Warga Nebe Memanfaatkan Tanah Tumpang untuk Bertani

Editor: Mahadeva WS

527

MAUMERE – Warga Desa Nebe, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, sejak Juni 2018 memanfaatkan tanah tumpang untuk bertani. Sendimentasi tanah yang terbawa banjir dan membentuk delta sungai tersebut, berada persis di sebelah barat bantaran kali Nanggagete.

Maria Dua Lodan warga kampung Wairbou desa Nebe kecamatan Talibura kabupaten Sikka. Foto : Ebed de Rosary

Warga memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam jagung dan sayuran. “Sudah hampir dua bulan warga menanam sayuran dan jagung di tanah yang terbentuk akibat terbawa banjir dari pegunungan. Tapi biasanya sementara saja, kalau sudah musim hujan akan terjadi banjir di kali Nangagete,” sebut Maria Dua Lodan, warga Nebe, Senin (6/8/2018).

Maria menyebut, lahan tersebut luasnya paling banyak mencapai 10 hektare. Bentukanya memanjang mengkuti aliran sungai. Setiap satu warga membuat bedeng sepanjang 20 meter dengan lebar maksimal 15 meter. “Kalau musim kemarau biasanya air kali menyusut, ketinggiannya hanya sekitar 30 sentimeter saja. sehingga bagian pinggir kali di sebelah utara tidak dipenuhi air kali,” jelasnya.

Tetapi jika hujan turun pegunungan atau di daerah hulu, air kali bisa meluap hingga memenuhi seluruh badan kali yang memiliki lebar hampir 100 meter tersebut. Dampaknya, semua tanah bahkan pepohonan yang ada bisa terbawa banjir.

Hal senada disampaikan Nadus. Salah seorang warga Wairbou, Desa Nebe tersebut memanfaatkan tanah tumpang sejak beberapa bulan lalu. Akibat banjir yang terjadi beberapa tahun belakangan, timbunan tanah di bagian utara kali semakin tinggi. “Makanya warga lebih banyak menanam jagung atau sayur-sayuran saja sehingga bisa cepat dipanen. Warga juga membuat pagar keliling dari bambu dan kayu sebab takutnya akan dimakan sapi,” tuturnya.

Setiap pagi dan sore, warga terlihat merawat tanamannya. Mereka menyiram dengan menggunakan air kali yang hanya berada dua meter dari lahan yang ditanami. “Tapi terkadang juga beresiko, kalau terjadi hujan lebat seharian di hulu atau pegunungan maka pasti kali Nangagete akan meluap dan terjadi banjir. Biasanya ketinggian airnya bisa sampai semeter, sehingga semua tanaman di sekitarnya pun tersapu banjir,” ungkapnya.

Para pemilik tanah kebun di kedua sisi kali, lahanya sudah banyak yang terkikis air Kali Nangagete yang sering meluap. “Kalau banjir, warga tidak berani melintasi kali, dari Kampung Waibou menuju Dusun Belawuk yang berada di sebelah selatan kali sebab airnya sangat deras sehingga bila tidak berhati-hati bisa terseret banjir,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...