Amandus Ratason, Difabel yang Berjuang Pertahankan NKRI

Editor: Satmoko Budi Santoso

686

MAUMERE – Hampir semua warga Kabupaten Sikka mengenal sosok lelaki berperawakan sedang dan tidak terlalu tinggi yang bermukim di Kecamatan Kangae Kota Maumere. Dirinya terkenal vokal dan sering pula menjadi pembawa acara di berbagai kesempatan berkat kemampuan berkomunikasi.

“Saya melihat selama ini kaum difabel tidak pernah diperhatikan sehingga saya selalu berbicara dan berjuang agar kaum difabel diperhatikan pemerintah,” sebut Amandus Ratason, Kamis (20/9/2018), sore.

Selama ini kaum difabel, kata Amandus, tidak pernah diperhatikan dan saat-saat tertentu baru kaum disabilitas diperhatikan. Padahal pihaknya terus berjuang dan menyampaikan aspirasi agar tidak usah diperhatikan istimewa, tetapi paling tidak hak hidup kaum difabel diperhatikan seperti orang normal.

“Saya berjuang agar kaum difabel jangan disepelekan dan dianggap warga kelas dua. Meskipun saya bukan cacat sejak lahir, mengalami kecelakaan atau sakit, dan saya harus kehilangan sebelah tangan kiri saya dari siku ke bawah,” ungkapnya.

Berjuang Lewat Politik

Memperjuangkan kaum difabel agar mendapatkan kesetaraan hidup seperti warga negara lain yang normal merupakan kewajiban baginya. Sebab UUD 1945 pasal 31 dengan tegas mengatakan agar fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara.

“Fakir miskin dan anak terlantar saja dipelihara oleh negara sehingga kaum difabel pun harus diperhatikan pemerintah agar mereka bisa berusaha dan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Kaum difabel jangan sampai terpinggirkan,” tegasnya.

Untuk itu, kata Amandus, dirinya menerima tawaran bupati Sikka terpilih untuk memimpin Sikka tahun 2018 sampai 2023 Robertus Diogo Idong. Untuk bersama-sama berjuang agar bisa memperhatikan kaum difabel di Kabupaten Sikka.

“Saat Pak Robertus Diogo Idong mendekati saya dan mengatakan ingin jadi bupati Sikka, ada tiga permintaan saya kepadanya. Pertama saya meminta beliau agar tidak usah jadi bupati sebab tidak pernah menang,” sebutnya.

Permintaan kedua, kata Amandus, tim yang selama ini bersama Pak Robi diganti, sebab tidak pernah mengantar menjadi pemenang. Ketiga harus memperhatikan orang-orang berkebutuhan khusus bila sudah terpilih menjadi bupati Sikka. Akhirnya beliau terpilih.

“Kami mulai bekerja bulan April 2014 hingga pengumuman kemenangan 27 Juni 2018 lalu dan hari ini beliau dilantik menjadi bupati Sikka. Saya meminta agar disiapkan lahan seluas 2 hektar, di dalamnya dibangun fasilitas bagi kaum disabilitas,” ujarnya.

Bupati Sikka dan wakil bupati Sikka terpilih, tandas Amandus, menjanjikan akan menyiapkan lahan seluas 2 hektar yang nantinya di dalam areal tersebut disiapkan segala fasilitas bagi orang-orang berkebutuhan khusus.

“Saya juga maju mencalonkan diri menjadi anggota legislatif agar saat berada di gedung dewan bisa berjuang memperhatikan nasib kaum difabel di daerah ini. Saya maju menjadi calon anggota legislatif dengan mengusung motto perjuangan kita prestasi bangsa,” bebernya.

Mempertahankan Merah Putih

Berjuang untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indoensia (NKRI) dan Merah Putih bagi Amandus, merupakan harga mati. Dirinya sangat marah bila melihat orang lain ingin memecah belah bangsa dan tidak menghormati bendera Merah Putih.

“Saat saya ke kota Larantuka saya melihat saat apel bendera di sebuah sekolah, petugas pengerek bendera menaikkan bendera Merah Putih dalam posisi terbalik. Saya berhenti dan turun dari mobil lalu memukul kepala sekolah yang menjadi pembina upacara sampai saya harus dibawa ke kantor polisi,” kenangnya.

Menjadi salah seorang pejuang yang ingin mempertahankan Timor Timur ke dalam NKRI membuat dirinya harus kehilangan tangan akibat terkena sabetan parang dari para milisi yang mengeroyok dan juga teman-temannya.

“Saya bukan cacat karena sakit, sejak lahir ataukah mengalami kecelakaan, tetapi karena berjuang mempertahankan keutuhan bangsa dan Merah Putih di Timor Timur,” tegasnya.

NKRI harga mati, tandas Amandus, sebab semua temannya meninggal karena mempertahankan NKRI dan Merah Putih. Pemerintah melupakan orang-orang seperti mereka bahkan pemerintah seakan lupa dengan orang-orang yang berprestasi.

“Saya sendiri sudah pernah berjuang lewat lembaga-lembaga orang berkebutuhan khusus tetapi kenyataannya tidak pernah ada perubahan. Di sana kami hanya sebatas duduk berbicara dan kami dikasih uang,” paparnya.

Pada kenyataannya, pria yang selalu berapi-api dalam berbicara ini mengatakan, sejumlah lembaga kemasyarakat tersebut pernah menggunakan kaum disabilitas untuk dimanfaatkan supaya bisa mendapatkan dana dari donatur.

“Orang-orang berkebutuhan khusus yang pernah direkrut dan dibimbing oleh lembaga tersebut pada kenyataannya tidak ada perubahan sama sekali,” sebutnya.

Pengagum sosok Prabowo Subianto ini mengaku, sudah berteriak tentang difabel berulang kali bahkan membentuk kelompok Persatuan Penyandang Disabilitas Kabupaten Sikka (PPDKS) dan sudah menghadap DPRD Sikka untuk meminta dibuatkan peraturan daerah tentang difabel tetapi tidak ada yang peduli.

“Di ibukota provinsi saja kami sudah ke sana tetapi tetap saja tidak ada perubahan dan pemerintah serta DPRD sampai saat ini tetap tidak peduli. Bahkan LSM saja berbuat tetapi tidak ada perubahan bagi kaum difabel. Ini yang membuat saya keluar dari lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dan berjuang di luar meski sendirian,” sesalnya.

Pernah ada bantuan sepeda motor tiga roda dari LSM di Sikka untuk kaum difabel, beber Amandus, dan temannya sudah terdaftar. Tetapi ada anggota keluarga orang di LSM tersebut yang membutuhkan, maka nama temannya dicoret dari daftar bantuan tersebut, diberikan kepada kerabatnya, orang LSM tersebut.

“Ini perilaku yang tidak terpuji dan sangat melecehkan harkat dan martabat kaum difabel. Semoga saja perjuangan kaum difabel untuk menuntut kesetaraan bisa terwujud,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...