Akar Wangi, Tanaman Kaya Manfaat

Editor: Koko Triarko

158
LAMPUNG – Sejumlah warga di wilayah Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, dan Desa Totoharjo di Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, mulai memanfaatkan potensi lahan yang ada.
Loka Kusumawati, pengelola Inkra Garden, sebuah lokasi wisata berkonsep taman bunga di kaki Gunung Rajabasa, mengembangkan berbagai jenis bunga, tanaman obat serta tanaman akar wangi (Vetiveria zizaniode).
Berbagai jenis tanaman itu memiliki fungsi estetika taman, pengusir serangga, pencegah longsor dan berguna untuk bahan bangunan, kerajinan dan kesehatan.
Menurutnya, tanaman akar wangi yang dikembangkan masih ditanam sebagai penahan longsor pada lahan miring di Inkra Garden yang dikelolanya. Penanaman akar wangi dikombinasikan dengan tanaman serai, sengon, pule dan kelapa, pada bagian pembatas kebun.
Ia menyebut, akar tanaman tersebut bisa dipanen saat usia 9-12 bulan, namun bagian daun bisa dipanen usia 3 bulan sekali. Setelah dipangkas, daun akar wangi akan bersemi dan tumbuh kembali sekaligus mengurangi tingkat kerimbunan daun akar wangi.
Widya,warga Desa Totoharjo mengembangkan tanaman bunga untuk dijual sekaligus bahan makanan untuk budi daya lebah madu [Foto: Henk Widi]
“Penanaman akar wangi yang saya lakukan sementara digunakan untuk penghias taman, sekaligus penahan longsor, pengembangan skala besar akan dilakukan jika ada alat penyulingan serta ada penampungnya,” terang Loka Kusumawati, saat ditemui Cendana News, Senin (24/9/2018).
Meski belum akan melakukan pemanfaatan akar wangi untuk disuling, penggunaan adun akar wangi , sudah kerap dimanfaatkan untuk pembuatan atap. Daun akar wangi yang sudah dipangkas, dijemur hingga kering menyerupai alang-alang dan diikat dengan ukuran tertentu untuk dirangkai sebagai atap.
Atap dari daun akar wangi bisa digunakan untuk pembuatan atap saung bambu dan rumah pohon untuk lokasi wisata Inkra Garden.
Keberadaan tanaman akar wangi juga menjadi daya tarik untuk sejumlah hama tanaman, seperti belalang dan walang sangit. Pada rumpun tanaman akar wangi, kerap menjadi tempat berkumpulnya satwa jenis walang sangit yang berasal dari lahan pertanian padi.
Ia juga menyebut, tanaman akar wangi bisa difungsikan sebagai tanaman untuk pengendalian hama terpadu khusus untuk tanaman padi. Sebab, aroma yang disukai oleh walang sangit dan hama pengganggu tanaman menarik hama tinggal menetap di rumpun tanaman akar wangi.
Pengembangan akar wangi yang didatangkan dari Garut, Jawa Barat, itu, kata Loka Kusumawati, menjadi potensi yang menjanjikan. Bagian akar wangi bisa digunakan sebagai bahan kerajinan untuk membuat boneka serta berbagai aksesoris.
Di tempat budi daya akar wangi skala besar untuk diolah menjadi minyak akar wangi, Loka Kusumawati menyebut akar wangi kering bisa disuling dan menjadi minyak akar wangi bernilai tinggi.
Meski belum memanfaatkan akar wangi untuk kebutuhan yang lebih besar, penanaman akar wangi membantu mencegah longsor di lereng perbukitan. Tanaman akar wangi juga ditanam bersama sejumlah tanaman herbal yang dimanfaatkan untuk obat-obatan, di antaranya kunyit, jahe, serai serta berbagai jenis tanaman bunga.
Berbagai tanaman bunga tersebut, kata Loka Kusumawati, dipergunakan untuk pendukung budi daya lebah madu yang dilakukan di wilayah tersebut.
“Lokasi yang sejuk berada di lereng Gunung Rajabasa, membuat saya berusaha mengembangkan tanaman bunga, termasuk tanaman akar wangi,” beber Loka Kusumawati.
Loka Rahmawati mengaku mengembangkan berbagai tanaman bunga, karena selama ini bunga jenis anggrek, mawar, melati, aster, krisan, sedap malam didatangkan dari wilayah Gisting.
Keberadaan kebun bunga yang berpotensi untuk dijual sebagai bunga hias tersebut juga mulai dikembangkan oleh Widya, salah satu warga di Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni. Ia kerap menjual bunga hidup dengan menggunakan pot dan polybag.
Widya menyebut, kesukaan akan bunga membuatnya mendatangkan bibit dari wilayah Bogor. Kondisi cuaca yang mendukung membuatnya bisa mengembangkan berbagai jenis bunga hidup di kebun yang dimiliki.
Penanaman bunga sekaligus mendukung usaha sang suami yang memelihara lebah madu jenis tawon glodok dan lebah klanceng. Berbagai jenis bunga yang kerap dijual, di antaranya krisan, aster, mawar, kertas matahari, lengkap dengan polybag dan pot seharga Rp10.000 hingga Rp50.000.
“Potensi tanaman bunga yang cocok dengan iklim di dekat Gunung Rajabasa menjadi peluang ekonomi, selain menjadi petani pekebun coklat,” beber Widya.
Penanaman berbagai jenis bunga sekaligus tanaman akar wangi, juga diakui Widya selain bisa menghasilkan uang dari penjualannya, juga dari lebah madu. Penanaman bunga tersebut selain dilakukan secara mandiri, juga dilakukan atas dukungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kepada kelompok pemanfaat hasil hutan bukan kayu (HHBK).
Melalui penanaman bunga, warga terutama ibu rumah tangga, bisa menjual bunga dan bunga menjadi sumber pakan ternak lebah menjadi nilai tambah secara ekonomi.
Baca Juga
Lihat juga...