Wisata Edukasi Museum Kesehatan Jiwa di Malang

Editor: Koko Triarko

242
MALANG – Sebagai tempat tujuan wisata di Jawa Timur, Malang tak hanya menawarkan pesona keindahan alam, tetapi juga beberapa museum yang layak dikunjungi sebagai wahana wisata edukasi. Salah satunya, Museum Kesehatan Jiwa (Keswa) di komplek Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat (RSJRW), di kecamatan Lawang.
Museum yang diresmikan pada 23 Juni 2009 oleh Dirjen Pelayanan Medik Departemen Kesehatan pada waktu itu, Dr. Farid Husein, MPH., merupakan museum kesehatan jiwa pertama dan satu-satunya di Indonesia.
Pengelola museum, Kasturi, mengatakan, Museum Keswa sengaja dibangun sebagai bukti nyata yang sangat penting dalam sejarah perjalanan panjang perkembangan kesehatan jiwa di Indonesia, dari kurun waktu pendudukan Belanda, Jepang hingga tonggak sejarah kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, hingga saat ini sudah terdapat kurang lebih 700 koleksi benda-benda bersejarah dalam dunia kesehatan jiwa, yang tersimpan dan terpajang dengan rapi di museum tersebut.
Pengelola Museum Kesehatan Jiwa, Kasturi dan Mashud. -Foto: Agus Nurchaliq
“Benda-benda koleksi yang ada di museum sebagian besar merupakan barang inventaris RSJRW, yang sengaja dikumpulkan untuk dijadikan sebagai wahana pembelajaran terkait perkembangan sejarah dunia medis, khususnya kejiwaan,” jelasnya.
Lebih lanjut dikatakan Kasturi, di dalam museum Keswa tersimpan artefak kuno zaman pemerintahan kolonial Belanda dan dokumen-dokumen penting sebagai bagian dari sejarah RSJRW.
Sementara itu, pengelolan museum Keswa lainnya, Mashud, menyebutkan, sejarah mencatat penanganan pasien jiwa sebelum mengenal pengobatan modern, sudah ada cara-cara terapi yang dianggap bisa menentramkan, di antaranya melalui cara perendaman (permanete baden) dan dibungkus dengan menggunakan straight jacket. Terdapat pula sebuah proyektor film sebagai sarana rehabilitasi dan hiburan bagi penderita.
“Proyector ini sejak 1950-an hingga 1970-an, berfungsi sebagai media terapi bagi penderita,” terangnya.
Ada juga Pasung yang terbuat dari kayu panjang yang difungsikan untuk menangani orang-orang yang terkena gangguan jiwa.
Menurut Mashud, Pasung tersebut merupakan bukti ketidaktahuan masyarakat tentang gangguan jiwa di masa silam, sehingga meninggalkan jejak kelam bagi penyandang dan keluarganya.
“Pasung dijadikan alternatif dalam menangani orang-orang yang mengalami gangguan jiwa, dan hingga sekarang di zaman modern masih saja digunakan oleh sebagian masyarakat,” ujarnya.
Selain berbagai peralatan kesehatan jiwa, di museum Keswa juga menampilkan berbagai lukisan hasil karya pasien RSJRW sebagai terapi aktivitas di unit rehabilitasi RSJRW.
Menurutnya, melukis merupakan salah satu metode terapi yang sangat dianjurkan untuk pasien gangguan jiwa, sebagai pengalihan halusinasi sekaligus melatih konsentrasi pasien gangguan jiwa.
Dari sekian lukisan yang dipajang, ada satu lukisan karya pasien yang cukup menarik perhatian, yakni lukisan berjudul ‘WSWR’ yang dibuat pada 1991.
Museum Kesehatan Jiwa –Foto: Agus Nurchaliq
Menurut Mashud, lukisan tersebut menggambarkan kekecewaan pelukis, karena pernah dikhianati seseorang yang dianggap sebagai pengecut, atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah wani silit wedi rai (WSWR).
Sementara itu, disampaikan Mashud, pengunjung museum Keswa kebanyakan berasal dari anak-anak sekolah maupun mahasiswa. “Untuk pengunjung dari masyarakat umum masih jarang, yang banyak dari siswa sekolah,” akunya.
Museum Kesehatan Jiwa buka setiap hari Senin hingga Jumat, pukul 08.00-15.00 WIB.
Baca Juga
Lihat juga...