Umat Hindu di Nuraga Lampung Gelar Ngaben Masal

Editor: Mahadeva WS

359

LAMPUNG – Ribuan umat Hindu di Desa Bali Nuraga, Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan, menggelar upakara atau upacara Pitra Yadnya atau lebih dikenal dengan Ngaben Massal. Upacara tersebut diikuti ribuan umat Hindu dari berbagai wilayah di Lampung Selatan, Lampung Timur.

Bahkan tercatat, ada beberapa diantaranya berasal dari kabupatan di Lampung dan provinsi lain yang menggelar ngaben di desa adat Bali Nuraga. Masyarakat Lampung Selatan yang beragama Hindu, masih mempertahankan tradisi keagamaan yang merupakan bentuk penghormatan kepada keluarga yang sudah meninggal tersebut.

Kegiatan ngaben massal juga mencerminkan sifat gotong royong, karena segala keperluan ngaben ditanggung secara bersama. “Kegiatan ngaben massal sebagai sebuah kewajiban agama Hindu bagi keluarga untuk menghantar anggota keluarga ke surga atau nirwana tetap dilestarikan,sebagai bagian dari masyarakat Lampung Selatan,” tandas Wakil Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto di sela-sela Ngaben Masal, Rabu (1/8/2018).

Selain sebagai sebuah upacara religi yang sakral, kegiatan tersebut bisa menjadi daya tarik wisata. Prosesi perarakan dari titik utama desa, memutari tugu desa kemudian ke area pemakaman desa (sitre) dipimpin oleh Resi yang akan melaksanakan prosesi pitra yadnya.

Nanang Ermanto ikut dalam prosesi perarakan bersama ribuan masyarakat Bali Nuraga dengan perarakan berjarak sekitar dua kilometer. Kegiatan Pitra Yadnya yang dilakukan oleh warga Hindu di Bali Nuraga menjadi kegiatan rutin yang dilakukan sesuai waktu yang telah ditetapkan.

Wayan Wastre salah satu warga desa Bali Nuraga yang mengabenkan tiga anggota keluarga yang sudah meninggal [Foto: Henk Widi]
Wayan Wastre (50), salah satu warga setempat menyebut, Dirinya melakukan prosesi ngaben untuk tiga anggota keluarga yang sudah meninggal. Keluarga yang sudah meninggal diantaranya ibu dan dua anggota keluarga lainnya. Mereka sudah meninggal satu tahun sebelumnya. “Kami mengikuti ngaben massal untuk menghemat biaya sekaligus menjadi tradisi untuk gotong royong dalam mengantar roh anggota keluarga yang sudah meninggal,” beber Wayan Wastre.

Wayan Wastre menyebut, ngaben massal tahun ini di Desa Bali Nuraga jumlah yang diaben ada 186 jasad, yang terdiri dari 108 jasad orang dewasa (sawe) dan sebanyak 78 jasad bayi (ngelungah). Ngaben sesuai kepercayaan umat Hindu, menjadi kegiatan menghantar keluarga ke tempat suci di kayangan (surga). Prosesi tersebut bukan hanya sekedar menghantar secara fisik, melainkan menghantarkan roh keluarga yang meninggal ke sang Hyang Widi Wasa.

Setiap keluarga sudah menyiapkan wadah dan bade dengan jumlah bervariasi diantaranya tumpang pitu (tujuh), tumpang sembilan, tumpang solas (sebelas). Bade dan wadah sebagian sudah diletakkan oleh keluarga di lokasi pembakaran yang merupakan pemakaman warga setempat. Sejumlah ornamen di dalam bade memiliki simbol badawang nala yang merupakan simbol pilihan baik buruk yang harus dilakukan manusia.

Ornamen naga sebagai simbol kamerta pangurip jagat menyimbolkan ketamakan. Sifat ketamakan atau tamasika orang yang meninggal, akan dilebur saat prosesi ngaben. Beberapa simbol lain dalam bade diantaranya garuda dan kepala raksasa yang menyimbolkan sejumlah sifat buruk manusia yang harus ikut dilebur dalam kegiatan ngaben.

Pantauan Cendana News, ribuan orang dari berbagai daerah ikut melihat prosesi ngaben massal. Selain keluarga yang diaben, masyarakat umum dari berbagai wilayah dengan beragam agama dan suku tumpah ruah di sepanjang jalan menuju Sitre lokasi pengabenan massal.

Heni (30), salah satu mahasiswa asal Bandarlampung menyebut, baru pertama kali melihat ngaben massal. Prosesi tersebut menjadi tontonan menarik, dan dirinya tidak harus pergi ke Bali untuk bisa melihatnya. Sebagai sebuah upacara suci, Dia menyebut, kegiatan tersebut menjadi simbol keberagaman adat istiadat dan agama yang hidup rukun berdampingan di Lampung.

Baca Juga
Lihat juga...