Usaha Kuliner Terdampak Kenaikan Gas Tiga Kilogram

Editor: Mahadeva WS

195

LAMPUNG – Pemilik usaha kecil kuliner di Lampung Selatan terdampak lonjakan harga gas di pengecer. Harga gas tiga kilogram melonjak hingga Rp25.000 di tingkat pengecer.

Santi (30), salah satu pemilik warung makan tenda biru di Jalan Lintas Sumatera KM 76, menyebut, lonjakan harga gas sudah terjadi sejak dua pekan silam. Harga tabung gas elpiji subsidi ukuran 3 kilogram, semula di dijual Rp21.000, kini melonjak menjadi Rp25.000 pertabung.

Selain harga yang melonjak, beberapa pengecer disebutnya tidak memiliki stok yang cukup untuk warga. Santi menyebut, Dirinya harus mencari tabung gas elpiji tiga kilogram ke lain desa. Kenaikan harga tersebut mulai dirasakan sangat memberatkan. Kondisi tersebut dikarenakan, kenaikan harga gas dibarengi dengan kenaikan bahan baku kuliner yang dijualnya.

Santi menyebut, kenaikan harga gas dibarengi kenaikan harga daging ayam dan telur ayam. Penjual pecel ayam, lele dan makanan dengan konsep serba sepuluh ribu (Serbu) tersebut mengatakan, harga ayam di pasaran saat ini Rp55.000 perekor, untuk ukuran 1,5 kilogram. Semula harganya hanya Rp35.000 perekor untuk bobot 1,5 kilogram.

Demikian juga harga telur ayam, yang semula dijual Rp25.000 perkilogram, kini bertengger di harga Rp32.000 perkilogram. “Sebagai pemilik usaha kecil modal yang dipergunakan dipastikan membengkak dampak kenaikan bahan bakar memasak, bahan baku untuk berjualan. Sementara harga kuliner tidak bisa seketika dinaikkan demi kenyamanan pelanggan,” ujar Santi saat ditemui Cendana News, Selasa (7/8/2018).

Pemilik warung Serbu lainnya, Wiwin (30) menyebut, harga gas ukuran tiga kilogram sudah naik sejak dua pekan terakhir. Harga tabung gas elpiji yang semula dijual Rp21.000 naik menjadi Rp23.000. Meski kenaikan tidak signifikan, namun kenaikan tersebut cukup berpengaruh pada usahanya.

Sementara, pembelian gas ukuran tiga kilogram untuk usaha warung kuliner miliknya, dibatasi maksimal tiga tabung. Pembatasan tersebut mencegah warga untuk tidak membeli dalam jumlah banyak, terutama untuk pemakai langsung. Kenaikan harga gas ikut menambah daftar peningkatan modal usaha kulinernya. “Sudah saatnya ada operasi pasar gas elpiji, daging ayam dan telur ayam karena kenaikan sudah memberatkan pemilik usaha kecil seperti kami,” tandas Wiwin.

Distributor dari Pertamina melakukan proses pengiriman tabung elpiji ukuran tiga kg ke sejumlah pengecer [Foto: Henk Widi]
Simanjuntak (50), pemilik pangkalan LPG tiga Kilogram Pertamina Regional Gas Domestik menyebut, kenaikan harga sudah terjadi sejak dua pekan terakhir di wilayah tersebut. Kenaikan terjadi sejak di tingkat distributor, sehingga Dia harus menaikkan harga gas.

Kebutuhan gas tiga kilogram disebutnya, diperuntukkan bagi pengguna langsung yang didominasi pemilik usaha kecil, dan warung untuk dijual kembali. Simanjuntak menyebut, sekali pengiriman, pangkalan miliknya yang berada di Jalan Lintas Sumatera KM 02 Bakauheni, mendapat kiriman 560 tabung. Sesuai jadwal Dia mendapat kiriman pada pekan pertama dan pekan keempat setiap bulan.

Pedagang langsung akan mendatangi pangkalan miliknya, saat distibutor datang memasok gas. Pembatasan pembelian maksimal tiga tabung untuk pengguna rumah tangga dan 10 tabung gas pengecer dilakukan untuk pemerataan. “Pembeli gas di pangkalan saya sudah terdaftar terutama pengecer sehingga kuota kebutuhan tidak akan kurang,” papar Simanjuntak.

Simanjuntak menyebut harga gas elpiji yang diperoleh dari distributor elpiji Pertamina saat ini dibeli dengan harga Rp19.000 pertabung. Harga sebesar Rp23.000 diklaimnya, termasuk harga yang cukup wajar. Hal itu dikarenakan, Dia harus membayar upah kuli bongkar muat tabung di pangkalan.

Harga yang naik di tingkat pangkalan menjadi faktor kenaikan harga gas tiga kilogram di pengecer. Selain berdampak bagi pemilik usaha kuliner di Jalinsum, kenaikan harga gas juga dirasakan sejumlah pedagang kecil di Kalianda. Pedagang makanan kecil berupa batagor, siomay pengguna tabung gas elpiji tiga kilogram sebagian sudah beralih menggunakan anglo berbahan bakar arang.

Penggantian bahan bakar arang dilakukan untuk menghemat biaya modal berjualan. “Harga gas naik makanya saya pindah gunakan anglo ditambah kenaikan harga telur sangat membebani pemilik usaha kecil seperti saya,” cetus Imron (30) seorang pedagang di pasar malam Kalianda.

Baca Juga
Lihat juga...