Anak-anak Titipan Perang, Unjuk Kebolehan Karya Seni

Editor: Satmoko Budi Santoso

208

JAKARTA – Keamanan termasuk salah satu kebutuhan hidup manusia untuk nyaman bertempat tinggal. Hal tersebut membuat sebagian orang yang di negaranya tidak aman mengirim anak-anak mereka ke negara lain yang dianggap lebih aman.

Berangkat dari fenomena ini, Galeri Nasional Indonesia kerja sama dengan Yayasan Kawula Madani dan Art For Refuge menggelar pameran Berdiam/Bertandang: An Exhibition by Art For Refuge di Galeri Nasional Indonesia, yang berlangsung 20-27 September 2018. Pameran ini untuk memberi ruang menunjukkan kebolehan dalam berkarya kesenian, baik seni lukisan maupun seni fotografi.

“Konsep pameran ini kita mendukung anak-anak refuge, yaitu anak-anak titipan perang, di negaranya tidak aman dan mereka oleh orang tuanya dititipkan di Indonesia. Tapi di Indonesia tidak diperlakukan seperti layaknya anak-anak refuge karena mereka tidak bisa bekerja atau tidak bisa sekolah,“ kata Ken Mahendra, volunteer pameran Berdiam/Bertandang: An Exibition by Art For Refuge di Galeri Nasional Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (26/9/2018).

Ken Mahendra, volunteer pameran Berdiam Bertandang An Exibition by Art For Refuge (Foto Akhmad Sekhu)

Mahendra membeberkan, melalui gerakan karya seni, ingin menyadarkan masyarakat sekitar bahwa anak-anak refuge itu ada.

“Mereka bukan orang yang tidak punya, tapi sebagian dari mereka punya kelimpahan harta sehingga mereka membayar ratusan juta untuk tinggal di Indonesia. Tapi mereka tidak mendapat apa-apa di Indonesia,“ tegasnya.

Anak-anak refuge, kata Mahendra, seperti di antaranya ada yang dari Afghanistan, Pakistan, Rohingya, dan lain-lain.

“Pameran ini terbagi dalam tiga ruang, yaitu ruang satu berisi artis-artis. Ruang dua, guru dan ruang kelasnya. Terakhir, ruang tiga, yaitu berisi karya anak-anak refuge yang masih kecil-kecil, “

Menurut Mahendra, anak-anak refuge yang berkarya di pameran ini sekitar 50 anak.

“Mereka sekolah di Roshan Learning Center di daerah Mampang,“ ungkapnya.

Pameran ini menjadi ajang anak-anak refuge untuk unjuk kemampuan dalam berkarya kesenian.

“Karena pelajaran di tempat mereka lebih banyak materinya matematika dan sains,“ paparnya.

Mahendra menilai, sambutan masyarakat begitu antusias mengapresiasi pameran ini.

“Terbukti pada saat pembukaan pameran, pengunjung yang datang, terlebih pada waktu week end jumlahnya sekitar 1000-an orang. Bahkan banyak pejabat yang datang,“ ungkapnya.

Harapan Mahendra, pameran ini dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap anak-anak refuge.

“Hanya di Indonesia, negara yang tidak banyak tahu tentang anak-anak refuge, jadi pameran ini juga dimaksudkan untuk mengedukasi masyarakat mengenai anak-anak refuge,“ ujarnya.

Mahendra menyampaikan, selain pameran, juga disediakan booth untuk berbagai barang hasil karya anak-anak refuge.

“Hasil penjualannya untuk biaya pendidkan anak-anak refuge selama tinggal di Indonesia,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...