Yayasan Bakti Jogja Fokuskan Bantuan ke Sektor Pertanian

Editor: Koko Triarko

1.416
YOGYAKARTA – Menginjak usianya ke-27 tahun, Yayasan Bakti Jogja memprioritaskan pemberian bantuan kepada masyarakat, dengan orientasi jangka panjang, namun kontinyu. Hal ini dilakukan dengan mendirikan tempat-tempat pelatihan, salah satunya kebun percontohan, pendidikan Yayasan Bakti Jogja di Pakem, Sleman.
“Awalnya, para pendiri memberikan bantuan secara langsung, dengan orientasi jangka pendek. Misalnya, bantuan lantainisasi pada rumah warga yang masih berlantai tanah, pembuatan jalan kampung/desa. Bantuan modal becak pada para tukang becak, hingga bantuan di daerah bencana atau kekeringan, dan sebagainya,” kata Ketua Umum Yayasan Bakti Jogja, Ir. Sucipto, saat ditemui di sela peringatan HUT ke-27 Yayasan Bakti Jogja, di Kebun Percontohan, Pakem, Sleman, Minggu (5/8/2018).
Namun saat ini, lanjut Sucipto, Yayasan Bakti Jogja lebih fokus memberikan bantuan dengan orientasi jangka panjang, namun secara kontinyu. Yakni, dengan mendirikan kebun-kebun pelatihan di bidang pertanian bagi warga. Hal ini diharapkan dapat memberikan manfaat jauh lebih besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Sejak 2016, kita sudah mulai mendirikan kebun percontohan di Pakem, Sleman, ini. Jika kebun ini berhasil, kita nanti akan buat di empat kabupaten lainnya, di Kulonprogo, Bantul, Gunungkidul, maupun di Kota Yogyakarta,” katanya.
Yayasan Bakti Jogja, kata Sucipto, merupakan yayasan yang bergerak di bidang sosial dan tidak terlibat dalam kegiatan politik. Yayasan ini didirikan pada 31 Juli 1991, oleh 32 pendiri, di antaranya Presiden kedua RI, HM Soeharto dan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
“Yayasan ini bertujuan mewujudkan masyarakat DIY yang sejahtera, dengan memberi bantuan pada mereka yang membutuhkan. Dana yayasan ini berasal dari para donatur yang kita kelola. Termasuk dengan membuka usaha, seperti BPR di Bantul,” ujarnya.
Ke depan, kata Sucipto, Yayasan Bakti Jogja telah berencana memberikan bantuan kepada masyarakat di Gunungkidul. Yakni, dengan mendampingi pengolahan usaha produksi coklat yang dilakukan para petani di daerah tersebut.
“Para petani di sana banyak yang menanam coklat. Namun, belum semua mampu mengolahnya. Kita akan bantu mengolah coklat itu, agar bisa menjadi bubuk coklat siap jual. Karena selisih cukup tinggi. Untuk coklat panen harganya hanya Rp6.000 per kilogram. Setelah difermentasi menjadi Rp20 ribu per kilogram, namun setelah jadi bubuk bisa sampai Rp200-250 ribu per kilogram. Nanti kita akan berikan mereka alat pengolahannya, termasuk soal promosi,” jelasnya.
Tak hanya itu, Yayasan Bakti Jogja juga mengaku akan membantu pengembangan budi daya sereh wangi, dengan sistem tumpang sari bagi para petani. Sereh wangi dipilih, karena dapat ditanam di bawah pohon tegakan, dan memiliki nilai jual yang cukup tinggi.
“Kita yakin, program ini dapat meningkatkan penghasilan petani, sehingga diharapkan kesejahteraan mereka juga akan meningkat,” katanya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.