500 Unit Pesawat N219 Sudah Dipesan

175
Pesawat N 219 - Foto Dokumentasi CDN

JAKARTA – Sebanyak 500 unit pesawat Nurtanio N219, dipesan untuk proyeksi 10 tahun ke depan. Tercatat, saat ini pesawat Nurtanio N219 belum mendapatkan sertifikasi dan belum diproduksi.

“Permintaan sudah 110 pesawat, jadi kalau mau lihat pasar dalam negeri, riset pasar kami untuk kebutuhan 10 tahun ke depan sebanyak 235 pesawat, dan untuk luar negeri sekitar 300 pesawat, jadi hampir 500 pesawat yang bisa diisi N219,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (DI), Elfin Guntoro, di sela-sela acara International Society of Air Safety Investigators VI 2018 di Jakarta, Selasa (25/9/2018).

Elfin mengatakan, saat ini pesawat Nurtanio N219, masih dalam proses sertifikasi. Diharapkan tahun depan, prosesnya sudah selesai dan bisa memulai proses produksi. “Kami juga sudah melakukan penerbangan dalam rangka time certification, dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, dan kita sudah tahap ke tahap B, mudah-mudahan time certification ini bisa diselesaikan tahun depan,” tambahnya.

Untuk tahap awal pengoperasian, akan dipakai untuk kebutuhan domestik terlebih dahulu. Utamanya, untuk memenuhi kebutuhan daerah terluar, terdepan dan terpencil (3T), yang memiliki kapasitas landasannya (air strip) terbatas, di kisaran 400 hingga 450 meter. “Pesawat ini bisa mendarat dan tinggal landas di landasan pacu 400-450 meter dan tanpa aspal bisa asal tanah rata dan keras,” tandasnya.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan, pesawat N219 bisa digunakan di daerah-daerah 3T. Baik  untuk menghubungkan orang maupun barang. “Kami memang memikirkan bagaimana N219 bisa digunakan secara masif di daerah-daerah yang tidak mudah dicapai, tapi kami harus menyediakan barang dan mengoneksikan orang-orang yang bertempat tinggal di sana,” katanya.

Karena itu, Menhub meminta, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan PT DI untuk berkolaborasi menciptakan produk unggulan. Bahkan, dimintanya, agar memasukan komponen lokal dalam pembuatan pesawat N219 bisa mencapai 50 persen. Terkait sertifikasi, Budi akan meminta Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk segera memfinalisasinya. “Saya minta Dirjen Udara agar cair jadi sertifikat karena ini produk bersama, dari awal saya sudah minta finalisasi,” pungkasnya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...