Atasi Kekeringan, Pakar UGM Ajak Panen Air Hujan

Editor: Satmoko Budi Santoso

194

YOGYAKARTA – Pakar Hidrologi Fakultas Teknik UGM, Dr. Agus Maryono, mendorong masyarakat membudayakan memanen air hujan untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang terjadi saat musim kemarau panjang tiba.

Memanen air hujan dikatakan akan dapat meminimalisir dampak kekeringan karena air hujan saat musim penghujan terkelola dengan baik.

“Kita seharusnya selalu waspada menghadapi kekeringan, layaknya mengantisipasi bahaya banjir. Apalagi diprediksi badai elnino akan terjadi menjelang akhir tahun sehingga sebagian daerah akan terjadi kemarau panjang,” kata Agus di UGM.

Menurut Agus, memaksimalkan air hujan dapat dilakukan dengan cara membuat bak penampung atau menyalurkan ke dalam sumur. Yakni saat musim hujan berlangsung kurang lebih selama 4-6 bulan.

Menampung air hujan, dikatakan sangat bagus untuk mengurangi ketergantungan penduduk terhadap PDAM. Panen hujan bagi warga yang memiliki sumur bisa dilakukan dengan mengalirkan air hujan dari atap melalui pipa air menuju sumur.

Apabila tidak memiliki sumur bisa dilakukan dengan menggunakan bak penampung. Sedangkan untuk menyaring air hujan dari kotoran debu di atap bisa digunakan penyaring sederhana seperti bahan kain dan kaos.

“Kebiasaan ini tidak dilakukan oleh masyarakat karena memang kita tidak terbiasa melakukan hal tersebut sehingga saat musim kemarau datang banyak daerah yang kekurangan sumber air. Padahal dahulu masyrakat sangat akrab dengan mengelola air hujan. Namun sekarang sudah diserahkan ke urusan teknis, menyerahkankan ke PDAM atau bagian irigasi untuk pertanian,” katanya.

Dikatakan Agus, untuk daerah pertanian, misalnya, seharusnya petani terbiasa membuat kolam ikan di persawahan dengan menggunakan air hujan. Saat musim kemarau datang sisa air kolam masih merembes di sekitar persawahan. Termasuk juga di sektor perikanan.

Agus juga mengajak masyarakat agar terbiasa mencari sumber mata air bahkan mengelola sumur tua yang sudah lama tidak terpakai untuk dikelola, agar bisa menampung air hujan. Menurutnya, keperluan tersebut sangat penting untuk menampung air hujan dan bisa digunakan saat musim kemarau sudah tiba.

Menjawab pertanyaan apakah air hujan layak dikonsumsi, menurutnya air hujan di Indonesia masih layak untuk dikonsumsi. Ia sudah melakukan penelitian hingga 20-an kali soal tingkat keasaman air hujan di berbagai daerah di Indonesia seperti di Yogyakarta, Bali, Bogor dan Jakarta.

“Dari hasil temuan tersebut, rata-rata tingkat derajat keasaman (pH) air hujan mencapai 7,2 hingga 7,4. Sehingga layak untuk dikonsumsi, namun untuk air hujan pertama hingga ketiga sebaiknya jangan dulu dikonsumsi. Namun digunakan untuk keperluan lainnya karena masih berisi debu dan polusi lainnya,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...