3 SMP di Bangkalan Belum Terapkan K-13

Ilustrasi - Dokumentasi CDN

BANGKALAN – Sebagian Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, belum menerapkan kurikulum 13 (K-13). Sementara pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengharuskan penerapan kurikulum baru tersebut, mulai tahun ajaran 2018.

“Ada tiga SMP di Bangkalan ini yang belum menerapkan kurikulum 13 (K-13),” ujar Kasi Kurikulum SMP pada Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan Risman Iriyanto di Bangkalan, Jumat (7/9/2018).

Sekolah yang belum menerapkan K-13 ini adalah sekolah baru, dan datanya belum masuk ke Kemendikbud. SK sekolah pelaksana kurikulum 13, dikeluarkan oleh Kemendikbud. “Jadi SKnya bukan kita yang mengeluarkan tapi pemerintah pusat langsung melalui Kemendikbud,” tambah Risman.

Pelaksanaan Kurikulum 13, diawali dengan pelaksanaan diklat untuk guru-guru di sekolah tersebut. “Pelaksnaan Kurikulum 13 ini tidak main-main, kalau belum diklat guru-gurunya belum bisa melaksnakan kurikulum 13, dan yang melaksanakan diklatnya pemerintah pusat,” tambahnya.

Saat ini, ada 216 SMP di daerah tersebut, yang terdata telah menerapkan Kurikulum 13. “Untuk pelaksana kurikulum 13 ini ada kuota duluan dari pemerintah pusat, nanti sekolah yang belum menerapkan kurikulum 13 kita data dulu dan data itu kita sampaikan ke pusat. Nantinya, pusat memberikan data susulan,” katanya, menjelaskan.

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum tebaru yang diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di Indonesia. Kurikulum ini bertujuan memberikan ilmu pengetahuan secara utuh kepada siswa dan tidak terpecah-pecah. Kurikulum ini menekankan pada keaktifan siswa untuk menemukan konsep pelajaran dengan guru berperan sebagai fasilitator.

Alasan yang mendasari pemerintah mengembangkan dan melaksanakan kurikulum terbaru ini adalah, untuk menghadapi persaingan global yang semakin maju. Pendidikan di Indonesia dinilai cukup terbelakang dibandingkan dengan negara lain. Data Kemendikbud di 2011, peringkat pendidikan di Indonesia berada di bawah Thailand dan Malaysia.

Menghadapi globalisasi yang semakin membumi, pemerintah mengembangkan kurikulum baru, dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan menciptakan kualitas penerus bangsa yang bermutu. Antara lain berupaya menciptakan lulusan yang memiliki kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis dan jernih, memiliki kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, bertanggung jawab, dan memiliki kemampuan mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda.

Serta menciptakan lulusan yang memiliki kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal, dan mampu menciptakan lulusan yang memiliki minat luas dalam kehidupan, memiliki kesiapan untuk bekerja, dan memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat atau minat. Di samping itu, kurikulum 13 ini juga berupaya untuk menciptakan lulusan yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. (Ant)

Lihat juga...