Yayasan Bakti Jogja Kenalkan Microgreen Lewat Kebun Percontohan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

1.094

YOGYAKARTA — Melalui Kebun Percontohan yang dimiliki di kawasan Harjobinangun Pakem Sleman, Yayasan Bakti Jogja mengenalkan sistem pertanian terbaru yang ramah lingkungan. Sistem tersebut memungkinkan diterapkan di semua tempat, termasuk kawasan padat perkotaan.

Salah satu sistem pertanian yang biasa disebut dengan Urban Farming tersebut, adalah Microgreen. Selain tak membutuhkan tempat yang luas, sistem ini memiliki sejumlah keunggulan mulai dari perawatan yang mudah, waktu panen yang relatif lebih cepat, serta menghasilkan produk organik yang sehat untuk dikonsumsi.

“Microgreen ini sudah banyak dikembangkan di luar negri dengan model vertical garden. Biasanya untuk berbagai jenis sayuran seperti bayam merah, bayam hijau, pakcoy, selada hingga kangkung,” ujar Joko Sidik Pramono, Wakil ketua umum Yayasan Bakti Jogja, Jumat (3/8/2018).

Joko menjelaskan, Microgreen merupakan sistem pertanian yang lebih mengutamakan nilai gizi dari tanaman yang dihasilkan.

Yayasan Bakti Jogja
Joko Sidik Pramono, Wakil ketua umum Yayasan Bakti Jogja (baju putih). Foto: Jatmika H Kusmargana

Intinya adalah memelihara sayuran organik untuk dikonsumsi saat tanaman masih berukuran mini. Yakni berusia 14 hari atau dua minggu dari saat pertama disemai. Dengan bentuk masih berukuran sangat kecil, 3-5 centimeter.

“Walaupun masih sangat kecil, namun nilai gizi tiap sayuran microgreen ini sama atau setara dengan sayuran yang biasa dijual di pasaran. Bahkan bisa lebih banyak, karena bisa dimakan seluruhnya. Beda dengan sayur di pasaran yang mungkin hanya kita makan 75 persen saja. Sehingga nilai gizi yang dimakan juga hanya 76 persen saja,” katanya.

Dengan pertanian organik, tanpa pemupukan dan pestisida, sayuran dengan sistem Microgreen ini juga sangat baik bagi kesehatan. selain itu, satu ruangan berukuran 1×1 meter persegi juga sangat mungkin ditanam berbagai jenis sayuran.

“Kita mengenalkan dan mengajarkan sistem ini karena melihat semakin minimnya lahan yang ada saat ini. Ini merupakan solusi untuk masyarakat perkotaan yang ingin menanam sayur organik di rumah, namun hanya memiliki lahan sempit, serta tidak memiliki banyak waktu luang,” katanya.

Dengan media tanam berupa campuran sekam, tanah dan kompos, sayuran microgreen hanya perlu disiriram beberapa sekali. Tanpa perlu dipupuk atau disemprot dengan pestisida pembasmi hama. Tempat penanaman sendiri juga dapat memanfaatkan berbagai barang tak terpakai seperti piring hingga nampan.

Pihaknya terus menyebarkan sistem pertanian Microgreen dengan harapan masyarakat tidak tergantung dengan model pertanian tradisional. Salah satunya dengan menggelar berbagai pelatihan.

“Mereka juga kita berikan bibit secara gratis untuk diujicobakan di rumah masing-masing. Bibitnya sama persis dengan bibit sayuran biasa,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...