Warga Pesisir Bakauheni Berburu Kerang dan Lumai

Editor: Koko Triarko

214
LAMPUNG – Kondisi air laut yang surut di wilayah pesisir Kecamatan Bakauheni dan Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, dimanfaatkan warga untuk mencari bahan makanan alami di tepi pantai.
Warsiem (50), salah satu warga Dusun Sumber Muli, Desa Totoharjo, menyebut, saat surut dirinya bisa mencari bahan makanan secara gratis di tepi pantai. Jenis bahan makanan yang bisa diolah menjadi kuliner sajian untuk keluarga, di antaranya kerang laut atau dikenal dengan remis serta anggur laut atau lumai.
Warsiem menyebut, kegiatan warga mencari kerang sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam. Pantai dengan bebatuan alami, sebagian berasal dari sisa letusan Gunung Krakatau dan sebagian dari sungai, menyatu dengan pasir menjadi tempat hidup lumai dan kerang laut.
Harjo mengumpulkan kerang dengan menggunakan pisau untuk mencungkil batu dan pasir [Foto: Henk Widi]
Untuk mencari kerang dan lumai itu, pun Warsiem hanya menggunakan alat sederhana. Bahkan, hanya menggunakan kayu untuk mencongkel bebatuan yang kerap menjadi tempat bersembunyi kerang.
Ia mengaku kerap mendapatkan kerang atau remis satu ember penuh dengan berat mencapai dua hingga lima kilogram. Kerang jenis remis akan semakin banyak saat musim penghujan, dengan banyaknya lumpur mengalir dari sungai Sumber Muli.
“Kerang kemudian dibersihkan, karena sebagian mengandung pasir pada cangkangnya, bahkan lumut. Caranya dengan mencuci di air laut dan menyimpannya dalam air selama beberapa jam, agar kotoran kerang keluar, baru bisa diolah,” terang Warsiem, saat ditemui Cendana News tengah mencari kerang di pantai Sumber Muli, Sabtu (4/8/2018).
Kerang yang kerap dicari sesudah tengah hari menjelang sore saat air laut surut itu, dikumpulkan dan bisa diolah menjadi beberapa jenis makanan. Sesuai dengan kesukaan Warsiem dan keluarganya, kerang dimasak menjadi kerang rebus yang dicungkil dan disantap dengan sambal kecap. Selain itu, ia juga kerap merebus kerang dengan menggunakan bumbu cabai hijau, bawan g merah, bawang putih serta penyedap rasa.
Kuliner hasil laut yang diperoleh dengan mudah, kata Warsiem, menjadi cara baginya dan warga sekitar pantai menghemat pengeluaran untuk membeli lauk. Saat hasil kerang melimpah pada bulan Desember hingga Januari, selain dikonsumsi untuk kebutuhan keluarga, kerang juga dijual kepada warga lain.
“Biasanya ada yang mau membeli dengan sistem borongan, satu kilogram dibeli sepuluh ribu sesuai kesepakatan, sisanya saya masak sendiri,” beber Warsiem.
Selain Warsiem, warga lain bernama Harjo (60), menggunakan pisau untuk mencongkel bebatuan dan pasir tempat berkembang kerang. Kerang yang sudah diperoleh dikumpulkan dalam ember khusus.
Harjo mengolah kerang menjadi pepes kerang. Caranya, kerang setelah direbus dan dimasak dengan menggunakan parutan kelapa, cabai, kemangi, lalu dibakar dengan daun pisang.
Olahan kuliner berbahan kerang tersebut sebagian dimasak dengan bumbu khusus, sehingga bisa dijadikan lauk saat menyantap nasi. Memanfaatkan kerang sebagai bahan makanan yang gratis dan masih segar dari pantai, diakui Harjo sudah dilakukan warga sejak puluhan tahun silam.
Selain memanfaatkan kerang, dirinya juga bisa mencari ikan dengan menjala ikan di sekitar muara sungai, dengan hasil ikan bader, udang serta ikan bandeng.
“Asal mau mencari bahan makanan di sekitar pantai, banyak jenis bahan kuliner yang bisa diolah tanpa harus membeli. Cukup memakai jaring, pancing serta, bahkan alat,” tegas Harjo.
Namun, Harjo juga kerap mempergunakan tombak khusus saat musim gurita. Dengan tombak khusus, ia bisa memperoleh gurita dan ikan-ikan karang yang terjebak di ceruk-ceruk batu karang saat air laut surut.
Selain mendapatkan ikan, dirinya bahkan bisa mencari bahan makanan segar yang dikenal dengan anggur laut atau lumai.
Mernurutnya, anggur laut atau lumai menjadi bahan kuliner segar yang dikenal masyarakat pesisir pantai. Tumbuhan laut yang tumbuh di batu karang tersebut bisa disantap mempergunakan sambal pekhos atau seruit dari belimbing wuluh, cabai rawit serta garam.
Cita rasa khas dan asam pada lumai, kerap disantap bersama nasi hangat dan ikan bakar yang diperoleh dari hasil mencari ikan dengan jaring, menombak atau memancing saat kondisi air surut tanpa gelombang.
Baca Juga
Lihat juga...