Balikpapan Bentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Stunting

Editor: Mahadeva WS

227

BALIKPAPAN – Pemerintah Kota Balikpapan, membentuk tim pencegahan dan penanganan stunting, untuk menanggulangi dan menekan kasus yang terjadi di daerah tersebut. Pembentukan tim dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Balikpapan.

Dinas Kesehatan Kota Balikpapan mencatat, jumlah anak yang terindikasi stunting di Balikpapan mencapai 30 persen atau sekira 14 ribu lebih anak. Stunting atau anak kerdil adalah, salah satu masalah kesehatan yang menjadi perhatian nasional. Saat ini telah terjadi peningkatan kasus hampir di seluruh Indonesia, termasuk di kota Balikpapan.

Berdasarkan survey pemantauan status gizi oleh Kementerian Kesehatan di 2017 lalu, jumlahnya mencapai 30 persen. “Walaupun survey ini dilakukan secara sampling, artinya bukan data riil. Tapi kita perlu waspada dan wajib melakukan pelacakan kasus gizi buruk secara serius, melalui kunjungan rumah, posyandu dan penjaringan anak sekolah,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Balerina JPP, di sela kegiatan Germas Pada Ibu Hamil dan Balita, Jumat (21/9/2018).

Stunting dapat mengganggu kecerdasan anak, sehingga mengancam sumber daya manusia di masa depan. Untuk itu, dengan tim yang dibentuk, seluruh Puskesmas melakukan kunjungan rumah, dan diharapkan petugas dapat menemukan kasus-kasus kurang gizi yang ada di masyarakat.

Sehingga dapat dilakukan penanganan secara terpadu, antara Puskesmas, Rumah Sakit dan Lintas Sektor. “Yang paling terpenting adalah melakukan upaya pencegahan agar tidak terjadi kasus gizi buruk hingga stunting,” tegas Balerina.

Upaya lain yang dilakukan adalah, Program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), yang diyakini dapat memperbaiki perilaku hidup sehat jika dilakukan terus menerus pada seluruh kehidupan termasuk pada ibu hamil. “Ibu hamil yang menerapkan Germas, tentu akan terhindar dari kemungkinan menderita kurang energi kronis atau Bumil KEK, sehingga bayinya pun akan sehat mencapai berat badan normal dan terhindar dari stunting,” tukasnya.

Ketua Tim Penggerak PKK Balikpapan, Arita Rizal Effendi mengungkapkan, saat ini perhatian pemerintah difokuskan pada upaya rehabilitasi kasus stunting yang terjadi. Dimana di Balikpapan berdasarkan survey, ada 30,3 persen anak yang terindikasi stunting. “Kita harus bersama-sama menemukan anak-anak yang terindikasi stunting, karena dari 14 ribu yang terindikasi baru ditemukan 600 anak,” sebutnya.

Ditargetkannya, Balikpapan harus bebas stunting di 2020. Hal itu diyakini dapat dicapat, jika dilakukan upaya penanganan sejak dini, mulai kunjungan ibu hamil dan pendidikan usia dini. Kemudian adanya pelaporan ke puskesmas terdekat, untuk memudahkan dan percepatan proses penanganan kasusnya.

“Harapannya, 2020 bisa membebaskan Balikpapan dari stunting. Secara bertahap di mulai 2018 sebanyak 20 persen merehabilitasi kasus, di 2019 sebesar 60 persen dan 20 persen di tahun 2020 bebas,” pungkas Arita Rizal Effendi.

Baca Juga
Lihat juga...