28 Tahun Jatuh Bangun Tekuni Usaha Batako

Editor: Satmoko Budi Santoso

415

MAUMERE – Keberadaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kabupaten Sikka tidak terlepas dari, salah satunya, sosok Lambertus Tae. Seorang lelaki perantauan asal Sumba yang merintis usaha pembuatan batako dan paving block.

“Saya termasuk orang yang pertama mendirikan usaha ini sekitar tahun 1990 dan sampai sekarang terus bertahan,” sebut Lambertus Tae, Selasa (18/9/2018), sore, di tempat usahanya di Kelurahan Waioti, Kota Maumere.

Usaha pembuatan batako dan paving block, kata Lambertus, sudah diwariskan kepada anak lelakinya yang mengurus. Sebab dirinya sudah tua dan hanya memantau saja perkembangan usahanya.

“Semua pekerjaan soal usaha ini silakan tanya saja kepada anak saya. Sebab, sekarang saya sudah mempercayakan dirinya yang mengurus semua,” sebut Lambert, sapaannya.

Produksi Rutin

Usaha yang kini ditekuni Fridolia Marselus Bria, anak lelaki Lambert, saat ini produknya sudah mencapai sekitar 20-an jenis, baik batako, paving block, batu roaster, hingga gorong-gorong.

“Produknya ada sampai 20-an jenis dan yang paling banyak dibeli batako, paving block maupun batu roaster. Baik untuk perorangan atau rumah pribadi maupun pengerjaan proyek-proyek pemerintah,” sebut Rido, sapaannya.

Fridolia Marselus Bria, pemilik usaha batako meneruskan usaha yang dirintis orang tuanya. Foto : Ebed de Rosary

Untuk perorangan, terang Rido, pemesanan bisa mencapai seribu buah. Sementara untuk proyek tertentu bisa belasan ribu buah. Untuk perorangan yang banyak dipesan yaitu batu roaster yang dipakai ventilasi rumah.

“Kalau pesanan dari kontraktor yang mengerjakan proyek, yakni gorong-gorong paving block dan batako. Kami rutin produksi setiap hari mengandalkan 8 tenaga kerja produksi agar stok produk tetap ada,” ungkapnya.

Untuk paving block, terang Rido, harga jualnya tergantung mutu. Pemesanan terkadang disesuaikan dengan kebutuhan, baik untuk taman, parkiran, dan pejalan kaki yang membutuhkan kekuatan berbeda.

“Paving block untuk parkiran Rp2500 per biji dicetak menggunakan mesin. Untuk taman dan pejalan kaki biasanya menggunakan produk yang dikerjakan secara manual dengan harga Rp2.000 per biji,” jelasnya.

Intinya, soal harga, tambah Rido, tergantung jenis produk dan kualitas seperti batako dengan kualitas yang bagus dijual seharga Rp3.500 per biji. Pesanan diantar ke tempat pembeli.

Merintis Cabang

Menyadari usaha pembuatan batako dan paving block semakin berkembang, perusahaannya juga mengembangkan usaha pembuatan tiang pagar, gorong-gorong dan produk lain. Bahkan sejak 5 tahun lalu, pembuatan produknya telah menggunakan mesin sebanyak 4 buah.

“Saya optimis usaha ini berkembang. Sebab pesanan tetap stabil dan terkdang melimpah saat ada banyak pembangunan perumahan dan gedung. Meski banyak juga usaha sejenis yang tumbuh, namun kami tetap menjaga kualitas agar pelanggan tidak lari,” ungkapnya.

Aneka produk batu roaster yang diproduksi di Kelurahan Waioti Kota Maumere yang menjadi perintis awal usaha pembuatan batako dan paving block. Foto : Ebed de Rosary

Rido tegas katakan, tidak berpikiran untuk memproduksi bata ringan. Sebab saat ini permintaan produk tersebut sangat terbatas. Selain itu biaya produksi mahal serta harga mesin produksi di atas Rp100 juta.

“Pemesanan juga jarang. Sebab bata ringan dipergunakan khusus untuk bangunan bertingkat. Bahan baku pembuatan juga sulit diperoleh di Kabupaten Sikka, sehingga saya tidak ada keinginan memproduksi. Fokus untuk membeli mesin pencetak paving block,” tuturnya.

Kendala yang dihadapi selama berusaha, terang Rido, lebih banyak soal material pasir yang terkadang sulit diperoleh yang kualitasnya bagus. Sementara harga pasir berkisar antara Rp350 ribu sampai Rp400 ribu untuk satu truk, tergantung kualitas.

“Saat awal usaha, pemerintah membantu mesin. Seterusnya kami tidak meminta bantuan pemerintah. Kami hanya minta pemerintah membantu soal pemasaran produk saja,” sebutnya.

Dalam sebulan, beber Rido, usahanya bisa mendapatkan penghasilan kotor sebulan Rp50 sampai Rp60 juta dan paling rendah Rp40 juta, kalau musim pembangunan proyek pemerintah dan perumahan sedang sepi.

“Harapan terbesar saya bisa membangun usaha sejenis. Semacam cabang di luar Kabupaten Sikka seperti di Kabupaten Flores Timur. Kami sedang merintis ke arah sana,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...