Asuransi Peternakan Mulai Diminati di Lamsel

Editor: Koko Triarko

382
LAMPUNG — Musim kemarau dengan sulitnya mencari pakan bagi ternak, sekaligus sulitnya air untuk pengairan lahan pertanian, membuat program asuransi peternakan mulai diminati. Salah satunya , asuransi usaha ternak sapi (AUTS).
Muhammad Nur, petugas Unit Pelaksana Teknik Pos Kesehatan Hewan (Poskeswan)  wilayah Penengahan Bakauheni, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lampung Selatan, menyebut, AUTS sudah ditawarkan ke sejumlah petani pemilik ternak.
Muhammad Nur yang berkeliling bersama satuan tugas (Satgas) penanggulangan rabies pada hewan pembawa rabies (HPR), sekaligus melakukan pendataan pemilik ternak. Pendataan tersebut melibatkan sejumlah Kelompok Tani (Poktan) yang sebagian besar anggotanya memiliki ternak kerbau, sapi dan kambing.
Sejauh ini, ia menyebut asuransi masih menyasar pemilik ternak sapi betina dengan premi Rp40.000 per ekor, dengan nilai pertanggungan seekor sapi sebesar Rp10juta.
Muhammad Nur (baju biru) menawarkan program AUTS dan AUTK bagi petani pemilik ternak di Penengahan minimalisir kerugian [Foto: Henk Widi]
“Sosialisasi kepada sejumlah Poktan dilakukan untuk menjelaskan persyaratan, sekaligus cara mengurus klaim asuransi usaha ternak sapi, agar peternak yang merugi akibat sapinya mati bisa mendapatkan pertanggungan,” terang Muhammad Nur, saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (17/9/2018).
Ia menjelaskan, program tersebut merupakan kerja sama antara Kementerian Pertanian dan PT.Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau Asuransi Jasindo. Melalui asuransi usaha ternak sapi, pemilik ternak sapi yang memiliki sapi betina dan memiliki polus AUTS, bisa menjamin risiko kematian akibat sakit, kecelakaan, melahirkan dan pencurian terhadap sapi yang didaftar dalam polis AUTS.
Ia mengatakan, prosedur pendaftaran cukup mudah, karena peternak akan mengisi formulir pendaftaran dan uang pembayaran bisa langsung dikirim ke asuransi Jasindo.
Muhammad Nur menyebut, nilai pertanggungan seekor sapi sebesar Rp10 juta tersebut diperoleh peternak dengan premi swadaya sebesar 20 persen, atau senilai Rp40.000 per ekor. Sisanya, premi dibayarkan oleh Kementerian Pertanian dengan premi subsidi sebesar 80 persen tau senilai Rp160.000.
Untuk memudahkan proses pendaftaran, ia sudah berkoordinasi dengan Poktan yang ada di wilayah tersebut. Sebab, seperti umumnya petani di wilayah pedesaan, rata rata sekaligus memiliki ternak sapi, kerbau dan kambing
“Petugas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan hanya menawarkan program asuransi tersebut tanpa dipungut biaya, tujuannya agar petani terhindar dari risiko kerugian saat memelihara sapi,” beber Muhammad Nur.
Ia juga menyebut, selain program AUTS asuransi juga diberikan kepada sejumlah pemilik kerbau melalui asuransi usaha ternak kerbau (AUTK). Jumlah premi yang dibayarkan oleh peternak kerbau betina, sama dengan sapi betina, yaitu senilai Rp40.000. Sebab, sisanya sebesar Rp160.000 mendapat subsidi dari Kementerian Pertanian.
Melalui subsidi asuransi tersebut, diharapkan bisa menarik para peternak agar memperbanyak ternak sapi dan kerbau betina.
Jumino, salah satu peternak kerbau di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, mengaku pernah memiliki satu ekor kerbau yang mati pada 2016. Kerbau miliknya mati sesudah melahirkan, sehingga dirinya mulai tertarik mengikuti AUTK, untuk menghindari kerugian akibat kematian ternak.
Pembayaran premi AUTK diakuinya sudah dibayarkan dengan proses yang cukup mudah, meski ia berharap tidak  akan mengalami kematian kerbau yang dipeliharanya.
“Kalau harapan saya, jangan sampai ada yang mati lagi, namun karena saya memiliki empat ekor kerbau betina dan dua jantan, maka harus ikut asuransi,” beber Jumino.
Empat ekor kerbau betina miliknya, sebut Jumino, diikutkan asuransi AUTK dengan premi Rp160.000. Selain menghindari risiko akibat kematian, juga untuk menghindari risiko kehilangan akibat pencurian.
Sebagai upaya mencegah pencurian kerbau miliknya, ia bahkan memelihara anjing penjaga yang seluruhnya mendapat suntik vaksin anti rabies (VAR) pada bulan bhakti anti rabies pada September ini.
Berbeda dengan Solihin, peternak sapi di desa Kelaten, kecamatan Penengahan, yang mengaku masih belum mengikuti program AUTS. Selain belum mengetahui prosedur pembayaran premi, ia mengaku belum mendapat informasi adanya AUTS tersebut.
Meski demikian, ia menyebut dengan memiliki empat ekor sapi tiga di antaranya betina dan satu ekor jantan. sangat tepat mengikuti program asuransi.
“Segera ikut asuransi usaha ternak sapi betina, agar tidak rugi kalau sedang tertimpa musibah kehilangan bahkan mati,” terang Solihin.
Solihin menyebut, saat musim kemarau, risiko kematian sapi sangat tinggi imbas dari sulitnya mencari pakan. Namun, katanya, risiko paling rentan akibat pencurian, sebab kondisi musim kemarau membuat sejumlah petani mengalami kerugian akibat pencurian.
Kriminalitas pencurian sapi diakuinya seiring dengan berkurangnya lapangan pekerjaan akibat sejumlah lahan pertanian yang tidak panen dampak kemarau. Pencurian ternak sapi, bahkan terjadi di wilayah kecamatan Sragi dan Sidomulyo, dengan modus hanya menyisakan kerangka dan hanya diambil bagian daging oleh pencuri setelah disembelih.
Baca Juga
Lihat juga...