832 Orang Meninggal Akibat Gempa di Donggala-Palu

Editor: Koko Triarko

229
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho -Foto: M Hajoran
JAKARTA — Berdasar data yang diterima Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, sebanyak 832 orang, terdiri dari 821 orang di Palu dan 11 orang di Donggala. Korban meninggal dunia disebabkan oleh reruntuhan bangunan akibat gempa dan tsunami.
“Korban meninggal dunia segera dimakamkan secara layak, setelah dilakukan identifikasi melalui DVI, face recognition dan sidik jari. Data korban di DVI Polda Palu, dan hari ini korban mulai dimakamkan secara massal untuk menghindari timbulnya penyakit,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, saat jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta, Minggu (30/9/2018).
Untuk korban luka berat, kata Sutopo, berjumlah 540 orang yang saat ini dirawat di rumah sakit, dan pengungsi tercatat sebanyak 16.732 jiwa, yang tersebar di 24 titik. Diperkirakan, jumlah korban akan terus bertambah, karena masih banyak korban yang belum teridentifikasi. Korban diduga masih tertimbun bangunan runtuh, dan daerahnya belum terjangkau oleh Tim SAR.
Evakuasi, pencarian dan penyelamatan, sebut Sutopo, saat ini bantuan personel dan perlengkapan Tim SAR gabungan terus berdatangan dari Basarnas, TNI, Polri, Kementerian ESDM) sejak Sabtu (29/9) malam.
Tim Basarnas dan Tim SAR Gabungan melakukan pencarian korban di Kota Palu, di antaranya; Hotel Roa-Roa (diperkirakan terdapat 50-60 orang tertimbun, Mall Ramayana, Restaurant Dunia Baru, Pantai Talise, Perumahan Balaroa dan pencarian korban di puing-puing bangunan hancur.
“Hingga saat ini yang menjadi kendala, di antaranya listrik padam, akses komunikasi, alat berat terbatas, jumlah personel dan perlengkapan perlu ditambah, kondisi jalan rusak untuk mengirim alat berat dari luar Palu dan daerah yang terdampak, luas,” paparnya.
Sutopo juga menjelaskan, Gubernur Sulawesi Tengah telah menerapkan masa tanggap darurat bencana gempa bumi dan tsunami selama 14 hari (berlaku t.m.t 28/9/2018 hingga 11/10/2018). Gubernur Sulteng menunjuk Komandan Komando Resort Militer 132/Tadulako atau Korem 132/ Tadulako sebagai Komandan Tanggap Darurat Penanganan Bencana Gempabumi dan Tsunami di Sulawesi Tengah.
“Pos Komando (Posko) Tanggap Darurat Penanganan Bencana Gempabumi dan Tsunami di Sulawesi Tengah ditetapkan di Makorem 132/Tadulako Kota Palu. Daerah terdampak meliputi Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong. Mendagri telah mengirimkan surat kawat, agar kepala daerah setempat menetapkan masa tanggap darurat,” ungkapnya.
Lebih jauh, Sutopo mengatakan, hingga saat ini baru Kota Palu yang dapat diperoleh data dampak dan penanganan bencana. Sedangkan di Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong, belum ada laporan, karena listrik padam dan komunikasi putus.
“BNPB mendampingi (memperkuat) Pemda Provinsi dan Pemda Kabupaten/Kota dalam penanganan tanggap darurat, baik pendampingan pendanaan, teknis manajerial, logistik peralatan dan tertib administrasi. Sementara, TNI dan Polri memberikan dukungan penuh penanganan darurat dan unsur Pemerintah Pusat dari Kementerian/Lembaga akan terus membantu Pemda Sulawesi Tengah,” jelasnya.
Baca Juga
Lihat juga...