Tanribali : TMII Mahakarya Ibu Tien Soeharto

Editor: Mahadeva WS

252

JAKARTA – Direktur Utama Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Tanribali Lamo menilai, gagasan Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Negara Tien Soeharto mendirikan Yayasan Harapan Kita (YHK), sangat luar biasa. 

Pemikiran untuk membangun wahana pelestarian dan pengembangan budaya bangsa itu telah muncul sejak 50 tahun lalu. Perayaan 50 tahun YHK, telah berangsung pada 23 Agustus 2018 lalu dengan tajuk, Melanjutkan Membangun Harapan Untuk Indonesia.

“Gagasan Ibu Tien Soeharto sangat luar biasa, padahal ini 50 tahun yang lalu. Tapi beliau sudah berpikir bagaimana pembangun TMII sebagai wahana pelestarian dan pengembangan budaya bangsa,” kata Tanri kepada Cendana News, Jumat (31/8/2018).

Gagasan Ibu Tien Soeharto tersebut menjadi sebuah lompatan pemikiran yang cemerlang. Manfaatnya baru dirasakan setelah 20-30 tahun kemudian, TMII hadir di Indonesia. Setelah sosok Ibu Negara yang murah senyum itu wafat, menjadi sangat terasa, ide menyatukan khazanah budaya nusantara dalam hamparan miniatur Indonesia, TMII seluas 150 hektar ini sangat cemerlang. “Di TMII ada budaya Indonesia yang ditampilkan oleh 34 provinsi. Ini perlu dijaga,” ujarnya.

Masyarakat Indonesia yang berkunjung ke TMII, akan lebih mengenal budaya daerahnya. Orang Jawa Barat saat berwisata ke TMII, tidak hanya ke anjungan Jawa Barat. Mereka pastinya akan berkeliling ke anjungan lain. Sehingga mereka akan mengenal budaya daerah lain, seperti Sumatera Barat, Papua dan Kalimantan. “Ini memberikan gambaran, orang sekali datang ke TMII sudah tahu Indonesia. Pemikiran ini sudah digagas Ibu Tien Soeharto, 50 tahun lalu lewat YHK, sangat luar biasa,” tandasnya.

Tanri mengajak masyarakat Indonesia untuk menghormati gagasan cemerlang Ibu Tien Soeharto untuk membangun TMII. Dia meminta, masyarakat ikut menjaga, melestarikan dan mengembangkan budaya Indonesia.

Sebagai Nahkoda TMII, Tanri berkomitmen untuk mewujudkan cita-cita Ibu Tien Soeharto melestarikan budaya bangsa. Meskipun menurutnya, apa yang dicita-citakan tersebut, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Yang menjadi perhitungannya, pada umumnya bangunan di TMII sudah berusia 30-40 tahun. Sudah pasti memerlukan perbaikan atau revitalisasi dengan penataan yang lebih bagus. “Saya ini sebagai Dirut TMII, baru Februari 2018. Tetapi, saya coba menangkap apa yang dicita-citakan Ibu Tien Soeharto,” ucap pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 15 November 1952 tersebut.

Untuk mewujudkan cita-cita Ibu Tien Soeharto, harus dilakukan dengan kerja keras, dan dengan hati, mengingat adanya keterbatasan keuangan dan beberapa hal lainnya. Fasilitas TMII perlu perbaikan, yang diarahkan secara bertahap dengan skala prioritas.

Tanri menyebut, pihaknya setiap saat menyampakan rencana perbaikan TMII kepada YHK. Terutama mengenai rencana perbaikan beberapa fasilitas yang butuh dilakukan dalam waktu dekat. Pertama, menyiapkan lahan untuk membangun anjungan Kalimantan Utara. Kemudian, mengimbau beberapa provinsi, untuk memperbaiki anjungannya. Dan, saat ini perbaikan anjungan sedang berjalan. Selanjutnya, ada perbaikan Dunia Air Tawar, Teater Imax Keong Mas, Istana Anak-Anak Indonesia (IAAI) dan Taman Burung.

Terkait tema HUT ke 50 YHK, Melanjutkan Membangun Harapan Untuk Indonesia, putri sulung Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut Soeharto akan melanjutkan membangun harapan tersebut. Tanri sangat mengapreasi, dan mendukung Mbak Tutut Soeharto yang merupakan Ketua Umum YHK, untuk mewujudkan harapan Ibu Tien mengembangkan TMII.

Tanri berkisah, ayahnya Achmad Lamo, mantan Gubernur Sulsel, memiliki hubungan baik dan dekat dengan Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto. Utamanya dalam pelestarian khazanah budaya di TMII. “Siput-siput (keong) yang ditempel di Keong Mas itu dari Makassar, Sulsel. Itu semua siput yang dipajang di Keong Mas dari ibu saya. Jadi sebenarnya ada hubungan emosional antara saya dan TMII,” kata Tanri sambil tersenyum.

Saat ini, orang melihat TMII dibangun berkat pemikiran yang luar biasa. Apalagi TMII ini adalah taman rekreasi terbesar di dunia, dengan luas lahan 150 hektar. Pemerintah mengakui TMII dengan dua hal yang menjadi pijakan. Pertama, Kepres No.51/1977 tentang Penguasaan dan Pengelolaan TMII, kedua adalah Akte Persembahan, bahwa TMII ini digunakan untuk kepentingan masyarakat dan edukasi seni budaya bangsa. “TMII mahakarya Ibu Tien Soeharto. Saya kira banyak mahakarya beliau, seperti RS Jantung Harapan Kita, Rumah Sakit Anak dan Bersalin (RSAB), Perpustakaan Nasional, dan lainnya,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...