangkan Singa dan Gajah belum ketemu dokumentasinya.

Soal Gajah… Januari 1980 Mas Indra (suami saya) pulang dari Lampung. Mas Indra telpon dan mengabarkan kalau mau membawa kado ulang tahun. Saya tanya, kadonya apa… Mas Indra bilang “lihat sendiri nanti”.

ochan
Saya bersama Ochan… Beruang Madu hadiah ulang tahun Mas Indra kepada saya. Ia hidup berkeliaran di dalam rumah kami sebagai teman sepermainan.

Sesampai di rumah, saya diajak keluar. Masya Allah, ada anak gajah yang lucu banget. Saya kasih minum susu. Saya pelihara dan kami beri nama “Dumbo”.

Waktu itu sedang pindah rumah ke rumah bapak di Jalan Agus Salim No. 98. Karena di rumah saya di Waringin banyak rayapnya.

Kemana saya pergi, gajah itu nginthil (mengikuti) terus. Belalainya sering memegangi baju saya. Pokoknya lucu banget.

Tapi memang ketentuan waktu itu di rumah tidak boleh memelihara gajah dan Dumbo tidak bisa masuk ke dalam rumah karena badannya besar. Pintu tidak muat untuk masuk. Jadi saya tempatkan di halaman depan.

Suatu hari, saya pergi. Pulang-pulang, Dumbo sudah tidak ada, ternyata diambil kebun binatang. Saya dan anak-anak sedih. Tapi… bagamanapun peraturan harus ditaati.

Sayangnya, tidak lama setelah diambil dari rumah, Dumbo itu mati.

ochan
Ketika diketemukan, Ochan masih kecil. Kadang ikut tidur bersama. Lucu banget.

Pada ulang tahun saya tahun 1984, Mas Indra (suami saya) juga memberi hadiah seekor bayi Beruang Madu dari Lampung. Beruang Madu itu kami beri nama Ochan…

Ochan suka bermain-main dengan anak-anak saya, tidur dengan anak-anak bagai sahabatnya. Pada tahun 1984 itu Ochan masih kecil, kadang juga ikut tidur dengan saya.

Sekarang Ochan sudah mati dan kami kuburkan di halaman rumah kami.

Kisah Singa agak tragis. Mungkin ada orang yang takut, kemudian dikasih makan daging. Rupanya daging itu diberi racun.

Singa yang sudah menjadi sahabat sepermainan kami itu mati.

Binatang, juga makhluk-Nya. Mereka sahabat dalam kehidupan kita.

Dumbo (gajah) dan Ochan (Beruang Madu) itu ketika diketemukan Mas Indra masih kecil dan sendirian…

Kalaupun dikembalikan ke hutan, dia akan mati. Karena itu mas Indra mengambil keputusan biarlah saya yang memelihara.

astrid
Macan ini saya namakan Astrid. Teman sepermainan kami. Tinggal bersama di rumah.

Mereka hidup sebagai teman, termasuk teman bermain bagi keluarga dan tidak kami tempatkan di kandang. Jadi berkeliaran di dalam rumah. Tentu kebersihannya kita jaga.

Mas Indra menemukan Ochan dan Dumbo ketika membuka lahan perkebunan tebu di Lampung. Lahan tebu tersebut dibuka di lahan hutan yang curah hujannya rendah, sehingga sering terbakar. Oleh karena itu dimanfaatkan, sekaligus dibuat balong-balong dan tandon air untuk menyiram tanaman sekaligus mengantisipasi agar tidak kebakaran hutan lagi.

Lahan itu kemudian dijadikan perkebunan tebu dalam naungan Pabrik Gula “Gunung Madu” di Lampung.

Bapak (Pak Harto) berpendapat bahwa penduduk Indonesia pengkonsumsi gula, baik untuk campuran minum kopi maupun the. Karena itu harus bisa mensuply gula sendiri. Jangan import dari negara lain yang mengakibatkan harga gula jadi tinggi.

Pada saat membangun Pabrik Gula itu Mas Indra menemukan Ochan (Beruang Madu) dan Dumbo (anak gajah) yang kala itu sendirian.

Itulah kisah, bahwa keluarga saya, pernah sepermainan dengan binatang-binatang.

Setelah ada peraturan yang melarang memelihara “binatang buas” dan harus menggembalikannya ke hutan, kami tidak memeliharanya lagi.

Pendapat saya terkait pelestarian satwa liar, saya setuju binatang itu dikembalikan ke habitatnya ke hutan, selama binatang itu ada keluarganya dan dapat hidup bebas. Mereka layak hidup di hutan.

Akan tetapi, bagi saya, apabila binatang itu dikembalikan ke hutan, dia malah mati karena tidak ada yang mau menerima, karena binatang juga sangat sensitif dengan keluarganya, maka saya berpendapat, bahwa binatang itu pun layak hidup di lingkungan manusia yang menyayangi mereka sepenuh kasih. Selama itu tidak untuk diperjualbelikan.

Jakarta, 1 Agustus 2018

*

Lihat juga...
1 Komen
  1. fara berkata

    Saya setuju dengan pendapat Ibu Tutut, selama satwa liar ( “binatang buas” ) ternyata tidak aman untuk di lepas liar di hutan kembali lebih baik mereka berada dilingkungan orang2 yang sanggup memelihara dan menyayangi mereka.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.