Air Terjun Lianiki, Potensial Jadi Destinasi Wisata Unggulan

Editor: Makmun Hidayat

154

MAUMERE — Eksotisme Air Terjun Lianiki, salah satu keindahan alam yang masih belum dijamah sebagai destinasi wisata unggulan daerah. Air terjun tersebut berada dalam gua di Desa Gera Kecamatan Mego Kabupaten Sikka.

“Pemerintah coba mengelola tempat wisata ini yang selama ini sudah sekitar 20 tahun mati suri dan tidak dikunjungi wisatawan. Dulu pernah banyak dikunjungi wisatawan asing sebelum tahun 1992 dan ada gempa serta tsunami,” sebut Bernadus Paro, warga Desa Gera, Minggu (16/9/2018).

Dikatakan Bernadus, air terjun ini tergolong unik sebab berada di dalam gua dan untuk mencapainya pengunjung harus berjalan dari mulut gua melintasi air setinggi pinggang orang dewasa dan menaiki tebing seperti tangga.

“Air terjunnya unik dan saat berada di dalamnya udaranya sangat sejuk sebab sinar matahari saat siang hari terhalang oleh tebing gua dan pepohonan di sekitarnya. Air Kali Tiwukopo yang mengalir di dalam gua tersebut pun sangat dingin,” sebutnya.

Keberadaan air terjun ini, tambah Bernadus, tidak diketahui oleh warga desa tetangga lainnya apalagi oleh pemerintah Kabupaten Sikka meski sudah satu dua kali diekspos di media massa.

“Bila ditata dan dikelola dengan baik, maka pasti banyak wisatawan yang datang berkunjung ke tempat ini. Pemerintah harus membuka akses jalan ke tempat ini agar memudahkan pengunjung yang datang mengendarai sepeda motor atau mobil,” ungkapnya.

Dominikus Yos, warga Desa Gera lainnya mengatakan, selama ini hampir tidak ada masyarakat sekitar apalagi wisatawan lokal yang datang ke lokasi air terjun ini, sebab tempatnya sangat terpencil dan jauh dari jalan raya utama menuju Desa Gera.

“Untuk sampai ke lokasi air terjun memang pengunjung harus berjalan kaki melewati kebun warga serta bisa juga menyusuri Kali Tiwukopo dari Desa Behera atau Lekebai di bagian bawah air terjun,” terangnya.

Dominikus Yos, warga Desa Gera Kecamatan Mego – Foto: Ebed de Rosary

Pemerintah pinta Yos, perlu membuka akses jalan meskipun hanya jalan setapak dan memberikan penyadaran kepada masyarakat agar mau merelakan tanahnya dilintasi oleh pengunjung untuk menuju lokasi air terjun.

“Yang harus dipikirkan juga soal tempat parkir dan keamanan kendaraan sebab pengunjung pasti memarkir kendaraannya di pinggi jalan raya utama, lalu berjalan kaki. Warga sekitar perlu dilatih dan diberikan pemahaman terlebih dahulu dengan melibatkan juga pihak desa,” pintanya.

Yos meyakini, bila obyek wisata ini dikelola dengan baik tentunya bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitar yang hidup dari hasil perkebuanan seperti kemiri, kopi dan kakao dimana masyarakat bisa menjual buah-buahan seperti pisang serta singkong.

Lokasi air terjun di Desa Gera ini berjarak sekitar 45 kilometer arah barat kota Maumere menuju kabupaten Ende dan setelah berada di pertigaan Wolodolo sebelum Lekebai pengunjung berbelok ke arah jalan menuju Desa Gera.

Pengunjung disarankan menggunakan sepeda motor bila hendak ke lokasi air terjun ini mengingat belum adanya areal parkir untuk mobil. Bla parkir di pinggir jalan maka akan menggangu kendaraan lainnya yang melintas.

Isi komentar yuk