Wabah Baru Ebola Muncul di Kawasan Timur Kongo

1.205
ilustrasi virus ebola - Foto: Istimewa

GOMA – Empat orang dinyatakan positif terjangkit Ebola, di kawasan timur Republik Demokratik Kongo. Kementerian Kesehatan setempat mengungkapkan kondisi tersebut, empat hari setelah penyebaran ebola yang menewaskan 33 orang di daerah utara negera tersebut, dinyatakan berhasil dihentikan.

Sebanyak 20 orang telah tewas, akibat demam yang disertai pendarahan di daerah sekitar Mangina, sebuah kota padat yang berada 30 kilometer di selatan Kota Beni dan 100 kilometer dari perbatasan Uganda. Kendati demikian, Kementerian Kesehatan Kongo menyebut, tidak mengantongi bukti yang menghubungkan penyebaran wabah Ebola baru di kawasan timur tersebut, dengan wabah lain di bagian utara.

Tercatat penyebaran wabah di daerah utara mulai terjadi pada April lalu. Kedua wilayah itu dipisahkan jarak sejauh 2.500 kilometer. Namun kasus terbaru tersebut menunjukkan, pola penyebaran Ebola masih sulit dipahami. Terutama untuk kejadian penyebaran di hutan-hutan tropis Kongo, tempat virus itu menemukan habitat aslinya.

Kejadian terbaru tersebut, menjadi penyebaran ke-10 kalinya wabah Ebola, di negara Afrika Tengah tersebut sejak 1976. Pertama kali virus Ebola ditemukan di dekat sebuah sungai kawasan utara. Ebola diduga disebarkan oleh kelelawar dan menjangkiti hewan-hewan liar.

Daging hewan liar bisa ditemui dengan mudah di pasar-pasar yang ada di Kongo. Setelah menjangkiti manusia, korban kemudian akan mengalami demam yang disertai pendarahan, muntah, dan diare. Ebola menyebar di antara manusia melalui cairan tubuh.

Sebelumnya pada 2013 sampai 2016 lalu, wabah Ebola menewaskan sedikitnya 11.300 orang di kawasan Afrika Tengah, seperti Sierra Leone, Liberia, dan Guinea. Sebuah tim beranggotakan 12 pakar dari Kementerian Kesehatan Kongo dikirimkan ke lokasi penyebaran terbaru tersebut.

Kongo dan pakar kesehatan internasional sempat dipuji, karena merespon dengan cepat wabah Ebola di kawasan utara. Di sana, mereka menggunakan vaksin eksperimental yang dibuat oleh Merck. Selain itu, mereka juga secara agresif melacak orang-orang yang menjalin kontak dengan pasien Ebola. Hal itu untuk mengontrol penyebaran virus mematikan tersebut. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...