Upaya Bank Sampah Flores Terkendala Modal

Editor: Koko Triarko

1.679
MAUMERE – Banyaknya sampah, terutama sampah plastik yang masih dibuang warga ke laut serta terbawa banjir saat hujan, menyebabkan kawasan pesisir pantai di kabupaten Sikka, terutama pantai utara, selalu dipenuhi sampah.
“Setiap minggu, kami selalu lakukan aksi bersih pantai setiap hari Sabtu, khususnya di pantai Lokaria, Desa Habi, di kota Maumere. Kami juga melibatkan relawan Maumere Diving Club serta wisatawan asing yang menginap di beberapa cottage di kota Maumere,” sebut Wenefrida Efodia Susilowati, Direktur Bank Sampah Flores, Rabu (29/8/2018).
Direktur Bank Sampah Flores, Wenefrida Efodia Susilowati. -Foto: Ebed de Rosary
Dikatakan Susi, sapaannya, dalam seminggu rata-rata sampah plastik yang dikumpulkan minimal 10 karung ukuran 50 kilogram serta sampah lainnya seperti kertas, kaleng, tisu, panpres, botol kaca dan lainnya sebanyak 5 karung ukuran 50 kilogram.
“Saat musim hujan atau gelombang besar, jumlah sampah yang terkumpul lebih banyak lagi, bisa dua kali lipat dari biasanya. Ini menandakan, bahwa laut kita masih dipenuhi sampah-sampah plastik yang sangat menganggu ekosistem dan kehidupan biota laut,” sebutnya.
Sampah yang  dipilih tersebut, kata Susi, akan dikumpulkan di Bank Sampah Flores untuk diproses menjadi menjadi aneka kerajinan tangan seperti  piring plastik, tas, keset atau alas kaki serta dikirim ke pulau Jawa untuk didaur ulang di pabrik pengolahan limbah.
“Kami sering diundang juga memberikan pelatihan pengolahan sampah di sekolah-sekolah dan komunitas, serta desa dan kelurahan. Namun hasil pelatihan banyak yang tidak menerapkannya, termasuk konsep bank sampah yang kami ajarkan,” tuturnya.
Bank Sampah Flores, tambah Susi, memang berniat mengelola sampah secara serius di kota Maumere, namun keterbatasan modal untuk membeli sampah dari masyarakat serta harus memiliki tempat untuk menampung sampah membuat aktivitas yang dilakukan masih terbatas, apalagi tenaga kerja juga tidak dimiliki.
“Untuk memungut sampah saja, kami harus bekerja sama dengan berbagai instansi, dengan mengadakan sebuah kegiatan bersama, seperti dengan pihak Lanal Maumere dalam menanam mangrove, karang, serta membersihkan pantai dan pemukiman warga di pesisir pantai,” tuturnya.
Sementara itu, salah seorang warga kota Maumere, Fransiska Sarni yang ditemui di pasar tingkat Maumere, mengatakan, kebiasaan membuang sampah di masyarakat kabupaten Sikka masih belum dapat dihilangkan. Sebab, bukan saja di jalan, di areal kosong saja masyarakat sering membuang sampah sembarangan.
“Coba dilihat di sepanjang turap pengaman pantai di kota Maumere, banyak sekali ditemukan sampah-sampah seperti rambut dan juga potongan-potongan kain yang dibuang di bebatuan tanggul. Beberapa tanah kosong di kota Maumere saja masih ada yang buang sampah di tempat itu,” tuturnya.
Yang lebih parah lagi, tambah Siska, sapaannya, hampir di setiap jalan raya, baik di jalan kabupaten maupun jalan negara di kota maumere, setiap hari ditemukan ada tikus mati yang dibuang di badan jalan, sehingga selalu dilindas kendaraan saat lewat, dan ini sepertinya sudah jadi kebiasaan.
“Kita seharusya malu dan harus ada tindakan tegas, sebab ini sudah jadi kebiasaan di masyarakat, bila ada tikus yang mati, maka harus dibuang di badan jalan agar dilindas kendaraan. Apakah pemerintah tidak memperhatikan hal ini? Seharusnya ini disampaikan ke masyarakat lewat pengumuman ataukan sosialisasi di kantor lurah,” harapnya.
Baca Juga
Lihat juga...