Warga di Lamsel Manfaatkan Kemarau untuk Pengawetan Singkong

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

1.280

LAMPUNG — Kondisi musim kemarau justru digunakan oleh warga di Lampung Selatan untuk pembuatan bahan makanan dari singkong. Panas matahari maksimal dapat memberikan hasil maksimal dalam proses pengeringan.

Suminah (60) warga Desa Kelaten Kecamatan Penengahan salah satu yang memanfaatkan hasil pertanian singkong untuk diolah menjadi makanan tradisional jenis gaplek dan tiwul.

“Gaplek dari singkong bisa diolah menjadi gatot sejenis makanan yang dibuat dengan merebus dicampurkan dengan parutan kelapa. Jika gaplek ditumbuk menjadi butiran bisa menjadi beras untuk pembuatan nasi tiwul. Dapat dipakai sebagai pengganti nasi saat tidak panen padi,” terang Suminah, Kamis (2/8/2018)

Diceritakan, saat masih kecil dan tinggal di Yogyakarta, ia pernah mengalami bencana kekeringan dan sulit mendapatkan makanan. Meski sulit diperoleh, ia telah diajarkan secara turun temurun memanfaatkan bahan makanan pengganti beras.

“Kami bisa menghemat mengonsumsi beras dengan sistem selang seling memasak tiwul kadang beras dicampur dengan jagung,” beber Suminah.

Langkah tersebut diakuinya sudah lama dilakukan sekaligus ikut menyukseskan program pengurangan konsumsi beras. Bahan makanan berasal dari singkong menjadi gaplek, tiwul dan mangleng diakuinya bisa disimpan dalam jangka satu tahun dengan tekhnik penyimpanan yang sempurna.

Selain Suminah warga Penengahan, Sujarwo (50) warga Desa Tanjungsari Kecamatan Palas juga memanfaatkan singkong untuk pembuatan gaplek. Gaplek dari singkong tersebut diakuinya sengaja dibuat untuk memenuhi pesanan pemilik usaha kuliner nasi tiwul di wilayah tersebut.

“Selain untuk warung kuliner penyedia nasi tiwul sejumlah warga sengaja memesan gaplek dan nasi tiwul untuk pengganti nasi terutama penderita diabetes,” beber Sujarwo.

Nining salah satu warga yang memanfaatkan singkong untuk dibuat menjadi gaplek memanfaatkan datangnya musim kemarau [Foto: Henk Widi
Pemanfaatan singkong dengan pengawetan memanfaatkan musim kemarau sekaligus menaikkan nilai jual. Pada kondisi basah dijual dengan harga Rp500 hingga Rp700 per kilogram untuk pembuatan tepung tapioka. Bahan pembuatan keripik seharga Rp1.000 per kilogram, sementara setelah diolah menjadi gaplek dan tiwul dapat menjual dengan harga Rp12.000 per kilogram.

Warga lain bernama Nining (35) juga sengaja memanfaatkan singkong menjadi gaplek. Program pemberdayaan ekonomi keluarga melalui program Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) di antaranya melalui program satu hari tanpa konsumsi nasi (One Day No Rice).

Nining menyebut singkong yang tidak diolah bisa membusuk di tanah saat usia panen. Tekhnik pengeringan yang baik selama musim kemarau bisa menjaga daya simpan makanan sumber karbohidrat tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...