Sokko Tumbu dan Tape Ketan, Kuliner Khas Kampung Bugis

Editor: Mahadeva WS

269

LAMPUNG – Suasana Idul Adha 1439 Hijriah/2018 Masehi, masih cukup terasa di wilayah perkampungan suku Bugis, di Lampung Selatan. Sajian khas sokko tumbu dan tape ketan yang sering disuguhkan warga di daerah tersebut menjadi salah satu penguat situasi tersebut.

Bubah (60), warga Dusun Bunut Besar, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi menyebut, kue berbahan ketan yang dikenal dengan sokko tumbu, biasa dibuat sehari sebelum lebaran. Sokko tumbu dibuat dengan bahan baku beras ketan, yang dibungkus daun pisang.

Beras ketan direndam selama beberapa jam, selanjutnya dicetak dengan menggunakan tabung atau bumbung bambu. Selanjutnya dibungkus menggunakan daun pisang dan disusun saling menyambung dengan ukuran seragam. “Saya kerap membuat sokko tumbu dari beras ketan putih. Membuat sebanyak lima kilogram, karena sebagian diberikan kepada kerabat, serta dua kilogram beras ketan untuk pembuatan tape ketan,” terang Bubah saat ditemui Cendana News, Sabtu (25/8/2018).

Hadi (baju putih) menikmati sajian sokko tumbu dan ketan putih saat bertandang ke salah satu keluarga suku Bugis dalam suasana lebaran Idul Adha [Foto: Henk Widi]
Sokko tumbu dibuat dengan ketan putih atau ketam hitam, sesuai selera pembuat. Selain menyiapkan beras ketan putih yang akan dibuat, Bubah juga menyiapkan santan kelapa, yang akan digunakan untuk proses mengaron beras bersama dengan garam sebagai penambah rasa.

Setelah diaron dengan santan kelapa, beras ketan selanjutnya dicetak. Antar ketan cetakan, diberi sekat daun pisang atau daun pandan, dan diikat menggunakan tali atau janur kuning. Beras ketan yang direbus selama hampir enam jam agar empuk, membuat proses pembuatan sokko tumbu menjadi lama. “Sokko tumbu yang sudah direbus berbentuk bulatan selanjutnya bisa dilepas saat akan disajikan,” terang Bubah.

Selain dibuat menjadi sokko tumbu, beras ketan juga dibuat untuk sajian pelengkap lain seperti tape ketan. Tape ketan dibuat tiga hari sebelum hari raya Idul Adha, sehingga proses fermentasi berlangsung sempurna, menghasilkan rasa manis.

Berbeda dengan pembuatan tape ketan putih pada umumnya, ketan yang sudah dicampur dengan ragi dibuat bulat. Setelah dibentuk menjadi bulat, beras ketan yang sudah direbus dan diaron dengan ragi disimpan di dalam wadah beralaskan daun pisang.

Selain Bubah, pembuat sokko tumbu dan tape ketan lain, Daeng Erna (40), menyebut, selain untuk lebaran Idul Adha, sajian tersebut juga dibuat untuk kegiatan istimewa, seperti hajatan pernikahan serta sunatan. “Proses pembuatan biasanya gotong royong sekaligus sebagai upaya mempererat kebersamaan,” terang Daeng Erna.

Rasa khas sokko tumbu dengan ciri khas ketan yang lembut dan gurih, sangat pas disantap bersama tape ketan yang sudah manis. Pasangan yang pas antara sokko tumbu dan tape ketan, menjadikan kedua sajian tersebut paling ditunggu oleh masyarakat dari suku lain saat berlebaran di keluarga Bugis. Sajian tersebut disajikan bersama dengan gulai, atau semur kambing yang kerap muncul saat lebaran Idul Adha.

Hadi (33), salah satu warga yang berkunjung ke keluarga Bubah menyebut, suasana lebaran Idul Adha masih terasa di wilayah kampung Bugis. Kue sokko tumbu disebutnya, menjadi kuliner yang kerap disajikan, dan bisa disantap bersamaan. Paduan rasa gurih dari sokko tumbu dan manis tape ketan menjadi hidangan pembuka, sebelum menyantap hidangan utama berupa gulai daging, serta sop konro khas Bugis.

Baca Juga
Lihat juga...