AJI-DW Akademie Jerman Gelar Pelatihan Jurnalistik Keimanan

Editor: Koko Triarko

171
PALEMBANG – Aliansi Jurnalis Independen (AJI), bekerja sama dengan Deutsche Welle (DW) Akademie Jerman, kembali memberikan pelatihan jurnalistik keimanan dan media di Indonesia bagi jurnalis di Pulau Sumatra, yang dipusatkan di Kota Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel).
Pelatihan yang diikuti 25 jurnalis yang tersebar di Pulau Sumatra, berasal dari  Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Bengkulu, Jambi, Lampung, dan Palembang, mengusung tema “Keimanan dan Media: Sebuah Dialog Antar-Agama Bagi Jurnalis Indonesia”, membahas peran serta tanggung jawab jurnalis dan media untuk mengurangi ketegangan atas dasar perbedaan agama.
Pelatihan tersebut dilakukan oleh AJI dan DW Akademie, setelah melihat kondisi dalam beberapa tahun terakhir, yang dinilai berpotensi mengancam kehidupan bertoleransi dan harmonisasi sosial di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatra.
Sheila Mc Myrosekar, pelatih DW Akademie Jerman (kanan) memberi materi kepada peserta pelatihan [Foto: Henk Widi]
“Sejumlah ketegangan yang terjadi belakangan ini, mengancam reputasi Indonesia, sebagai negara dengan tingkat toleransi beragama dan keberagaman sosial yang tinggi,” kata pelatih yang juga Jurnalis DW, Ayu Purwaningsih, di Palembang, Sabtu (29/9/2018).
Menurut Ayu Purwaningsih, program yang didukung Kementerian Luar Negeri Jerman ini membekali peserta dengan pemahaman mengenai isu mendasar pluralisme di Indonesia. Selain itu, kondisi sosial dan politik terkini serta tantangan ekstremisme beragama menjelang pemilihan legislatif dan Pemilihan Presiden 2019.
Kemudian pemahaman kode etik dan standar profesionalisme untuk menghasilkan karya jurnalistik yang sensitif konflik dan tidak bias keagamaan. Para peserta juga dibekali pengetahuan mengenai kemampuan mencari fakta dan mengembangkan ide liputan bernas.
“Pelatihan ini juga merupakan kesempatan untuk menjalin hubungan jangka panjang antarjurnalis dari berbagai latar belakang agama,” terang Sheila Mc Myrosekar, pelatih DW Akademie Jerman.
Dalam program kerja sama peningkatan kemampuan dalam menjalankan tugas jurnalistik, terutama dalam mereportase atau meliput kasus-kasus sensitif terkait radikalisme, intoleransi dan sosial budaya.
Pelatihan serupa sudah pernah diselenggarakan di Pontianak, Kalimantan Barat (Barat) pada 22-24 September, dan menjadi bagian dari pasca-kegiatan Festival Media AJI 2018.
“Isu agama belakangan ini sangat santer, bahkan memicu perpecahan yang bukan saja di mana persoalan itu terjadi di ibu kota, melainkan dampaknya hingga ke daerah. Ini sangat berbahaya, dan ironisnya tidak jarang jurnalis dan media massa ikut terlibat langsung maupun tak langsung,” kata Ketua AJI Palembang, Ibrahim Arsyad.
Ia mengajak para jurnalis, terutama peserta latihan, khususnya, agar tidak mudah termakan informasi tanpa melalui proses verifikasi, konfirmasi atau kroscek, agar berita yang diproduksi tidak bias. Apalagi, memperkeruh suatu masalah yang mengakibatkan perpecahan antara masyarakat dalam kehidupan sosial.
“Melalui pelatihan ini, kita ingin agar ke depan jurnalis lebih cerdas dan dapat membedakan berita bohong atau hoaks dan disinformasi,” tegasnya.
Pelatihan selama tiga hari ini, memberikan kesempatan bagi peserta mengajukan proposal beasiswa peliputan. Setiap usulan kemudian dibahas melalui diskusi kelompok dan diikuti penguatan serta penajaman ide cerita, oleh seorang pelatih yang bertindak sebagai mentor di kelompok masing-masing.
Setelah proses pelatihan tersebut, selanjutnya di antara peserta pelatihan akan dipilih 10 jurnalis terbaik sesuai usulan liputan di wilayah masing-masing, dan diterbitkan di media tempat jurnalis bekerja.
Setelah digelar di dua kota (Pontianak dan Palembang), kegiatan ini akan berlangsung di Bandung (20-22 Oktober), Manado (26-28 Oktober), dan Ambon (2-4 November).
Sejumlah jurnalis dari Jambi, tiga jurnalis mendapat kesempatan mengikuti pelatihan yang dilatih oleh para pelatih internasional dan nasional, terkait tugas jurnalistik. Mereka adalah Muawwin dari Jambilink, Gresi Plasmanto dari Antara Jambi dan Jon Afrizal dari The Jakarta Post-kontributor Jambi.
Selain itu, peserta dari daerah lain, di antaranya Juita Filla S Manurung dari Medan, Faldy Lonardo dari Pelita Sumsel, Wirangga-Detik Sumsel, Yulia S Savitri-The Jakarta Post Palembang, Imelda Vinolia-Riau Online, Feny Selly Pratiwi-LKBN Antara Sumsel, Nefri Inge-Liputan 6, Yuliani-Sriwijaya Post, Nila Ertina Sumselnian, Uzair dari Aceh, Ricky Jenihansen dari Bengkulu, Febrianti-Tempo Sumbar, Gusti Putu Sumertayasa Sriwijaya-TV, Supardi-Tempo Palembang, Hendricus Widiantoro dari Cendana News, Paturrahman Radio Dakwah Palembang.
Peserta juga mendapat materi berupa teknik liputan di wilayah konflik dan perang yang disampaikan Sheila Mc Myrosekar, pelatih dari DW Akademie Jerman.
Kepada para peserta pelatihan, Sheila Mc Myrosekar meminta agar jurnalis yang bertugas di lokasi konflik, agar bisa membekali diri dengan standar keselamatan.
Penerapan kode etik jurnalistik selalu ditekankan untuk melindungi jurnalis dari berbagai persoalan yang dihadapi dalam setiap tugas jurnalistik.
Baca Juga
Lihat juga...