Badai Mangkhut Sebabkan Potensi Hujan Lebat di Indonesia

Editor: Koko Triarko

252
JAKARTA – Berakhirnya topan Mangkhut di beberapa daerah seputar Indonesia, seperti Philipina dan Hong Kong, disinyalir juga menimbulkan potensi hujan lebat di sejumlah wilayah di Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat, melalui Deputi Bidang Meteorologi, Mulyono R. Prabowo, menyatakan dengan adanya pola sirkulasi siklonik di sekitar Laut Cina Selatan, akan meningkatkan kelembaban udara basah di lapisan atmosfer pada ketinggian sekitar 1.500 dan 3.000 meter, serta belokan arah angin dan perlambatan kecepatan angin pada lapisan atmosfer bagian bawah, yang mengakibatkan pembentukan dan pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Kondisi dinamis atmosfer ini dinyatakan meningkatkan potensi hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang, dalam periode 20-22 September 2018, antara lain di Sumatra, DKI Jakarta, seluruh wilayah Pulau Jawa, Kalimantan bagian Barat, Tengah dan Utara serta Papua.
Sedangkan potensi gelombang tinggi 2,5 hingga 4,0 meter diperkirakan dapat terjadi di Perairan Barat Kepulauan Mentawai, Perairan Enggano – Bengkulu, Perairan Barat Lampung, Samudera Hindia Barat, Aceh hingga Lampung, Selat Sunda Bagian Selatan, Perairan Selatan Pulau Jawa hingga Pulau Sumbawa, Selat Bali – Lombok – Alas Bagian Selatan, Samudera Hindia Selatan Jawa hingga NTB.
Namun, apa sebenarnya badai Mangkhut ini?
Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Pusat Siswanto, M.Sc., menjelaskan, Mangkhut adalah badai yang bibit awalnya tumbuh di Samudera Pasifik barat sebelah timur Filipina utara Papua.
“Badai ini sangak kuat dengan skala intensitas mencapai hurrikan, dengan skala lima, yang sudah tumbuh menjadi badai  sejak pekan lalu,” kata Siswanto, kepada Cendana News, Jumat (21/9/2018).
Seperti yang diberitakan pada Jumat (14/9), super taifun Mangkhut mendekati Philipina.  Mangkhut terus bertahan dengan kecepatan angin rerata 267 km per jam, dan embusan angin 323-km/jam.
Mangkhut menerjang Luzon timur laut pada Sabtu pagi. Saat itu, Mangkhut berjarak 453 km di timur laut Manila, menuju barat-barat laut dengan kecepatan 29 km per jam. Setelah menerjang Philipina pada hari Sabtu dan menewaskan 66 orang,  badai lalu bergerak ke dataran Cina melewati Hongkong.
“Super Taifun Mangkhut disebut sebagai badai terkuat di dunia pada tahun ini, dua hari terakhir ini diprediksi melemah kekuatannya seiring pergerakannya menuju daratan Asia, dan akhirnya dinyatakan punah pada Kamis (20/9/2018),” kata Siswanto.
Menurut Siswanto,  umumnya jarang ada badai yang terbentuk di wilayah Indonesia.
Indonesia umumnya terdampak oleh pola cuaca yg ditimbulkan badai berupa konvergensi angin,  yaitu garis pertemuan dari dua massa udara yang bisa memicu tumbuhnya awan-awan hujan lebat atau juga bisa terdampak kering, karena massa udara tersedot sebagian besarnya ke pusat badai dan menimbulkan cuaca cerah.
“Namun di beberapa dekade terakhir ini, dan itu dipercaya sebagai dampak pemanasan global atau perubahan iklim, memicu peningkatan frekuensi  dan intensitas badai berskala kuat-sangat kuat, dan juga tempat tumbuh badai di perairan perairan yang tak biasa. Contohnya, Badai Cempaka dan Dahlia (2017) yang sangat dekat dengan pesisir selatan Jawa. Badai Kirilly (2009) pernah tumbuh dari Kepulauan Maluku. Badai Vamei (2001) yang melintasi Singapore dan Sumatra,” urai Siswanto.
Lalu, apa yang dapat membentuk siklon tropis di suatu perairan laut?
Siswanto menyatakan, siklon tropis dapat terjadi jika terjadi beberapa kondisi.
“Suhu permukaan laut sekurang-kurangnya 26.5°C hingga ke kedalaman 60 meter, kondisi atmosfer yang tidak stabil yang memungkinkan terbentuknya awan Cumulonimbus. Awan-awan ini yang merupakan awan-awan guntur, dan merupakan penanda wilayah konvektif kuat, adalah penting dalam perkembangan siklon tropis,” kata Siswanto, menjelaskan.
Kondisi berikutnya yang mampu menimbulkan siklon tropis adalah atmosfer yang relatif lembab di ketinggian sekitar lima kilometer. Ketinggian ini merupakan atmosfer paras menengah, yang bila dalam keadaan kering tidak dapat mendukung bagi perkembangan aktivitas badai guntur di dalam siklon.
“Berada pada jarak setidaknya sekitar 500 kilometer dari ekuator, adalah kondisi yang juga memicu siklon tropis. Tapi, meskipun memungkinkan, siklon jarang terbentuk di dekat ekuator. Gangguan atmosfer di dekat permukaan bumi berupa angin yang berpusar yang disertai dengan pumpunan atau konvergensi angin. Perubahan kondisi angin terhadap ketinggian tidak terlalu besar. Perubahan kondisi angin yang besar akan mengacaukan proses perkembangan badai guntur,” urai Siswanto.
Mengakhiri sesi wawancara, Siswanto menegaskan, bahwa informasi peringatan dini yang cepat, akurat, terdiseminasi dengan baik ke berbagai sektor, dipahami masyarakat dari Badan Otoritas Cuaca seperti BMKG, dapat mengurangi korban disebabkan kesiap-siagaan yang dilakukan sebelum bencana datang.
“Kerja sama antarlembaga pun mampu menjadi langkah yang akan mencegah korban jiwa maupun materi,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...