Taman Soekasada Ujung Warisan Raja-raja Karangasem

Editor: Koko Triarko

267
KARANGASEM – Selain terkenal dengan keindahan alamnya, Bali juga memiliki banyak destinasi wisata lain yang dibangun atas dasar sejarah dan kebudayaan masyarakat sejak lama. Salah satunya Taman Soekasada Ujung, atau yang lebih dikenal dengan nama Taman Ujung, di Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem Bali.
Taman Soekasada Ujung Karangasem, merupakan objek wisata yang berhubungan dengan situs kerajaan. Taman Sukasada dibangun oleh Raja Karangasem, I Gusti Bagus Jelantik, yang bergelar Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Taman Soekasada Ujung ini telah dipugar dengan bantuan Bank Dunia, sudah sangat dikenal oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Nun jauh di seberang Selat Lombok, sayup-sayup tampak Gunung Rinjani. Bila pandangan diarahkan ke sebelah Timur Laut, tampak berdiri tegak Gunung Seraya yang kembar, dan bila menoleh ke Barat Laut akan terlihat kekokohan tiga buah patung besar dari semen, dengan lokasi bertingkat, yakni patung badak, singa bersayap dan sapi, yang memuntahkan air.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karangasem Bali, I Wayan Astika.-Foto: Sultan Anshori.
Konon, patung-patung tersebut sebagai peringatan Karya Maligia keluarga Puri Karangasem pada 1937. Sisa bangunan paling atas yang dekat dengan jalan raya dari arah Amlapura menuju taman, sengaja tidak direnovasi, dibiarkan sebagai monumen untuk mengenang saat kejayaannya dahulu.
Pada bangunan utama, dipajang foto-foto pendiri taman dan juga foto taman sebelum rusak, sehingga bisa diketahui oleh para wisatawan. Bali sebagai ujung tombak pariwisata Indonesia yang telah dikenal dengan adat budaya yang unik, dan bangunan-bangunan taman nan indah, akan tetap menjadi tujuan wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
“Taman ini adalah milik pribadi keluarga Puri Karangasem. Taman Sukasada dibangun pada 1909, atas prakarsa Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Arsiteknya adalah seorang Belanda bernama van Den Hentz, dan seorang Cina bernama Loto Ang. Pembangunan ini juga melibatkan seorang undagi (arsitek adat Bali). Taman Ujung sebenarnya adalah pengembangan dari kolam Dirah yang telah dibangun tahun 1901. Pembangunan Taman Ujung selesai tahun 1921,” beber Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karangasem Bali, I Wayan Astika, saat ditemui Minggu, (12/8/2018).
Astika menuturkan, dalam area Taman Ujung Karangasem terdapat beberapa bangunan dan kolam yang besar dan luas. Ada tiga buah pintu gerbang untuk menuju area taman, namun para wisatawan hanya bisa masuk melewati pintu gerbang yang ada di samping area parkir.
Sedangkan untuk pintu gerbang utama berada pada ketinggian di sisi barat sebagai entrance yang disebut dengan Bale Kapal.
“Dari tempat inilah, kita bisa melihat keseluruhan dari area Taman Ujung, atau lebih tepatnya kita seperti melihat sebuah miniatur Taman Soekasada Ujung Karangasem. Dan dari sini pula, kita dapat melihat laut lepas di sisi kanan dan pegunungan di sisi kiri,” imbuh Astika.
Katanya lagi, Taman ini memiliki dua buah kolam yang sama besarnya, dan sebuah kolam yang disebut Kolam Dirah. Kolam yang berada di bagian selatan ini merupakan kolam pertama yang dibangun di Taman Ujung Karangasem. Di tengah kolam I terdapat Balai Gili (Kambang), yang memiliki beberapa ruangan, ada ruang makan, ruang istirahat (kamar tidur) dan juga ruang anak-anak.
Untuk menuju Balai Gili (Kambang), dihubungkan dengan dua buah jembatan di sisi utara dan selatan Balai.
Sedangkan di tengah kolam II juga ada sebuah bale yang dihubungkan oleh sebuah jembatan, yang mengarah ke barat. Selain itu, di sisi barat Balai Gili ada Balai Bundar dan juga Balai Lunjuk di sisi barat laut dari Balai Bundar.
Identitas dan jatidiri arsitektur merupakan instrumen yang sangat penting sebagai daya tarik wisatawan. Sejak dahulu, kebudayaan Nusantara telah bersinggungan dengan budaya luar, namun pengaruh budaya luar tersebut selalu dapat diterima untuk mewarnai tradisi lokal, bahkan kehadirannya semakin memantapkan dominasi dan keunggulan kebudayaan lokal itu sendiri.
Demikianlah yang terlihat pada sebuah taman, terletak di ujung Timur pulau Bali dengan panorama yang indah, dibangun pada 1919 oleh Raja Karangasem terakhir, Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem, yang semula bernama A.A. Bagus Djelantik.
“Taman-taman yang menarik di Karangasem, sebagian besar adalah hasil karya dari Raja-raja Karangasem. Dua taman air nan luas masih marak dikunjungi pelancong dan wisatawan. Konsep istana taman kiranya menurun dari para leluhur Raja-raja terdahulu, yang pernah memerintah Lombok setelah mengalahkan kerajaan Selaparang dan Pejanggik pada 1692”, katanya.
Hal tersebut, lanjutnya, juga dapat dilihat pada taman-taman yang ada di Pulau Lombok, seperti Taman Mayura, Narmada dan Suranadi, setelah terjadi migrasi dari Puri Karangasem sejak 1722 sampai terbentuk kerajaan Cakranegara dan Mataram.
“Konon, taman-taman itu dibangun tidak berdasarkan konsep gambar, tetapi berdasarkan Asta Kosala Kosali. Demikian pula kepekaan dalam memilih lokasi, baik ditinjau dari segi strategis maupun estetis, benar-benar memberikan daya tarik yang luar biasa,” jelasnya.
Taman yang juga dikenal dengan sebutan “Istana Air” itu, bangunan pokoknya adalah  Bale Kambang, yang bercorak arsitektur campuran tradisional Bali dengan Belanda.
Pengaruh Belanda ini kentara dari bangunan jembatan yang sudah berteknologi Barat, pada puncak-puncak tiangnya meniru “mahkota” Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda, saat itu.
“Di samping itu, pada tembok-tembok bangunannya terdapat panel hias yang memakai motif singa bersayap dengan crown di kepalanya, seperti simbol Kerajaan Belanda. Bentuk ornamen lainnya dari cetakan semen untuk dinding dan pot-pot bunga, merupakan kreasi dari pendiri taman tersebut, yang bermotif bunga dan wayang dengan senjata-senjatanya. Wujud tersebut dapat dikatakan sebagai pelopor ukiran cetak semen di Bali, yang kini banyak dijumpai di desa Kapal,” jelas Astika.
Setelah direnovasi dengan bantuan Bank Dunia, kata Astika, tampak Bale Kambang cantik di kolam Selatan dan sebuah jembatan beton dengan dinding panel singa bermahkota, sebagai penghubung areal parkir Timur menuju taman.
Demikian pula, areal taman yang luasnya hampir 10 hla ini sudah dipagari tembok artistik hingga dekat dengan Pura Manikan. Di ujung Utara taman ini telah berdiri pula sebuah Bale Lantang, yang dahulu dipakai tempat Ma-Tirta Yatra bagi keluarga Raja.
Namun demikian, pada 1963, taman ini sempat porak-poranda oleh letusan Gunung Agung, gunung terbesar di Bali. Gempa yang terjadi pada 1976 juga menyisakan puing-puing bangunannya saja. Kemudian antara 2001 dan 2003, pemerintah Karangasem telah merenovasi istana air tersebut, agar tampak seperti aslinya. Hal itu pun dapat dibuktikan dengan kondisi taman yang indah dan menawan.
“Diketahui, kalau Taman Soekasada Ujung tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan Raja Karangasem, namun juga sebagai tempat menjamu dan menyambut tamu penting Raja. Kini, keadaan Taman Ujung yang telah kembali bangun dari tidur lelapnya setelah seperempat abad dalam kondisi terlantar, telah marak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara”, katanya.
Menurutnya, sampai dengan triwulan kedua tahun 2017, jumlah kunjungan mencapai 18.801 untuk wisatawan mancanegara dan 38.063 wisatawan nusantara.
“Peningkatan hampir mencapai 20 persen, dalam kondisi bencana erupsi Gunung agung. Walaupun demikian Taman Soekasada Ujung sebagai destinasi wisata sejarah, berada di luar daerah terdampak yang hanya pada radius 4 kilometer dari puncak kawah,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...