Volume Pasir Menurun Akibat Kemarau, Penambang Pilih Beralih Profesi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

972

LAMPUNG — Bahan bangunan untuk pembuatan pondasi, pembuatan paving blok, rigid beton berupa pasir sungai mulai berkurang di wilayah Lampung Selatan. Kondisi tersebut dampak musim kemarau yang menyebabkan air sungai menyusut.

Sulaiman (40), warga Dusun Cilamaya Desa Bakauheni salah satu pencari pasir di Sungai Kubang Gajah menyebutkan, kemarau menjadi faktor berkurangnya pasokan pasir.

“Penurunan hasil tambang pasir sangat signifikan jika dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Bahkan mencapai 50 persen,” sebutnya saat ditemui Cendana News, Jumat (3/ 8/2018).

Disebutkan, saat hujan masih kerap turun, volume air juga meningkat dan membawa pasir dari hulu. Hal tersebut membuat tempat pengambilan pasir dengan menggunakan alat tradisional selalu tersedia.

Sulaiman menyebutkan, ada sekitar 50 penambang tradisional yang tersebar di sejumlah titik dan menggantungkan ekonominya dengan keberadaan pasir tersebut. Penambang terbanyak terdapat di Cilamaya dan Gubuk Seng dan sebagian lagi berada di wilayah Kepayang serta dusun Kubang Gajah.

“Penurunan volume pasir membuat sebagian pencari pasir beralih ke pekerjaan lain. Mereka ada yang memilih menjadi tukang ojek, buruh bangunan hingga buruh angkut,” sebutnya.

Sungai Kubang Gajah yang kering mengakibatkan pasir yang akan ditambang mengalami penurunan volume [Foto: Henk Widi]
Penurunan juga terlihat dengan hasil yang dikumpulkan di lokasi pengepulan. Saat musim hujan, ia dapat memperoleh dua dum truk. Selama kemarau hanya mampu mendapatkan satu dum truk yang rata rata hanya berisi satu rit pasir.

“Pasir yang kami tambang terkumpul di ceruk ceruk sungai, meski mudah mengambilnya namun volumenya berkurang,” beber Sulaiman.

Pencari pasir lainnya, Jumadi (30)menyebutkan, penyusutan volume pasir tidak berdampak pada harga. Empat kubik pasir bahkan harganya masih stabil di kisaran Rp220ribu.

“Sekarang proyek sudah hampir selesai sehingga permintaan pasir juga menurun. Jika ada volumenya lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya,” cetus Jumadi.

Proses mencari pasir sungai diakui Jumadi jika di rata rata dirinya bisa memperoleh Rp30ribu per hari. Jumlah yang minim tersebut diakuinya dilakukan dibandingkan dirinya tidak memiliki sumber penghasilan.

Pasca berkurangnya hasil penambangan ia memilih menjadi buruh angkut jagung. Menggunakan kendaraan roda dua ia mendapat upah Rp5 ribu per karung.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.