Titiek Soeharto: Kesejahteraan Penyuluh Pertanian, Nelayan dan Petani Harus Diperjuangkan

Editor: Makmun Hidayat

882

YOGYAKARTA — Di masa sekarang, penyuluh pertanian tidak hanya sekedar berfungsi membantu petani dalam meningkatkan hasil produksi pertanian semata. Lebih dari itu, penyuluh pertanian juga memiliki peranan penting dalam membantu petani mengembangkan diri sebagai pelaku usaha di bidang pertanian.

Hal itu diungkapkan putri Presiden RI ke-2 HM Soeharto yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya, Siti Hediati Hariyadi atau karib disapa Titiek Soeharto saat menghadiri acara pertemuan dengan Penyuluh Pertanian Swadaya dan Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) bertempat di Mini Zoo Jogja Exotarium, Sleman, Kamis (30/08/2018).

“Penyuluh pertanian sekarang punya peran lebih. Yakni dalam membantu petani kembangkan diri menjadi pengusaha pertanian. Tidak hanya tingkatan produksi saja, tapi juga dalam menghadapi semua tantangan dan persoalan pertanian yang semakin berat. Mulai dari prosea pra tanam, pemeliharaan, panen, hingga pasca panen,” paparnya.

Siti Hediati Hariyadi atau karib disapa Titiek Soeharto melakukan penanaman pohon di Mini Zoo Jogja Exotarium, Sleman, Kamis (29/8/2018) – Foto: Jatmika H Kusmargana

Dalam kesempatan itu, Titiek Soeharto sendiri membenarkan jika sejak lama, penyuluh pertanian sudah memiliki peranan besar dalam proses pembangunan pertanian, saat masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Melalui penyuluh pertanian lah, Indonesia pernah mencapai swasembada pangan hingga mendapatkan penghargaan dari WHO.

“Melalui penyuluh pertanian pula, masyarakat pertanian dibelaki ilmu, pengetahuan, keterampilan dan pengenalan paket teknologi, dan inovasi baru di bidang pertanian,” katanya.

Menurut Titiek Soeharto, tanpa perjuangan para penyuluh, baik itu penyuluh swadaya maupun THL-TBPP, dunia pertanian Indonesia tidak akan bisa maju. Karena itu lah, pada masa kepemimpinannya, Pak Harto benar-benar memberikan perhatian pada para penyuluh pertanian yang menjadi ujung tombak pembangunan di sektor pertanian.

“Memang masalah di sektor pertanian kita saat ini masih banyak. Seperti masalah impor produk pertanian, yang mengakibatkan produk panen petani menjadi terserap atau harganya jatuh di bawah biaya produksi,” ungkapnya.

Titiek Soeharto menyirami pohon yang ditanam di Mini Zoo Jogja Exotarium, Sleman, Kamis (29/8/2018) – Foto: Jatmika H Kusmargana

Lebih ironisnya lagi, lanjut Titiek Soeharto, sejak beberapa tahun belakangan, dunia pertanian Indonesia telah tersalip oleh sejumlah negara lain di Asia Tenggara. Salah satunya adalah Vietnam yang saat ini menjadi negara pengekspor beras terbesar di kawasan Asean.

“Kita terlalu banyak melakukan hal yang kurang penting sehingga bisa tersalip Vietnam. Dulu mereka belajar ke kita, bagaimana mengelola pertanian. Sekarang mereka sudah menjadi negara pengekspor beras terbesar di Asia Tenggara. Kita bahkan yang sekarang belajar ke sana,” ungkapnya.

Di hadapan para penyuluh pertanian, Titiek Soeharto, mengaku berkomitmen akan meneruskan perjuangan Pak Harto dalam memperjuangkan dan menyejahterakan masyarakat nelayan maupun petani, termasuk penyuluh pertanian yang hingga kini nasibnya belum jelas.

 

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.