Awang Sebut Kaltim Bukan Penyumbang Asap Karhutla

Editor: Makmun Hidayat

175
Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak - Foto: Ferry Cahyanti

BALIKPAPAN — Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak, menegaskan daerahnya bukan penyumbang asap kebakaran hutan dan lahan atas persoalan asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang sempat menjadi masalah serius nasional.

Hal itu ditegaskannya karena beberapa tahun terakhir ini Kaltim tidak menyumbang asap lagi ke negara tetangga Malaysia dan kondisi tersebut harus dipertahankan.

Menurut Awang, lahan gambut yang berpotensi terjadinya kebakaran lahan sangat minim ada di Kalimantan Timur. Karena kondisinya berbeda dengan provinsi Kalimantan Tengah, kalimantan Selatan dan Riau yang memiliki lahan gambut yang luas.

“Kaltim sangat bersyukur selama beberapa tahun ini Kaltim tidak menyumbang asap lagi ke negara tetangga Malaysia dan ini harus tetap dipertahankan. Persoalan kebakaran lahan ini tetap menjadi perhatian serius meski sudah diyakini tidak menyumbang asap,” ucapnya Senin, (10/9/2018).

Kendati Kaltim tidak menyumbang asap pada musim kemarau ini, pihaknya minta tetap waspada terhadap kebakaran hutan dan lahan karena kaltim punya banyak perkebunan. Untuk itu, Awang mengharapkan kepala daerah Kabupaten dan Kota untuk terus melakukan sosialisasi untuk mengingatkan kesadaran semua pihak dalam menjaga dan melestarikan hutan.

“Kita tetap mengingatkan semua pemilik perkebunan maupun sektor pemanfaatan hutan dan hasil hutan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait terus memastikan tidak ada pemanfaatan hutan dengan cara dibakar,” tandasnya.

Tidak hanya itu, Pemprov Kaltim juga siap memberikan tindakan tegas bagi perusahaan yang melanggar aturan. Bagi mereka yang sengaja mambuka lahan dengan membakar, maka sanksi akan diberikan kepada mereka.

Sementara itu, Polda Kaltim menegaskan akan menindak tegas bagi pelaku yang terbukti melakukan pembakaran hutan maupun lahan.

Kapolda Kaltim, Irjen Pol Priyo Widiyanto, menyebutkan kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi disebabkan karena faktor manusia yang dengan sengaja membakar hutan dan lahan untuk perkebunan maupun laha untuk ladang baru.

“Pelaku ingin jalan pintas untuk pembukaan lahan perkebunan atau lainnya dengan mengambil jalan pintas dengan melakukan pembakaran karena selain murah, juga cepat dalam menyiapkan lahan,” sebutnya.

Ia menegaskan akan menindaktegas kepada pelaku yang sengaja melakukan pembakaran hutan sesuai dengan undang-undang yang berlaku. “Tindakkan tegas yang diberikan sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” imbuhnya.

Baca Juga
Lihat juga...