Warga di Lamsel Manfaatkan Biogas Kotoran Sapi

Editor: Koko Triarko

1.595
LAMPUNG – Sejumlah warga di Dusun Karang, Desa Kelaten, Lampung Selatan, memaksimalkan pemanfaatan biogas dari kotoran sapi, akibat naiknya harga gas bersubsidi.
Sumarsih (41), warga Dusun Karang, terpaksa beralih ke biogas dari kotoran sapi yang dipelihara suaminya, Suyanto (46). Tujuh ekor sapi jenis peranakan ongole (PO) menghasilkan kotoran sebagai sumber biogas yang sudah terpasang sejak tiga tahun terakhir.
Menurutnya, instalasi biogas tersebut dipasang untuk memanfaatkan kotoran sapi milik Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) usaha ternak sapi, sebagai upaya meminimalisir limbah kotoran sapi berupa air seni dan kotoran. Biogas yang dihasilkan disalurkan melalui instalasi khusus untuk penerangan, serta bahan bakar memasak memakai kompor biogas. Hasilnya, keluarganya bisa menghemat pengeluaran gas elpiji ukuran 3 kg selama dua bulan.
Memasak air menggunakan kompor biogas kotoran sapi [Foto: Henk Widi]
“Kalkulasi pengeluaran dari pembelian gas elpiji akan semakin terasa, saat harga gas elpiji subsidi naik, sehingga pemakaian biogas akan sangat terasa dampaknya untuk penggunaan sehari-hari,” terang Sumarsih, saat ditemui Cendana News, Minggu (12/8/2018).
Sumarsih menyebut, pada pemakaian normal disertai pemakaian kompor biogas, ia bisa menghemat gas elpiji 3 kg selama dua pekan. Sebab, pemakaian normal gas elpiji ukuran 3 kilogram miliknya bisa dipakai selama sepuluh hari untuk memasak air.
Selama satu bulan, ia bisa melakukan penghematan di atas Rp100 ribu, dengan menggunakan biogas. Penghematan tersebut dengan cara menggunakan gas elpiji melon hanya untuk memasak air panas untuk termos air minum.
Pada penggunaan skala besar untuk acara khusus, Sumarsih lebih suka menggunakan kompor biogas. Sebab, meski biogas digunakan dalam sehari dengan produksi kotoran maksimal biogas bisa terus dihasilkan tanpa harus menunggu lama.
Selain dipergunakan untuk kebutuhan memasak, bahan bakar biogas disebutnya juga dimanfaatkan untuk lampu penerangan sejumlah titik di rumah miliknya, sebagai cadangan saat lampu PLN padam.
“Selain menghemat pembelian gas elpiji, juga pengeluaran listrik untuk penerangan yang bisa dihasilkan dari biogas,” terang Sumarsih.
Pada pemakaian normal dengan gas ukuran 3 kilogram seharga Rp25.000, untuk sepuluh hari selama satu bulan, ia harus mengeluarkan Rp75.000 atau Rp150.000 untuk dua tabung. Penggunaan biogas lengkap dengan instalasi sekaligus energi terbarukan dari kotoran sapi membuatnya bisa menghemat, bahkan menabung.
Sistem pemeliharaan ternak milik Bumdes dengan bagi hasil anak, juga memberi keuntungan baginya dan suami sebagai penggaduh.
Sumarsih juga menggunakan tungku tanah liat,  sebagai cadangan ketika membutuhkan alat memasak dalam jumlah besar, ketika melakukan hajatan atau acara khusus. Penggunaan tungku tanah sekaligus menjadi penyokong baginya untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar ketika harga elpiji melonjak.
Apriantoni, memanfaatkan kotoran sapi untuk biogas [Foto: Henk Widi]
Pengguna biogas lainnya di Dusun Karang Mekar, Desa Kelaten, Apriantoni (24), menyebut, ada sekitar tiga peternak memanfaatkan biogas. Ia sendiri mendapatkan biogas dari kotoran sapi sebanyak delapan ekor.
Apriantoni mengatakan, warga lain yang memanfaatkan biogas, mulai merasakan manfaat saat harga gas naik. Penghematan bisa dilakukan sekaligus menjadi investasi jangka panjang.
Apriantoni juga menyebut, kotoran yang dimanfaatkan sebagai biogas disalurkan ke biodigester dan saluran khusus. Hasilnya, limbah ternak sapi tidak mengganggu lingkungan, bahkan membantu penghematan untuk pengeluaran membeli gas elpiji subsidi ukuran 3 kilogram.
Meski menggunakan biogas dan menghemat, ia mengaku masih ada kendala terkait pemeliharaan dan peralatan.
“Sejumlah alat instalasi belum dijual bebas, termasuk kompor biogas dan lampu, harapannya ke depan peralatannya mudah dibeli,” beber Apriantoni.
Delapan ternak sapi yang dipeliharanya dari jenis limosin dan peranakan ongole, juga menjadi tabungan. Saat menjelang hari raya Idul Adha atau Kurban, ia sudah menjual dua ekor ternak sapi miliknya seharga Rp20 juta per ekor. Hasil penjualan dipergunakan untuk keperluan keluarga, dan sebagian dipergunakan membeli bibit sapi baru. Ia juga masih bisa menabung untuk biaya menikah pada saat dirinya mendapatkan calon istri.
Baca Juga
Lihat juga...