Angin Kencang Landa Selat Sunda, Nelayan Istirahat Melaut

Editor: Satmoko Budi Santoso

144

LAMPUNG – Sejumlah nelayan tradisional di wilayah pesisir Rajabasa, Ketapang dan Bakauheni memilih istirahat akibat angin kencang.

Hasan, salah satu nelayan di dermaga bom Kalianda Lampung Selatan menyebut, angin kencang melanda sejak tiga hari terakhir. Sesuai dengan informasi dari Stasiun Meteorologi Maritim Lampung, kecepatan angin mencapai 20 knots di wilayah perairan Lampung. Pemilik kapal tradisional jenis bagan congkel mini itu tidak melaut dengan alasan faktor keamanan.

Hasan bersama sejumlah nelayan lain di dermaga Bom Kalianda menyebut, hanya sejumlah nelayan dengan kapal berkapasitas 25 hingga 30 gross ton yang masih beroperasi. Sebagai pemilik kapal dengan kapasitas 15 GT tersebut, ia bahkan menyebut, memilih memperbaiki peralatan tangkap ikan.

Opung, salah satu nelayan tangkap pancing rawe dasar menggunakan perahu kasko melakukan perbaikan pancing selama cuaca angin kencang [Foto: Henk Widi]
Sejumlah nelayan di antaranya memperbaiki mesin kapal, jaring serta pancing rawe dasar menunggu kondisi cuaca membaik.

“Kondisi cuaca perairan sedang, angin Selatan yang cukup kencang berimbas gelombang tinggi sehingga nelayan memilih istirahat. Menghindari risiko kecelakaan di laut dan hasil tangkapan kurang maksimal jika cuaca tidak bersahabat,” terang Hasan, salah satu nelayan bagan congkel di dermaga bom Kalianda, saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (14/9/2018).

Selain kapal bagan congkel, sejumlah nelayan kapal jenis kasko kerap menangkap ikan dengan menggunakan pancing rawe dasar. Sejumlah nelayan jenis kasko bahkan sebagian memanfaatkan cuaca tak bersahabat dengan melakukan proses docking atau perbaikan perahu.

Angin Selatan disebut Hasan membuat nelayan yang kerap melaut di dekat pulau Sebesi dan pulau Sebuku tidak bisa mencari ikan.

Kondisi angin kencang di perairan Selat Sunda juga berdampak bagi nelayan di dermaga Muara Piluk Bakauheni. Nelayan bagan congkel yang kerap berangkat melaut sekitar pukul 16.00 tidak melakukan aktivitas melaut.

Sejumlah nelayan bagan congkel bahkan melakukan pemasangan bambu anjungan waring. Pemasangan bambu dilakukan mengisi waktu tidak melaut akibat kondisi cuaca angin kencang.

“Nelayan banyak tidak berangkat melaut terutama nelayan bagan congkel. Namun yang nekat melaut tetap berlindung di sejumlah pulau kecil,” terang Opung, salah satu nelayan di dermaga Muara Piluk.

Nelayan bagan congkel di dermaga Muara Piluk tidak melaut akibat kondisi angin kencang dan gelombang tinggi [Foto:Henk Widi]
Opung menyebut, normalnya jelang senja kapal bagan congkel sudah berangkat. Namun jelang sore sejumlah kapal masih sandar di dermaga. Sejumlah kapal kasko di Muara Piluk, menurut opung, saat kondisi cuaca bersahabat bisa memperoleh tangkapan ikan sekitar 30 hingga 50 kilogram.

Namun akibat kondisi cuaca, sejumlah nelayan kasko yang nekat melaut masih bisa menangkap ikan sebanyak 10 kilogram. Ikan yang diperoleh di antaranya ikan Simba, Kerapu Melodi, Lapeh, Kuniran, Tambak, Tengkurungan.

Opung yang kerap mencari ikan di sekitar pulau Kandang Balak, Kandang Lunik dan pulau Harimau memilih memperbaiki pancing rawe dasar. Pancing rawe dasar dalam satu rangkaian berjumlah sekitar 500 hingga 1500 mata pancing.

Kondisi cuaca buruk membuat ia mempergunakan waktu untuk memperbaiki pancing yang putus akibat arus dan tersangkut karang. Kondisi cuaca yang kerap semakin buruk jelang sore  membuat nelayan memilih tidak melaut.

Opung yang kerap memantau kondisi cuaca menyebut, nelayan sudah terbiasa melihat cuaca yang mendukung untuk mencari ikan atau tidak. Meski demikian, ia kerap mengakses informasi prakiraan cuaca di perairan Selat Sunda dari laman resmi Stasiun Meteorologi Maritim Lampung.

Peringatan cuaca di Selat Sunda untuk mewaspadai gelombang setinggi 3 meter di wilayah Samudera Hindia Barat Lampung, perairan Barat Lampung dan Selat Sunda bagian Selatan dengan kecepatan angin 20 hingga 22 knots.

KMP Dorothy salah satu kapal penyeberangan di Selat Sunda masih beroperasi tanpa terpengaruh angin kencang [Foto: Henk Widi]
Meski kondisi cuaca dominan angin kencang dan gelombang tinggi, arus penyeberangan kapal roll on roll off (Roro) di pelabuhan Bakauheni ke Merak masih berlangsung normal. Sejumlah kapal terlihat masih melakukan aktivitas dari sejumlah dermaga di pelabuhan Bakauheni. Meski harus mengalami kesulitan olah gerak kapal akibat angin kencang.

Lihat juga...

Isi komentar yuk