Warga Maumere Keluhkan Rusaknya Jalan Brai

Editor: Koko Triarko

1.961
MAUMERE – Pembangunan jembatan Nangameting di jalan negara Trans Flores, tepatnya di depan patung penari Bebing, kelurahan Nangameting, Kota Maumere, membuat pemerintah terpaksa mengalihkan alur kendaraan dari wilayah timur yang hendak menuju kota Maumere maupun sebaliknya, sejak Juni hingga Desemeber 2018.
“Sejak kendaraan dialihkan melewati jalan Brai dan jalan semen di pesisir pantai yang berdebu, kedua jalan tersebut pun kini mengalami kerusakan parah. Aspal jalan di jalan Brai maupun semen di jalan di pesisir pantai sudah terkelupas,” tutur Bernadus Nong, warga Maumere, Senin (27/8/2018).
Pemerintah kabupaten Sikka, kata Bernadus, seharusnya sebelum pembangunan jembatan Nangameting memperbaiki atau melakukan pengasapalan terhadap jalan Brai terlebih dahulu, sebab jalan tersebut biasanya jarang dilewati kendaraan dan status jalannya adalah jalan kabupaten.
Ketua Badan Pimpinan Cabang (BPC) Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) cabang Sikka, Paulus Papo Belang. -Foto: Ebed de Rosary
“Akibat pengalihan jalur, volume kendaraan, khususnya mobil yang melewati jalan Brai, meningkat hingga 100 persen lebih, sehingga aspal jalan yang sudah terkelupas sebelumnya, menjadi semakin parah. Apalagi, jalan tersebut pun dilewati kendaraan bertonase besar, seperti truk dan mobil pengangkut kaontainer,” tuturnya.
Belum lagi, tambah Bernadus, jalan alternatif di pesisir pantai yang selama ini tidak dipergunakan, tiba-tiba dilewati mobil dan sepeda motor dalam jumlah besar, sehingga tidak heran jalan tersebut mengalami kerusakan. Semennya terkelupas dan batu kerikil mulai berserakan.
“Yang parah lagi, lorong di jalan Brai pun ikut dipergunakan sebagai jalan alternatif bagi kendaraan roda dua, sehingga selain menimbulkan kebisingan bagi warga sekitarnya, juga membuat jalan semen tersebut pun mulai rusak,” ungkapnya.
Ketua Badan Pimpinan Cabang (BPC) Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) cabang Sikka, Paulus Papo Belang, yang ditemui Cendana News, menyesalkan penggunaan jalan raya semen alternatif yang berada di pesisir pantai, dan jalan Brai untuk kendaraan roda empat dengan volume kendaraan yang melebihi kapasitas.
“Kalau kedua jalan tersebut dipergunakan selama enam bulan, pasti akan rusak. Sebab, kondisi jalan tersebut pun dibuat bukan untuk dilewati kendaraan dalam jumlah banyak, apalagi dengan tonase besar,” sebutnya.
Yang lebih parah, kata Papo, jalan semen di pesisir pantai yang dipergunakan sebagai jalan alternatif, tentu akan lebih cepat rusak. Juga debu akibat penggunaan ruas jalan tanah di sisi timur sepanjang sekitar 100 meter sangat mengganggu kenyamanan pengendara dan warga sekitar.
Seharusnya, Dirjen Bina Marga dalam hal ini, Satker Jalan Nasional selaku pengelola jalan negara, memikirkan efek pengalihan arus kendaraan dan penggunaan jalan alternatif bagi kendaraan bermotor, termasuk kondisi jalan alternatif dan kekuatannya.
“Usai jembatan dibangun dan jalan negara kembali dipergunakan, pastinya kedua jalan alternatif tersebut pun mengalami kerusakan parah. Yang paling parah tentunya jalan Brai, sebab jalan tersebut pun merupakan jalur jalan kabupaten dan selalu dilewati kendaraan, sehingga bila tidak diaspal kembali pastinya akan menggangu kenyamanan pengendara,” ungkapnya.
Baca Juga
Lihat juga...