Angin Bertiup Kencang, Nelayan Selat Sunda Libur Melaut

Editor: Mahadeva WS

211

LAMPUNG – Angin kencang melanda wilayah perairan Selat Sunda, sejak Senin (3/9/2018) malam. Hingga Selasa (4/9/2018) angin masih berhembus kencang di wilayah tersebut. Kondisi tersebut mulai berdampak bagi nelayan tangkap yang ada di wilayah Ketapang dan Bakauheni.

Safri (35), salah satu nelayan tangkap dengan bagan congkel di dermaga Muara Piluk menyebut, mulai berhenti melaut sejak tiga hari terakhir. Dia menyebut, selama dua hari angin berhembus kencang, membuat puluhan nelayan memilih tidak melaut. Bahkan, nelayan memilih menyandarkan perahu dengan jarak berjauhan dengan perahu lain, menghindari terjadinya benturan antar perahu yang bisa berakibat pada kerusakan. Angin yang berhembus kencang disebutnya, bisa mengakibatkan tali tambat kapal putus.

Masa istirahat diisi nelayan dengan membersihkan perahu, serta melakukan perawatan bagian mesin genset penyala lampu bagan congkel. “Nelayan yang sandar di dermaga Muara Piluk memilih istirahat akibat gelombang tinggi, demi faktor keselamatan. Angin kencang masih berlangsung hingga sore hari,” terang Safri saat ditemui Cendana News, Selasa (4/9/2018).

Anggota Koperasi Perikanan Bina Usaha Mandiri (BUM) tersebut mengatakan, selama angin bertiup kencang, nelayan sulit mendapatkan ikan. Ikan yang kerap ditangkap diantaranya ikan selar, ikan teri jengki, ikan teri nasi. Saat kondisi cuaca baik, harga teri jengki bisa mencapai Rp180.000, dalam kondisi cuaca buruk harganya bisa mencapai Rp200.000. Harga tersebut untuk teri perkeranjang, berisi 15 kilogram.

Selain mendapat himbauan dari Dinas Perikanan, Kepolisian Air, nelayan juga mendapat himbauan dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Bakauheni. Informasi kondisi perairan Selat Sunda juga disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Maritim Lampung.

Informasi BMKG Stasiun Maritim Lampung menyebut, kondisi cuaca di perairan Selat Sunda tidak bersahabat. Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, gelombang rata-rata mencapai ketinggian 0,25 meter hingga 1,25 meter. Perairan Selat Sunda bagian Utara, arah angin bertiup dari timur ke selatan, dengan kecepatan 6-28 knot.

Selat Sunda Bagian Selatan, angin berhembus dari timur ke selatan, dengan  kecepatan 7-34 knot. Perairan Barat Lampung kecepatan angin 6-28 knot. “Saat ini informasi prakiraan cuaca bisa dipantau melalui internet melalui android dari prakiraan cuaca BMKG maritim Lampung,” beber Safri.

Kondisi angin yang bertiup kencang juga masih dirasakan warga di Kampung Sukamaju, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, Pulau Rimau Balak. Husin (40), salah satu warga sekaligus nelayan di kampung Sukamaju menyebut, Dia kerap mencari ikan di wilayah Pulau Kandang Lunik, Pulau Kandang Balak.

Husin, yang menyeberang dari Pulau Rimau Balak ke dermaga Muara Piluk menyebut, dampak dari angin kencang, membuat perahu transportasi terganggu. Sejumlah warga yang akan melakukan perjalanan dari Pulau Rimau Balak terpaksa menunda keinginannya. “Kondisi perairan memang tidak bersahabat kalau tidak terpaksa akan membeli kebutuhan pokok,” beber Husin.

Baca Juga
Lihat juga...