71 WNA Terdampak Gempa di Donggala-Palu dalam Proses Evakuasi

Editor: Koko Triarko

192
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho -Foto: M Hajoran
JAKARTA — Hingga hari kedua pascagempa bumi dan tsunami yang menerjang Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, penanganan dan evakuasi terus diintensifkan. Termasuk mencari dan mengevakuasi 71 warga negara asing (WNA) yang terdampak.
“Penanganan dan evakuasi warga negara asing akibat bencana di Palu dan Donggala, terus dilakukan. Penanganan ini dikoordinir oleh Kementerian Luar Negeri (Kemenlu),” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, di Gedung BNPB, Jakarta, Minggu (30/9/2018).
Berdasarkan data yang diperoleh BNPB, kata Sutopo, 71 WNA tersebut adalah 1 orang WNA asal Singapura, saat ini sudah dievakuasi ke Jakarta, 1 orang WNA asal Belgia, dan sudah dievakuasi ke Jakarta dan 1 orang WNA asal Korea Selatan, di mana saat ini kondisi belum diketahui, diduga posisi di Hotel Roa Roa di Palu yang runtuh karena gempa.
Sementara itu, 3 orang WNA asal Perancis, hingga saat ini kondisi belum diketahui, 1 orang WNA asal Malaysia, kondisinya juga belum diketahui dan 1 orang WNA asal Jerman di John Dive Resort Donggala, diperoleh informasi kondisi aman, 10 orang WNA asal Vietnam saat ini berada di posko Bandara Mutiara Palu, kondisi aman. Sedangkan 32 orang WNA asal Thailand di Palu, kondisi aman serta 21 orang WNA asal Tiongkok di Hotel Best Western Palu juga dalam kondisi aman.
Sementara itu, untuk penanganan darurat, pasokan BBM terbatas, dan menyebabkan genset tidak beroperasi, kendaraan tidak beroperasi, pompa air tidak jalan, komunikasi dan lain-lain.
Bukan hanya itu, lanjut Sutopo, Terminal BBM Donggala rusak, sehingga tidak dapat menyalurkan BBM dan akses jalan dari Terminal BBM Palu dan Sulbar rusak dan tertutup longsor, sehingga tidak dapat dilalui.
“Untuk mengatasi pasokan BBM, akan dilakukan melalui TBBM Poso, TBBM Moutong, TBBM Toli-Toli dan TBBM Pare-Pare, dan mempercepat pemulihan listrik. Ditargetkan tiga hari ke depan selesai, lima Gardu Induk padam
dan dua unit GI Pamona dan GI Posko yang menyuplai listrik daerah Tentena, Poso dan Kota Poso sudah diperbaiki,” ungkapnya.
Lebih jauh, Sutopo mengatakan, PLN mengerahkan 216 personel sebagai solusi jangka pendek untuk penerangan dan membawa delapan genset untuk disebar di Posko di Palu dan Donggala, untuk mempercepat pemulihan jaringan komunikasi.
Untuk daerah Toli-toli, Poso dan Luwuk, tambah Sutopo, sudah pulih, sedangkan Kota Palu masih belum pulih semuanya, dan Donggala masih putus total.
Up date kondisi saat ini, listrik PLN, PDAM, dan SPBU masih padam dan penduduk yang berada di bukit-bukit sudah mulai turun dan bergabung ke pos pengungsian. Sementara saat ini masih sering terjadi gempa susulan kecil, per 30 September 2018 pukul 12:00 WIB tercatat sebanyak 209 kalil,” sebutnya.
Sutopo juga mengatakan, banyak pasar dan toko masih tutup, jaringan pipa air bersih rusak, sehingga air bersih kebutuhan utama. Sementara jalur darat Palu-Poso dan Palu-Mamuju sudah bisa ditembus, meskipun muncul likuifaksi atau lumpur dari bawah tanah dan menghanyutkan bangunan, seperti di Sigi, jalan Dewi Sartika-Palu Selatan, Petobo, Biromaru, dan Sidera.
“Kebutuhan mendesak saat ini adalah BBM, solar, premium, air minum, tenaga medis, obat-obatan, rumah sakit lapangan, tenda, terpal, selimut, veltbed, water tank, bahan makanan, alat penerangan, genset, dapur umum, kantong mayat, kain kafan dan makanan bayi dan anak,” jelasnya.
Baca Juga
Lihat juga...